Saya begitu ingin menginstall ke harddisk supaya tidak perlu repot booting cd (yang saya duga penggunaan cd mendukung percepatan habisnya baterai laptop) dan bisa langsung berlama-lama main-main dengan hotspot-hotspot. Sedikit basa-basi, pada awalnya saya membuat partisi tersendiri untuk bt3 sebesar satu giga, dan itu benar-benar mengacaukan susunan partisi di harddisk macbook yang cuma 60GB ini. Saya mempelajari isi file menu.lst dari grub dan slax.cfg di cd distribusi slax. Ternyata bukan partisinya yang penting, tapi keberadaan file kernelnya (atau apa mungkin, saya nggak ngerti) yang biasanya bernama vmlinuz dan initrid. Kita harus mendefinisikan letaknya dengan benar dimanapun kumpulan file itu berada. Nah, anda perlu sebuah partisi ubuntu dengan space kosong lebih dari 1GB, karena backtrack menghabiskan seukuran 1 CD.
Anda install dulu ubuntu kalau belum install. Tidak mesti ubuntu sih, yang penting boot loadernya grub, kalo lilo saya agak bingung.
Selanjutnya, booting dengan cd backtrack, pada saat pemilihan mode boot, tekan tab untuk melihat cheatcode (parameter boot). Catat yang lengkap. Saya memilih yang BT3 Graphics Mode (KDE). Kalau anda suka fluxbox, pilih yang fluxbox.
/boot/vmlinuz vga=0x317 initrd=/boot/initrd.gz ramdisk_size=6666 root=/dev/ram0 rw autoexec=xconf;kde
Kalau sudah selesai dicatat, restart komputer dan masuk ke ubuntu.
Loginlah sebagai root agar lebih mudah, ketimbang melalui terminal. Copy isi cd backtrack 3 yaitu folder boot dan BT3 ke direktori root ( / ). Tabrakan dong dengan folder boot-nya ubuntu? Rename folder boot backtrack, misal btboot. Hmm, sekarang isi di bawah / jadi semakin kotor, tak apa. Apakah kita perlu menjalankan bootinst.sh di btboot tersebut sebagaimana menginstall ke flashdisk? Tidak perlu, karena itu tindakan bodoh dan akan menghapus MBR harddisk.
Sekarang, buka file /boot/grub/menu.lst, cari pada baris ini :
title Ubuntu 8.10 Intrepid Ibex, kernel 2.6.27-7-generic
uuid xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
kernel /boot/vmlinuz-2.6.27-7-generic root=xxxxxxxxxxxxxxxxxxx ro quiet splash
initrd /boot/initrd.img-2.6.27-7-generic
quiet
copy tulisan ini dan letakkan dua baris di bawahnya. Lalu ganti berdasarkan informasi dari boot parameter backtrack.
title Back|Track 3 Final [ ngoprek mode ]
kernel /btboot/vmlinuz root=/dev/ram0 ramdisk_size=6666 rw autoexec=xconf;kde
initrd /btboot/initrd.gz
tulisan xxx dst yang saya tulis itu sebenarnya kumpulan acak angka dan huruf sebagai identitas partisi. Anda bisa ganti dengan /dev/sda1 misalnya, dan menghapus baris uuid. Saya melihat bahwa parameter-parameter dikumpulkan di baris kernel, maka saya meletakkan parameter boot backtrack di baris yang sama. Anda lihat kan kesamaannya? vmlinuz-2.6.27-7generic milik ubuntu dan vmlinuz milik slax. Pasti itu sesuatu yang sama. Tulis sesuai letaknya, misal tadi di bawah folder btboot. Demikian juga pada file initrd, backtrack juga punya yang sama namanya. Saya tetap menulis ramdisk_size=6666 karena backtrack ini tetap akan jalan sebagai sebuah livecd.
Sekarang coba restart dan booting melalui pilihan baru tersebut. Anda akan mendapatkan sebuah backtrack live cd sedang berjalan tanpa cd. Kalau gagal misal kernel panic, jangan panik, mungkin anda salah mengetiknya, periksa kembali. Hal yang sama bisa dilakukan dengan distribusi slax, ayah dari backtrack.
Kamis, 16 Desember 2010
Rabu, 03 November 2010
Router

Router adalah sebuah alat jaringan komputer yang mengirimkan paket data melalui sebuah jaringan atau Internet menuju tujuannya, melalui sebuah proses yang dikenal sebagai routing. Proses routing terjadi pada lapisan 3 (Lapisan jaringan seperti Internet Protocol) dari stack protokol tujuh-lapis OSI.
Router berfungsi sebagai penghubung antar dua atau lebih jaringan untuk meneruskan data dari satu jaringan ke jaringan lainnya. Router berbeda dengan switch. Switch merupakan penghubung beberapa alat untuk membentuk suatu Local Area Network (LAN).
Sebagai ilustrasi perbedaan fungsi dari router dan switch merupakan suatu jalanan, dan router merupakan penghubung antar jalan. Masing-masing rumah berada pada jalan yang memiliki alamat dalam suatu urutan tertentu. Dengan cara yang sama, switch menghubungkan berbagai macam alat, dimana masing-masing alat memiliki alamat IP sendiri pada sebuah LAN.
Router sangat banyak digunakan dalam jaringan berbasis teknologi protokol TCP/IP, dan router jenis itu disebut juga dengan IP Router. Selain IP Router, ada lagi AppleTalk Router, dan masih ada beberapa jenis router lainnya. Internet merupakan contoh utama dari sebuah jaringan yang memiliki banyak router IP. Router dapat digunakan untuk menghubungkan banyak jaringan kecil ke sebuah jaringan yang lebih besar, yang disebut dengan internetwork, atau untuk membagi sebuah jaringan besar ke dalam beberapa subnetwork untuk meningkatkan kinerja dan juga mempermudah manajemennya. Router juga kadang digunakan untuk mengoneksikan dua buah jaringan yang menggunakan media yang berbeda (seperti halnya router wireless yang pada umumnya selain ia dapat menghubungkan komputer dengan menggunakan radio, ia juga mendukung penghubungan komputer dengan kabel UTP), atau berbeda arsitektur jaringan, seperti halnya dari Ethernet ke Token Ring.
Router juga dapat digunakan untuk menghubungkan LAN ke sebuah layanan telekomunikasi seperti halnya telekomunikasi leased line atau Digital Subscriber Line (DSL). Router yang digunakan untuk menghubungkan LAN ke sebuah koneksi leased line seperti T1, atau T3, sering disebut sebagai access server. Sementara itu, router yang digunakan untuk menghubungkan jaringan lokal ke sebuah koneksi DSL disebut juga dengan DSL router. Router-router jenis tersebut umumnya memiliki fungsi firewall untuk melakukan penapisan paket berdasarkan alamat sumber dan alamat tujuan paket tersebut, meski beberapa router tidak memilikinya. Router yang memiliki fitur penapisan paket disebut juga dengan packet-filtering router. Router umumnya memblokir lalu lintas data yang dipancarkan secara broadcast sehingga dapat mencegah adanya broadcast storm yang mampu memperlambat kinerja jaringan.
Jenis router
Secara umum, dibagi menjadi dua jenis, yakni:
static router (router statis): adalah sebuah router yang memiliki tabel routing statis yang diset secara manual oleh para administrator jaringan.
dynamic router (router dinamis): adalah sebuah router yang memiliki dab membuat tabel routing dinamis, dengan mendengarkan lalu lintas jaringan dan juga dengan saling berhubungan dengan router lainnya.
Router versus Bridge
Cara kerja router mirip dengan bridge jaringan, yakni mereka dapat meneruskan paket data jaringan dan dapat juga membagi jaringan menjadi beberapa segmen atau menyatukan segmen-segmen jaringan. Akan tetapi, router berjalan pada lapisan ketiga pada model OSI (lapisan jaringan), dan menggunakan skema pengalamatan yang digunakan pada lapisan itu, seperti halnya alamat IP. Sementara itu, bridge jaringan berjalan pada lapisan kedua pada model OSI (lapisan data-link), dan menggunakan skema pengalamatan yang digunakan pada lapisan itu, yakni MAC address.
Lalu, kapan penggunaan bridge jaringan dilakukan dan kapan penggunakan router dilakukan? Bridge, sebaiknya digunakan untuk menghubungkan segmen-segmen jaringan yang menjalankan protokol jaringan yang sama (sebagai contoh: segmen jaringan berbasis IP dengan segmen jaringan IP lainnya). Selain itu, bridge juga dapat digunakan ketika di dalam jaringan terdapat protokol-protokol yang tidak bisa melakukan routing, seperti halnya NetBEUI. Sementara itu, router sebaiknya digunakan untuk menghubungkan segmen-segmen jaringan yang menjalankan protokol jaringan yang berebeda (seperti halnya untuk menghubungkan segmen jaringan IP dengan segmen jaringan IPX.) Secara umum, router lebih cerdas dibandingkan dengan bridge jaringan dan dapat meningkatkan bandwidth jaringan, mengingat router tidak meneruskan paket broadcast ke jaringan yang dituju. Dan, penggunaan router yang paling sering dilakukan adalah ketika kita hendak menghubungkan jaringan kita ke internet.
Produsen router
Beberapa produsen router termasuk:
2Wire (www.2wire.com)
3Com (www.3com.com)
Adtran (www.adtran.com)
Alcatel (www.alcatel.com)
Apple Computer (termed ‘AirPort Base Stations’)
Asus (www.asus.com)
Belkin (www.belkin.com)
Buffalo Technology (www.buffalotech.com)
Billion (www.billion.com)
CANYON (www.canyon-tech.com)
CISCO SYSTEMS, INC. (www.cisco.com)
Cyclades Corporation (www.cyclades.com)
D-Link Systems (www.dlink.com)
Draytek (www.draytek.com)
Enterasys Networks (www.enterasys.com)
Ericsson AB (www.ericsson.com)
Extreme Networks (www.extremenetworks.com)
Funkwerk Enterprise Communications GmbH (www.bintec.net)
Foundry Networks (www.foundrynet.com)
Hawking Technologies (www.hawkingtech.com)
Hewlett-Packard (www.hp.com)
Huawei Technologies (www.huawei.com)
ImageStream (www.imagestream.com)
Juniper Networks (www.juniper.net)
Lightning MultiCom (www.lightning.ch)
LINKSYS (www.linksys.com)
Lucent Technologies (www.lucent.com)
Marconi (www.marconi.com)
Mikrotik (www.mikrotik.com)
Motorola (www.motorola.com)
MRV Communications (www.mrv.com)
NetComm (www.netcomm.com)
NETGEAR (www.netgear.com)
Nortel (www.nortel.com)
PacketFront (www.packetfront.com)
Pivotal Networking (global.acer.com)
Redback Networks (www.redback.com)
Siemens AG (www.siemens.com)
SMC Networks (www.smc.com)
Tellabs (www.tellabs.com)
U.S. Robotics (www.usr.com)
Zoom Telephonics (www.zoom.com)
Trendware (www.trendware.com)
ZyXEL (www.us.zyxel.com)
Gigabit Ethernet
This article's introduction section may not adequately summarize its contents. To comply with Wikipedia's lead section guidelines, please consider expanding the lead to provide an accessible overview of the article's key points. (November 2010)
Gigabit Ethernet (GbE or 1 GigE) is a term describing various technologies for transmitting Ethernet frames at a rate of a gigabit per second, as defined by the IEEE 802.3-2008 standard. Half-duplex gigabit links connected through hubs are allowed by the specification but in the marketplace full-duplex with switches are normal.
Intel PRO/1000 GT PCI network interface card
Contents [hide]
1 History
2 Varities
2.1 1000BASE-X
2.1.1 1000BASE-CX
2.1.2 1000BASE-SX
2.1.3 1000BASE-LX
2.1.4 1000BASE-LX10
2.1.5 1000BASE-BX10
2.1.6 1000BASE-ZX
2.2 1000BASE-T
2.3 1000BASE-TX
3 See also
4 Notes
5 References
6 Bibliography
7 External links
[edit]History
The result of research done at Xerox Corporation in the early 1970s, Ethernet has evolved into the most widely implemented physical and link layer protocol today. Fast Ethernet increased speed from 10 to 100 megabits per second (Mbit/s). Gigabit Ethernet was the next iteration, increasing the speed to 1000 Mbit/s. The initial standard for gigabit Ethernet was produced by the IEEE in June 1998 as IEEE 802.3z, and required optical fiber. 802.3z is commonly referred to as 1000BASE-X, where -X refers to either -CX, -SX, -LX, or (non-standard) -ZX.
IEEE 802.3ab, ratified in 1999, defines gigabit Ethernet transmission over unshielded twisted pair (UTP) category 5, 5e, or 6 cabling and became known as 1000BASE-T. With the ratification of 802.3ab, gigabit Ethernet became a desktop technology as organizations could use their existing copper cabling infrastructure.
IEEE 802.3ah, ratified in 2004 added two more Gigabit fiber standards, 1000BASE-LX10 (which was already widely implemented as vendor specific extension) and 1000BASE-BX10. This was part of a larger group of protocols known as Ethernet in the First Mile.
Initially, gigabit Ethernet was deployed in high-capacity backbone network links (for instance, on a high-capacity campus network). In 2000, Apple's Power Mac G4 and PowerBook G4 were the first mass produced personal computers featuring the 1000BASE-T connection.[1] It quickly became a built-in feature in many other computers. As of 2009 Gigabit NICs (1000BASE-T) are included in almost all desktop and server computer systems.
Higher bandwidth 10 Gigabit Ethernet standards have since become available as the IEEE ratified a fiber-based standard in 2002, and a twisted pair standard in 2006. As of 2009 10Gb Ethernet is replacing 1Gb as the backbone network and has begun to migrate down to high-end server systems.[citation needed]
[edit]Varities
There are five different physical layer standards for gigabit Ethernet using optical fiber (1000BASE-X), twisted pair cable (1000BASE-T), or balanced copper cable (1000BASE-CX).
The IEEE 802.3z standard includes 1000BASE-SX for transmission over multi-mode fiber, 1000BASE-LX for transmission over single-mode fiber, and the nearly obsolete 1000BASE-CX for transmission over balanced copper cabling. These standards use 8b/10b encoding, which inflates the line rate by 25%, from 1,000–1,250 Mbit/s to ensure a DC balanced signal. The symbols are then sent using NRZ.
IEEE 802.3ab, which defines the widely used 1000BASE-T interface type, uses a different encoding scheme in order to keep the symbol rate as low as possible, allowing transmission over twisted pair.
Ethernet in the First Mile later added 1000BASE-LX10 and -BX10.
Name Medium Specified distance
1000BASE‑CX Twinaxial cabling 25 meters
1000BASE‑SX Multi-mode fiber 220 to 550 meters dependent on fiber diameter and bandwidth[2]
1000BASE‑LX Multi-mode fiber 550 meters[3]
1000BASE‑LX Single-mode fiber 5 km[3]
1000BASE‑LX10 Single-mode fiber using 1,310 nm wavelength 10 km
1000BASE‑ZX Single-mode fiber at 1,550 nm wavelength ~ 70 km
1000BASE‑BX10 Single-mode fiber, over single-strand fiber: 1,490 nm downstream 1,310 nm upstream 10 km
1000BASE‑T Twisted-pair cabling (Cat‑5, Cat‑5e, Cat‑6, or Cat‑7) 100 meters
1000BASE‑TX Twisted-pair cabling (Cat‑6, Cat‑7) 100 meters
[edit]1000BASE-X
1000BASE-X is used in industry to refer to gigabit Ethernet transmission over fiber, where options include 1000BASE-CX, 1000BASE-LX, and 1000BASE-SX, 1000BASE-LX10, 1000BASE-BX10 or the non-standard -ZX implementations.
[edit]1000BASE-CX
1000BASE-CX is an initial standard for gigabit Ethernet connections over twinaxial cabling with maximum distances of 25 meters using balanced shielded twisted pair and either DE-9 or 8P8C connector. The short segment length is due to very high signal transmission rate. Although, it is still used for specific applications where cabling is done by IT professionals, for instance the IBM BladeCenter uses 1000BASE-CX for the Ethernet connections between the blade servers and the switch modules, 1000BASE-T has succeeded it for general copper wiring use.
[edit]1000BASE-SX
1000BASE-SX is a fiber optic gigabit Ethernet standard for operation over multi-mode fiber using a 770 to 860 nanometer, near infrared (NIR) light wavelength.
The standard specifies a distance capability between 220 metres (62.5/125 µm fiber with low modal bandwidth) and 550 metres (50/125 µm fiber with high modal bandwidth). In practice, with good quality fiber and terminations, 1000BASE-SX will usually work over significantly longer distances.[4][not in citation given]
This standard is highly popular for intra-building links in large office buildings, co-location facilities and carrier neutral internet exchanges.
Optical power specifications of SX interface: Minimum output power = −9.5 dBm. Minimum receive sensitivity = −17 dBm.
[edit]1000BASE-LX
1000BASE-LX is a fiber optic gigabit Ethernet standard specified in IEEE 802.3 Clause 38 which uses a long wavelength laser (1,270–1,355 nm), and a maximum RMS spectral width of 4 nm.
1000BASE-LX is specified to work over a distance of up to 5 km over 10 µm single-mode fiber.
1000BASE-LX can also run over all common types of multi-mode fiber with a maximum segment length of 550 m. For link distances greater than 300 m, the use of a special launch conditioning patch cord may be required.[5] This launches the laser at a precise offset from the center of the fiber which causes it to spread across the diameter of the fiber core, reducing the effect known as differential mode delay which occurs when the laser couples onto only a small number of available modes in multi-mode fiber.
[edit]1000BASE-LX10
1000BASE-LX10 was standardized six years after the initial gigabit fiber versions as part of the Ethernet in the First Mile task group. It is very similar to 1000BASE-LX, but achieves longer distances up to 10 km over a pair of single-mode fiber due to higher quality optics. Before it was standardized 1000BASE-LX10 was essentially already in widespread use by many vendors as a proprietary extension called either 1000BASE-LX/LH or 1000BASE-LH.[6]
[edit]1000BASE-BX10
1000BASE-BX10 is capable of up to 10 km over a single strand of single-mode fiber, with a different wavelength going in each direction. The terminals on each side of the fibre are not equal, as the one transmitting downstream (from the center of the network to the outside) uses the 1,490 nm wavelength, and the one transmitting upstream uses the 1,310 nm wavelength.
[edit]1000BASE-ZX
1000BASE-ZX is a non-standard but industry accepted[citation needed] term to refer to gigabit Ethernet transmission using 1,550 nm wavelength to achieve distances of at least 70 km over single-mode fiber.
[edit]1000BASE-T
1000BASE-T capable network interface card made by Intel, which connects to the computer via PCI-X
1000BASE-T (also known as IEEE 802.3ab) is a standard for gigabit Ethernet over copper wiring.
Each 1000BASE-T network segment can be a maximum length of 100 meters (328 feet), and must use Category 5 cable at a minimum. Category 5e cable or Category 6 cable may also be used.
Autonegotiation is a requirement for using 1000BASE-T[7] according to Section 28D.5 Extensions required for Clause40 (1000BASE-T).[8] At least the clock source has to be negotiated, as one has to be master and the other slave.
In a departure from both 10BASE-T and 100BASE-TX, 1000BASE-T uses all four cable pairs for simultaneous transmission in both directions through the use of echo cancellation and a 5-level pulse amplitude modulation (PAM-5) technique. The symbol rate is identical to that of 100BASE-TX (125 Mbaud) and the noise immunity of the 5-level signaling is also identical to that of the 3-level signaling in 100BASE-TX, since 1000BASE-T uses 4-dimensional trellis coded modulation (TCM) to achieve a 6 dB coding gain across the 4 pairs.
If two gigabit devices are connected through a cable with two pairs only, negotiation takes place on two pairs only, so the devices successfully choose 'gigabit' as the highest common denominator (HCD), but the link never comes up. Most gigabit physical devices have a specific register to diagnose this behaviour. Some drivers offer an "Ethernet@Wirespeed" option where this situation leads to a slower yet functional connection.[9]
The data is transmitted over four copper pairs, eight bits at a time. First, eight bits of data are expanded into four 3-bit symbols through a non-trivial scrambling procedure based on a linear feedback shift register; this is similar to what is done in 100BASE-T2, but uses different parameters. The 3-bit symbols are then mapped to voltage levels which vary continuously during transmission. One example mapping is as follows:
Symbol Line signal level
000 0
001 +1
010 +2
011 −1
100 0
101 +1
110 −2
111 −1
Automatic MDI/MDI-X Configuration is specified as an optional feature in the 1000BASE-T standard[10], meaning that straight-through cables will often work between Gigabit capable interfaces. This feature eliminates the need for crossover cables, making obsolete the uplink/normal ports and manual selector switches found on many older hubs and switches and greatly reducing installation errors.
[edit]1000BASE-TX
The Telecommunications Industry Association (TIA) created and promoted a standard similar to 1000BASE-T that was simpler to implement, calling it 1000BASE-TX (TIA/EIA-854)[11]. The simplified design would, in theory, have reduced the cost of the required electronics by only using one pair of wires in each direction. However, this solution required Category 6 cable and has been a commercial failure, likely due to the cabling requirement as well as the rapidly falling cost of 1000BASE-T products. Many 1000BASE-T products are advertised as 1000BASE-TX[note 1] due to lack of knowledge that 1000BASE-TX is actually a different standard. The confusion between 1000BASE-T and 1000BASE-TX probably stems from the fact that most popular form of Fast Ethernet (100 Mbit/s) is known as 100BASE-TX, and the fact that many products support multiple speeds of 10/100/1000Mb/sec and are often promoted as 10/100/1000BASE-TX[note 2].
[edit]See also
List of device bandwidths
100 Gigabit Ethernet
Ethernet Alliance
GBIC
SFP transceiver
Jumbo frames
Optical fiber connector
[edit]Notes
^ An example of a 1000BASE-T product being promoted as 1000BASE-TX can be found at http://www.trendnet.com/products/proddetail.asp?prod=150_TFC-1000S40D5.
^ An example of a product being specifying 10/100/1000BASE-TX ports can be found at http://www.cisco.com/en/US/products/ps10018/index.html.
[edit]References
^ "Power Macintosh G4 (Gigabit Ethernet)". apple-history.com. Retrieved 2007-11-05.
^ IEEE 802.3-2008 Section 3 Table 38-2 p.109
^ a b IEEE 802.3-2008 Section 3 Table 38-6 p.111
^ Cicso Gigabit Interface Converter http://www.cisco.com/en/US/prod/collateral/modules/ps5455/ps6577/product_data_sheet09186a008014cb5e_ps872_Products_Data_Sheet.html
^ "Mode-Conditioning Patch Cord Installation Note". Retrieved 2009-02-14
^ "Cisco SFP Optics For Gigabit Ethernet Applications". Cisco Systems. Retrieved 2010-06-01.
^ "Auto-Negotiation; 802.3-2002" (PDF). IEEE Standards Interpretations. IEEE. Retrieved 2007-11-05.
^ IEEE. "Part 3: Carrier Sense Multiple Access with Collision Detection (CSMA/CD) access method and Physical Layer specifications". SECTION TWO: This section includes Clause21 through Clause 33 and Annex 22A through Annex 33E.. Retrieved 2010-02-18.
^ "Broadcom Ethernet NIC FAQs". Retrieved 2009-07-25.
^ Clause 40.4.4 in IEEE 802.3-2008
^ http://www.tiaonline.org/news_events/press_room/press_releases/legacy.cfm?parelease=01-87
[edit]Bibliography
Norris, Mark, Gigabit Ethernet Technology and Applications, Artech House, 2002. ISBN 1-58053-505-4
[edit]External links
Get IEEE 802.3
IEEE 802.3
IEEE and Gigabit Ethernet Alliance Announce Formal Ratification of gigabit Ethernet Over Copper Standard - Announcement from IEEE 28 June 1999
IEEE P802.3ab 1000BASE-T Task Force (historical information)
IEEE 802.3 CSMA/CD (ETHERNET)
1000BASE-T Whitepaper from 10GEA
Gigabit Ethernet Auto-Negotiation
Gigabit Ethernet (GbE or 1 GigE) is a term describing various technologies for transmitting Ethernet frames at a rate of a gigabit per second, as defined by the IEEE 802.3-2008 standard. Half-duplex gigabit links connected through hubs are allowed by the specification but in the marketplace full-duplex with switches are normal.
Intel PRO/1000 GT PCI network interface card
Contents [hide]
1 History
2 Varities
2.1 1000BASE-X
2.1.1 1000BASE-CX
2.1.2 1000BASE-SX
2.1.3 1000BASE-LX
2.1.4 1000BASE-LX10
2.1.5 1000BASE-BX10
2.1.6 1000BASE-ZX
2.2 1000BASE-T
2.3 1000BASE-TX
3 See also
4 Notes
5 References
6 Bibliography
7 External links
[edit]History
The result of research done at Xerox Corporation in the early 1970s, Ethernet has evolved into the most widely implemented physical and link layer protocol today. Fast Ethernet increased speed from 10 to 100 megabits per second (Mbit/s). Gigabit Ethernet was the next iteration, increasing the speed to 1000 Mbit/s. The initial standard for gigabit Ethernet was produced by the IEEE in June 1998 as IEEE 802.3z, and required optical fiber. 802.3z is commonly referred to as 1000BASE-X, where -X refers to either -CX, -SX, -LX, or (non-standard) -ZX.
IEEE 802.3ab, ratified in 1999, defines gigabit Ethernet transmission over unshielded twisted pair (UTP) category 5, 5e, or 6 cabling and became known as 1000BASE-T. With the ratification of 802.3ab, gigabit Ethernet became a desktop technology as organizations could use their existing copper cabling infrastructure.
IEEE 802.3ah, ratified in 2004 added two more Gigabit fiber standards, 1000BASE-LX10 (which was already widely implemented as vendor specific extension) and 1000BASE-BX10. This was part of a larger group of protocols known as Ethernet in the First Mile.
Initially, gigabit Ethernet was deployed in high-capacity backbone network links (for instance, on a high-capacity campus network). In 2000, Apple's Power Mac G4 and PowerBook G4 were the first mass produced personal computers featuring the 1000BASE-T connection.[1] It quickly became a built-in feature in many other computers. As of 2009 Gigabit NICs (1000BASE-T) are included in almost all desktop and server computer systems.
Higher bandwidth 10 Gigabit Ethernet standards have since become available as the IEEE ratified a fiber-based standard in 2002, and a twisted pair standard in 2006. As of 2009 10Gb Ethernet is replacing 1Gb as the backbone network and has begun to migrate down to high-end server systems.[citation needed]
[edit]Varities
There are five different physical layer standards for gigabit Ethernet using optical fiber (1000BASE-X), twisted pair cable (1000BASE-T), or balanced copper cable (1000BASE-CX).
The IEEE 802.3z standard includes 1000BASE-SX for transmission over multi-mode fiber, 1000BASE-LX for transmission over single-mode fiber, and the nearly obsolete 1000BASE-CX for transmission over balanced copper cabling. These standards use 8b/10b encoding, which inflates the line rate by 25%, from 1,000–1,250 Mbit/s to ensure a DC balanced signal. The symbols are then sent using NRZ.
IEEE 802.3ab, which defines the widely used 1000BASE-T interface type, uses a different encoding scheme in order to keep the symbol rate as low as possible, allowing transmission over twisted pair.
Ethernet in the First Mile later added 1000BASE-LX10 and -BX10.
Name Medium Specified distance
1000BASE‑CX Twinaxial cabling 25 meters
1000BASE‑SX Multi-mode fiber 220 to 550 meters dependent on fiber diameter and bandwidth[2]
1000BASE‑LX Multi-mode fiber 550 meters[3]
1000BASE‑LX Single-mode fiber 5 km[3]
1000BASE‑LX10 Single-mode fiber using 1,310 nm wavelength 10 km
1000BASE‑ZX Single-mode fiber at 1,550 nm wavelength ~ 70 km
1000BASE‑BX10 Single-mode fiber, over single-strand fiber: 1,490 nm downstream 1,310 nm upstream 10 km
1000BASE‑T Twisted-pair cabling (Cat‑5, Cat‑5e, Cat‑6, or Cat‑7) 100 meters
1000BASE‑TX Twisted-pair cabling (Cat‑6, Cat‑7) 100 meters
[edit]1000BASE-X
1000BASE-X is used in industry to refer to gigabit Ethernet transmission over fiber, where options include 1000BASE-CX, 1000BASE-LX, and 1000BASE-SX, 1000BASE-LX10, 1000BASE-BX10 or the non-standard -ZX implementations.
[edit]1000BASE-CX
1000BASE-CX is an initial standard for gigabit Ethernet connections over twinaxial cabling with maximum distances of 25 meters using balanced shielded twisted pair and either DE-9 or 8P8C connector. The short segment length is due to very high signal transmission rate. Although, it is still used for specific applications where cabling is done by IT professionals, for instance the IBM BladeCenter uses 1000BASE-CX for the Ethernet connections between the blade servers and the switch modules, 1000BASE-T has succeeded it for general copper wiring use.
[edit]1000BASE-SX
1000BASE-SX is a fiber optic gigabit Ethernet standard for operation over multi-mode fiber using a 770 to 860 nanometer, near infrared (NIR) light wavelength.
The standard specifies a distance capability between 220 metres (62.5/125 µm fiber with low modal bandwidth) and 550 metres (50/125 µm fiber with high modal bandwidth). In practice, with good quality fiber and terminations, 1000BASE-SX will usually work over significantly longer distances.[4][not in citation given]
This standard is highly popular for intra-building links in large office buildings, co-location facilities and carrier neutral internet exchanges.
Optical power specifications of SX interface: Minimum output power = −9.5 dBm. Minimum receive sensitivity = −17 dBm.
[edit]1000BASE-LX
1000BASE-LX is a fiber optic gigabit Ethernet standard specified in IEEE 802.3 Clause 38 which uses a long wavelength laser (1,270–1,355 nm), and a maximum RMS spectral width of 4 nm.
1000BASE-LX is specified to work over a distance of up to 5 km over 10 µm single-mode fiber.
1000BASE-LX can also run over all common types of multi-mode fiber with a maximum segment length of 550 m. For link distances greater than 300 m, the use of a special launch conditioning patch cord may be required.[5] This launches the laser at a precise offset from the center of the fiber which causes it to spread across the diameter of the fiber core, reducing the effect known as differential mode delay which occurs when the laser couples onto only a small number of available modes in multi-mode fiber.
[edit]1000BASE-LX10
1000BASE-LX10 was standardized six years after the initial gigabit fiber versions as part of the Ethernet in the First Mile task group. It is very similar to 1000BASE-LX, but achieves longer distances up to 10 km over a pair of single-mode fiber due to higher quality optics. Before it was standardized 1000BASE-LX10 was essentially already in widespread use by many vendors as a proprietary extension called either 1000BASE-LX/LH or 1000BASE-LH.[6]
[edit]1000BASE-BX10
1000BASE-BX10 is capable of up to 10 km over a single strand of single-mode fiber, with a different wavelength going in each direction. The terminals on each side of the fibre are not equal, as the one transmitting downstream (from the center of the network to the outside) uses the 1,490 nm wavelength, and the one transmitting upstream uses the 1,310 nm wavelength.
[edit]1000BASE-ZX
1000BASE-ZX is a non-standard but industry accepted[citation needed] term to refer to gigabit Ethernet transmission using 1,550 nm wavelength to achieve distances of at least 70 km over single-mode fiber.
[edit]1000BASE-T
1000BASE-T capable network interface card made by Intel, which connects to the computer via PCI-X
1000BASE-T (also known as IEEE 802.3ab) is a standard for gigabit Ethernet over copper wiring.
Each 1000BASE-T network segment can be a maximum length of 100 meters (328 feet), and must use Category 5 cable at a minimum. Category 5e cable or Category 6 cable may also be used.
Autonegotiation is a requirement for using 1000BASE-T[7] according to Section 28D.5 Extensions required for Clause40 (1000BASE-T).[8] At least the clock source has to be negotiated, as one has to be master and the other slave.
In a departure from both 10BASE-T and 100BASE-TX, 1000BASE-T uses all four cable pairs for simultaneous transmission in both directions through the use of echo cancellation and a 5-level pulse amplitude modulation (PAM-5) technique. The symbol rate is identical to that of 100BASE-TX (125 Mbaud) and the noise immunity of the 5-level signaling is also identical to that of the 3-level signaling in 100BASE-TX, since 1000BASE-T uses 4-dimensional trellis coded modulation (TCM) to achieve a 6 dB coding gain across the 4 pairs.
If two gigabit devices are connected through a cable with two pairs only, negotiation takes place on two pairs only, so the devices successfully choose 'gigabit' as the highest common denominator (HCD), but the link never comes up. Most gigabit physical devices have a specific register to diagnose this behaviour. Some drivers offer an "Ethernet@Wirespeed" option where this situation leads to a slower yet functional connection.[9]
The data is transmitted over four copper pairs, eight bits at a time. First, eight bits of data are expanded into four 3-bit symbols through a non-trivial scrambling procedure based on a linear feedback shift register; this is similar to what is done in 100BASE-T2, but uses different parameters. The 3-bit symbols are then mapped to voltage levels which vary continuously during transmission. One example mapping is as follows:
Symbol Line signal level
000 0
001 +1
010 +2
011 −1
100 0
101 +1
110 −2
111 −1
Automatic MDI/MDI-X Configuration is specified as an optional feature in the 1000BASE-T standard[10], meaning that straight-through cables will often work between Gigabit capable interfaces. This feature eliminates the need for crossover cables, making obsolete the uplink/normal ports and manual selector switches found on many older hubs and switches and greatly reducing installation errors.
[edit]1000BASE-TX
The Telecommunications Industry Association (TIA) created and promoted a standard similar to 1000BASE-T that was simpler to implement, calling it 1000BASE-TX (TIA/EIA-854)[11]. The simplified design would, in theory, have reduced the cost of the required electronics by only using one pair of wires in each direction. However, this solution required Category 6 cable and has been a commercial failure, likely due to the cabling requirement as well as the rapidly falling cost of 1000BASE-T products. Many 1000BASE-T products are advertised as 1000BASE-TX[note 1] due to lack of knowledge that 1000BASE-TX is actually a different standard. The confusion between 1000BASE-T and 1000BASE-TX probably stems from the fact that most popular form of Fast Ethernet (100 Mbit/s) is known as 100BASE-TX, and the fact that many products support multiple speeds of 10/100/1000Mb/sec and are often promoted as 10/100/1000BASE-TX[note 2].
[edit]See also
List of device bandwidths
100 Gigabit Ethernet
Ethernet Alliance
GBIC
SFP transceiver
Jumbo frames
Optical fiber connector
[edit]Notes
^ An example of a 1000BASE-T product being promoted as 1000BASE-TX can be found at http://www.trendnet.com/products/proddetail.asp?prod=150_TFC-1000S40D5.
^ An example of a product being specifying 10/100/1000BASE-TX ports can be found at http://www.cisco.com/en/US/products/ps10018/index.html.
[edit]References
^ "Power Macintosh G4 (Gigabit Ethernet)". apple-history.com. Retrieved 2007-11-05.
^ IEEE 802.3-2008 Section 3 Table 38-2 p.109
^ a b IEEE 802.3-2008 Section 3 Table 38-6 p.111
^ Cicso Gigabit Interface Converter http://www.cisco.com/en/US/prod/collateral/modules/ps5455/ps6577/product_data_sheet09186a008014cb5e_ps872_Products_Data_Sheet.html
^ "Mode-Conditioning Patch Cord Installation Note". Retrieved 2009-02-14
^ "Cisco SFP Optics For Gigabit Ethernet Applications". Cisco Systems. Retrieved 2010-06-01.
^ "Auto-Negotiation; 802.3-2002" (PDF). IEEE Standards Interpretations. IEEE. Retrieved 2007-11-05.
^ IEEE. "Part 3: Carrier Sense Multiple Access with Collision Detection (CSMA/CD) access method and Physical Layer specifications". SECTION TWO: This section includes Clause21 through Clause 33 and Annex 22A through Annex 33E.. Retrieved 2010-02-18.
^ "Broadcom Ethernet NIC FAQs". Retrieved 2009-07-25.
^ Clause 40.4.4 in IEEE 802.3-2008
^ http://www.tiaonline.org/news_events/press_room/press_releases/legacy.cfm?parelease=01-87
[edit]Bibliography
Norris, Mark, Gigabit Ethernet Technology and Applications, Artech House, 2002. ISBN 1-58053-505-4
[edit]External links
Get IEEE 802.3
IEEE 802.3
IEEE and Gigabit Ethernet Alliance Announce Formal Ratification of gigabit Ethernet Over Copper Standard - Announcement from IEEE 28 June 1999
IEEE P802.3ab 1000BASE-T Task Force (historical information)
IEEE 802.3 CSMA/CD (ETHERNET)
1000BASE-T Whitepaper from 10GEA
Gigabit Ethernet Auto-Negotiation
Fast Ethernet
Fast Ethernet merupakan sebuah sebutan untuk teknologi jaringan Ethernet yang menawarkan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan standar Ethernet biasa. Kecepatan yang ditawarkannya mencapai 100 megabit per detik. Standar-standar yang dibuat untuk teknologi ini adalah 100BaseTX, 100BaseFX, 100BaseT4, dan 100BaseVG. Disebut juga 100BaseX.
Spesifikasi yang diratifikasi sebagai IEEE 802.3u pada tahun 1995 ini menjadi evolusi yang mengizinkan transmisi data yang jauh lebih cepat (10 kali lipat) dibandingkan dengan standar Ethernet yang sebelumnya, dengan menggunakan metode media access control yang sama, yakni Carrier Sense Multiple Access with Collision Detection (CSMA/CD). Selain itu, format frame yang digunakannya pun juga sama dengan Ethernet biasa, sehingga kompatibel dengan Ethernet. Pengabelan yang digunakan pun juga sama, yakni menggunakan kabel twisted pair, atau kabel serat optik meski kabel koaksial (yang digunakan oleh Ethernet 10Base2 dan 10Base5) telah ditinggalkan.
Standar ini dapat bekerja dalam modus full-duplex atau half-duplex dan dapat diimplementasikan di dalam jaringan yang menggunakan hub atau switch.
In computer networking, Fast Ethernet is a collective term for a number of Ethernet standards that carry traffic at the nominal rate of 100 Mbit/s, against the original Ethernet speed of 10 Mbit/s. Of the fast Ethernet standards 100BASE-TX is by far the most common and is supported by the vast majority of Ethernet hardware currently produced. Fast Ethernet was introduced in 1995[1] and remained the fastest version of Ethernet for three years before being superseded by gigabit Ethernet.[2]
Contents [hide]
1 General Design
2 Copper
2.1 100BASE-TX
2.2 100BASE-T4
2.3 100BASE-T2
3 Fiber
3.1 100BASE-FX
3.2 100BASE-SX
3.3 100BASE-BX
3.4 100BASE-LX10
4 See also
5 References
6 External links
[edit]General Design
A fast Ethernet adapter can be logically divided into a Media Access Controller (MAC) which deals with the higher level issues of medium availability and a Physical Layer Interface (PHY). The MAC may be linked to the PHY by a 4 bit 25 MHz synchronous parallel interface known as a Media Independent Interface (MII) or a 2 bit 50 MHz variant Reduced Media Independent Interface (RMII). Repeaters (hubs) are also allowed and connect to multiple PHYs for their different interfaces.
The MII may (rarely) be an external connection but is usually a connection between ICs in a network adapter or even within a single IC. The specs are written based on the assumption that the interface between MAC and PHY will be a MII but they do not require it.
The MII fixes the theoretical maximum data bit rate for all versions of fast Ethernet to 100 Mbit/s. The data signaling rate actually observed on real networks is less than the theoretical maximum, due to the necessary header and trailer (addressing and error-detection bits) on every frame, the occasional "lost frame" due to noise, and time waiting after each sent frame for other devices on the network to finish transmitting.
[edit]Copper
3Com 3c905-TX 100BASE-TX PCI network interface card
100BASE-T is any of several Fast Ethernet standards for twisted pair cables, including: 100BASE-TX (100 Mbit/s over two-pair Cat5 or better cable), 100BASE-T4 (100 Mbit/s over four-pair Cat3 or better cable, defunct), 100BASE-T2 (100 Mbit/s over two-pair Cat3 or better cable, also defunct). The segment length for a 100BASE-T cable is limited to 100 metres (328 ft) (as with 10BASE-T and gigabit Ethernet). All are or were standards under IEEE 802.3 (approved 1995). Almost all 100BASE-T installations are 100BASE-TX.
In the early days of Fast Ethernet, much vendor advertising centered on claims by competing standards that "ours will work better with existing cables than theirs." In practice, it was quickly discovered that few existing networks actually met the assumed standards, because 10-megabit Ethernet was very tolerant of minor deviations from specified electrical characteristics and few installers ever bothered to make exact measurements of cable and connection quality; if Ethernet worked over a cable, it was deemed acceptable. Thus most networks had to be rewired for 100-megabit speed whether or not there had supposedly been CAT3 or CAT5 cable runs.[citation needed]
[edit]100BASE-TX
RJ-45 Wiring (TIA/EIA-568-B T568B)
Pin Pair Wire Color
1 2 1 white/orange
2 2 2 orange
3 3 1 white/green
4 1 2 blue
5 1 1 white/blue
6 3 2 green
7 4 1 white/brown
8 4 2 brown
100BASE-TX is the predominant form of Fast Ethernet, and runs over two wire-pairs inside a category 5 or above cable (a typical category 5 cable contains 4 pairs and can therefore support two 100BASE-TX links). Like 10BASE-T, the proper pairs are the orange and green pairs (canonical second and third pairs) in TIA/EIA-568-B's termination standards, T568A or T568B. These pairs use pins 1, 2, 3 and 6.
In T568A and T568B, wires are in the order 1, 2, 3, 6, 4, 5, 7, 8 on the modular jack at each end. The color-order would be green/white, green, orange/white, blue, blue/white, orange, brown/white, brown for T568A, and orange/white, orange, green/white, blue, blue/white, green, brown/white, brown for T568B.
Each network segment can have a maximum distance of 100 metres (328 ft). In its typical configuration, 100BASE-TX uses one pair of twisted wires in each direction, providing 100 Mbit/s of throughput in each direction (full-duplex). See IEEE 802.3 for more details.
The configuration of 100BASE-TX networks is very similar to 10BASE-T. When used to build a local area network, the devices on the network (computers, printers etc.) are typically connected to a hub or switch, creating a star network. Alternatively it is possible to connect two devices directly using a crossover cable.
With 100BASE-TX hardware, the raw bits (4 bits wide clocked at 25 MHz at the MII) go through 4B5B binary encoding to generate a series of 0 and 1 symbols clocked at 125 MHz symbol rate. The 4B5B encoding provides DC equalization and spectrum shaping (see the standard for details). Just as in the 100BASE-FX case, the bits are then transferred to the physical medium attachment layer using NRZI encoding. However, 100BASE-TX introduces an additional, medium dependent sublayer, which employs MLT-3 as a final encoding of the data stream before transmission, resulting in a maximum "fundamental frequency" of 31.25 MHz. The procedure is borrowed from the ANSI X3.263 FDDI specifications, with minor discrepancies.[3]
[edit]100BASE-T4
100BASE-T4 was an early implementation of Fast Ethernet. It requires four twisted copper pairs, but those pairs were only required to be category 3 rather than the category 5 required by TX. One pair is reserved for transmit, one for receive, and the remaining two will switch direction as negotiated. A very unusual 8B6T code is used to convert 8 data bits into 6 base-3 digits (the signal shaping is possible as there are three times as many 6-digit base-3 numbers as there are 8-digit base-2 numbers). The two resulting 3-digit base-3 symbols are sent in parallel over 3 pairs using 3-level pulse-amplitude modulation (PAM-3). The fact that 3 pairs are used to transmit in each direction makes 100BASE-T4 inherently half-duplex. This standard can be implemented with CAT 3, 4, 5 UTP cables, or STP if needed against interference. Maximum distance is limited to 100 meters. 100BASE-T4 was not widely adopted but the technology developed for it is used in 1000BASE-T.[4]
[edit]100BASE-T2
Symbol Line signal level
000 0
001 +1
010 -1
011 -2
100(ESC) +2
In 100BASE-T2, the data is transmitted over two copper pairs, 4 bits per symbol. It uses these two pairs for simultaneously transmitting and receiving on both pairs[5] thus allowing full-duplex operation. First, a 4 bit symbol is expanded into two 3-bit symbols through a non-trivial scrambling procedure based on a linear feedback shift register; see the standard for details. This is needed to flatten the bandwidth and emission spectrum of the signal, as well as to match transmission line properties. The mapping of the original bits to the symbol codes is not constant in time and has a fairly large period (appearing as a pseudo-random sequence). The final mapping from symbols to PAM-5 line modulation levels obeys the table on the right. 100BASE-T2 was not widely adopted but the technology developed for it is used in 1000BASE-T.[4]
[edit]Fiber
[edit]100BASE-FX
100BASE-FX is a version of Fast Ethernet over optical fiber. It uses a 1300 nm near-infrared (NIR) light wavelength transmitted via two strands of optical fiber, one for receive(RX) and the other for transmit(TX). Maximum length is 400 metres (1,310 ft) for half-duplex connections (to ensure collisions are detected), 2 kilometres (6,600 ft) for full-duplex over multimode optical fiber, or 10,000 meters (32,808 feet) for full-duplex single mode optical fiber. 100BASE-FX uses the same 4B5B encoding and NRZI line code that 100BASE-TX does. 100BASE-FX should use SC, ST, or MIC connectors with SC being the preferred option.[6]
100BASE-FX is not compatible with 10BASE-FL, the 10 MBit/s version over optical fiber.
[edit]100BASE-SX
100BASE-SX is a version of Fast Ethernet over optical fiber. It uses two strands of multi-mode optical fiber for receive and transmit. It is a lower cost alternative to using 100BASE-FX, because it uses short wavelength optics which are significantly less expensive than the long wavelength optics used in 100BASE-FX. 100BASE-SX can operate at distances up to 550 metres (1,800 ft).
100BASE-SX uses the same wavelength as 10BASE-FL, the 10 MBit/s version over optical fiber. Unlike 100BASE-FX, this allows 100BASE-SX to be backwards-compatible with 10BASE-FL.
Because of the shorter wavelength used (850 nm) and the shorter distance it can support, 100BASE-SX uses less expensive optical components (LEDs instead of lasers) which makes it an attractive option for those upgrading from 10BASE-FL and those who do not require long distances.
[edit]100BASE-BX
100BASE-BX is a version of Fast Ethernet over a single strand of optical fiber (unlike 100BASE-FX, which uses a pair of fibers). Single-mode fiber is used, along with a special multiplexer which splits the signal into transmit and receive wavelengths. The two wavelengths used for transmit and receive is 1310/1550 nm. The terminals on each side of the fiber are not equal, as the one transmitting "downstream" (from the center of the network to the outside) uses the 1550 nm wavelength, and the one transmitting "upstream" uses the 1310 nm wavelength. Distances can be 10, 20 or 40 km.
[edit]100BASE-LX10
100BASE-LX10 is a version of Fast Ethernet over two single-mode optical fibers. It has a nominal reach of 10 km and a nominal wavelength of 1310 nm. It is described in IEEE 802.3-2005 Section 5 chapter 58.
[edit]See also
Ethernet over twisted pair
IEEE 802.3
Gigabit Ethernet
10 Gigabit Ethernet
100 gigabit Ethernet
List of device bandwidths
[edit]References
^ IEEE 802.3u-1995
^ [1] The 802.3z Gigabit Ethernet Standard was published
^ "The 100BASE-TX PMD (and MDI) is specified by incorporating the FDDI TP-PMD standard, ANSI X3.263: 1995 (TP-PMD), by reference, with the modifications noted below." (section 25.2 of IEEE802.3-2002).
^ a b Charles Spurgeon (2000). Ethernet the Definitive Guide. O'Reilly Media. p. 156.
^ Robert Breyer and Sean Riley (1999). Switched, Fast, and Gigabit Ethernet. Macmillan Technical Publishing. p. 107.
^ 802.3-2008 section 26.4.1
This article was originally based on material from the Free On-line Dictionary of Computing, which is licensed under the GFDL.
[edit]External links
Common 100 Mbit/s Hardware Variations
Origins and History of Ethernet
100BASE-SX Fast Ethernet proposal site
Fast Ethernet Chipsets Comparison
IEEE802.3 standards free download
Spesifikasi yang diratifikasi sebagai IEEE 802.3u pada tahun 1995 ini menjadi evolusi yang mengizinkan transmisi data yang jauh lebih cepat (10 kali lipat) dibandingkan dengan standar Ethernet yang sebelumnya, dengan menggunakan metode media access control yang sama, yakni Carrier Sense Multiple Access with Collision Detection (CSMA/CD). Selain itu, format frame yang digunakannya pun juga sama dengan Ethernet biasa, sehingga kompatibel dengan Ethernet. Pengabelan yang digunakan pun juga sama, yakni menggunakan kabel twisted pair, atau kabel serat optik meski kabel koaksial (yang digunakan oleh Ethernet 10Base2 dan 10Base5) telah ditinggalkan.
Standar ini dapat bekerja dalam modus full-duplex atau half-duplex dan dapat diimplementasikan di dalam jaringan yang menggunakan hub atau switch.
In computer networking, Fast Ethernet is a collective term for a number of Ethernet standards that carry traffic at the nominal rate of 100 Mbit/s, against the original Ethernet speed of 10 Mbit/s. Of the fast Ethernet standards 100BASE-TX is by far the most common and is supported by the vast majority of Ethernet hardware currently produced. Fast Ethernet was introduced in 1995[1] and remained the fastest version of Ethernet for three years before being superseded by gigabit Ethernet.[2]
Contents [hide]
1 General Design
2 Copper
2.1 100BASE-TX
2.2 100BASE-T4
2.3 100BASE-T2
3 Fiber
3.1 100BASE-FX
3.2 100BASE-SX
3.3 100BASE-BX
3.4 100BASE-LX10
4 See also
5 References
6 External links
[edit]General Design
A fast Ethernet adapter can be logically divided into a Media Access Controller (MAC) which deals with the higher level issues of medium availability and a Physical Layer Interface (PHY). The MAC may be linked to the PHY by a 4 bit 25 MHz synchronous parallel interface known as a Media Independent Interface (MII) or a 2 bit 50 MHz variant Reduced Media Independent Interface (RMII). Repeaters (hubs) are also allowed and connect to multiple PHYs for their different interfaces.
The MII may (rarely) be an external connection but is usually a connection between ICs in a network adapter or even within a single IC. The specs are written based on the assumption that the interface between MAC and PHY will be a MII but they do not require it.
The MII fixes the theoretical maximum data bit rate for all versions of fast Ethernet to 100 Mbit/s. The data signaling rate actually observed on real networks is less than the theoretical maximum, due to the necessary header and trailer (addressing and error-detection bits) on every frame, the occasional "lost frame" due to noise, and time waiting after each sent frame for other devices on the network to finish transmitting.
[edit]Copper
3Com 3c905-TX 100BASE-TX PCI network interface card
100BASE-T is any of several Fast Ethernet standards for twisted pair cables, including: 100BASE-TX (100 Mbit/s over two-pair Cat5 or better cable), 100BASE-T4 (100 Mbit/s over four-pair Cat3 or better cable, defunct), 100BASE-T2 (100 Mbit/s over two-pair Cat3 or better cable, also defunct). The segment length for a 100BASE-T cable is limited to 100 metres (328 ft) (as with 10BASE-T and gigabit Ethernet). All are or were standards under IEEE 802.3 (approved 1995). Almost all 100BASE-T installations are 100BASE-TX.
In the early days of Fast Ethernet, much vendor advertising centered on claims by competing standards that "ours will work better with existing cables than theirs." In practice, it was quickly discovered that few existing networks actually met the assumed standards, because 10-megabit Ethernet was very tolerant of minor deviations from specified electrical characteristics and few installers ever bothered to make exact measurements of cable and connection quality; if Ethernet worked over a cable, it was deemed acceptable. Thus most networks had to be rewired for 100-megabit speed whether or not there had supposedly been CAT3 or CAT5 cable runs.[citation needed]
[edit]100BASE-TX
RJ-45 Wiring (TIA/EIA-568-B T568B)
Pin Pair Wire Color
1 2 1 white/orange
2 2 2 orange
3 3 1 white/green
4 1 2 blue
5 1 1 white/blue
6 3 2 green
7 4 1 white/brown
8 4 2 brown
100BASE-TX is the predominant form of Fast Ethernet, and runs over two wire-pairs inside a category 5 or above cable (a typical category 5 cable contains 4 pairs and can therefore support two 100BASE-TX links). Like 10BASE-T, the proper pairs are the orange and green pairs (canonical second and third pairs) in TIA/EIA-568-B's termination standards, T568A or T568B. These pairs use pins 1, 2, 3 and 6.
In T568A and T568B, wires are in the order 1, 2, 3, 6, 4, 5, 7, 8 on the modular jack at each end. The color-order would be green/white, green, orange/white, blue, blue/white, orange, brown/white, brown for T568A, and orange/white, orange, green/white, blue, blue/white, green, brown/white, brown for T568B.
Each network segment can have a maximum distance of 100 metres (328 ft). In its typical configuration, 100BASE-TX uses one pair of twisted wires in each direction, providing 100 Mbit/s of throughput in each direction (full-duplex). See IEEE 802.3 for more details.
The configuration of 100BASE-TX networks is very similar to 10BASE-T. When used to build a local area network, the devices on the network (computers, printers etc.) are typically connected to a hub or switch, creating a star network. Alternatively it is possible to connect two devices directly using a crossover cable.
With 100BASE-TX hardware, the raw bits (4 bits wide clocked at 25 MHz at the MII) go through 4B5B binary encoding to generate a series of 0 and 1 symbols clocked at 125 MHz symbol rate. The 4B5B encoding provides DC equalization and spectrum shaping (see the standard for details). Just as in the 100BASE-FX case, the bits are then transferred to the physical medium attachment layer using NRZI encoding. However, 100BASE-TX introduces an additional, medium dependent sublayer, which employs MLT-3 as a final encoding of the data stream before transmission, resulting in a maximum "fundamental frequency" of 31.25 MHz. The procedure is borrowed from the ANSI X3.263 FDDI specifications, with minor discrepancies.[3]
[edit]100BASE-T4
100BASE-T4 was an early implementation of Fast Ethernet. It requires four twisted copper pairs, but those pairs were only required to be category 3 rather than the category 5 required by TX. One pair is reserved for transmit, one for receive, and the remaining two will switch direction as negotiated. A very unusual 8B6T code is used to convert 8 data bits into 6 base-3 digits (the signal shaping is possible as there are three times as many 6-digit base-3 numbers as there are 8-digit base-2 numbers). The two resulting 3-digit base-3 symbols are sent in parallel over 3 pairs using 3-level pulse-amplitude modulation (PAM-3). The fact that 3 pairs are used to transmit in each direction makes 100BASE-T4 inherently half-duplex. This standard can be implemented with CAT 3, 4, 5 UTP cables, or STP if needed against interference. Maximum distance is limited to 100 meters. 100BASE-T4 was not widely adopted but the technology developed for it is used in 1000BASE-T.[4]
[edit]100BASE-T2
Symbol Line signal level
000 0
001 +1
010 -1
011 -2
100(ESC) +2
In 100BASE-T2, the data is transmitted over two copper pairs, 4 bits per symbol. It uses these two pairs for simultaneously transmitting and receiving on both pairs[5] thus allowing full-duplex operation. First, a 4 bit symbol is expanded into two 3-bit symbols through a non-trivial scrambling procedure based on a linear feedback shift register; see the standard for details. This is needed to flatten the bandwidth and emission spectrum of the signal, as well as to match transmission line properties. The mapping of the original bits to the symbol codes is not constant in time and has a fairly large period (appearing as a pseudo-random sequence). The final mapping from symbols to PAM-5 line modulation levels obeys the table on the right. 100BASE-T2 was not widely adopted but the technology developed for it is used in 1000BASE-T.[4]
[edit]Fiber
[edit]100BASE-FX
100BASE-FX is a version of Fast Ethernet over optical fiber. It uses a 1300 nm near-infrared (NIR) light wavelength transmitted via two strands of optical fiber, one for receive(RX) and the other for transmit(TX). Maximum length is 400 metres (1,310 ft) for half-duplex connections (to ensure collisions are detected), 2 kilometres (6,600 ft) for full-duplex over multimode optical fiber, or 10,000 meters (32,808 feet) for full-duplex single mode optical fiber. 100BASE-FX uses the same 4B5B encoding and NRZI line code that 100BASE-TX does. 100BASE-FX should use SC, ST, or MIC connectors with SC being the preferred option.[6]
100BASE-FX is not compatible with 10BASE-FL, the 10 MBit/s version over optical fiber.
[edit]100BASE-SX
100BASE-SX is a version of Fast Ethernet over optical fiber. It uses two strands of multi-mode optical fiber for receive and transmit. It is a lower cost alternative to using 100BASE-FX, because it uses short wavelength optics which are significantly less expensive than the long wavelength optics used in 100BASE-FX. 100BASE-SX can operate at distances up to 550 metres (1,800 ft).
100BASE-SX uses the same wavelength as 10BASE-FL, the 10 MBit/s version over optical fiber. Unlike 100BASE-FX, this allows 100BASE-SX to be backwards-compatible with 10BASE-FL.
Because of the shorter wavelength used (850 nm) and the shorter distance it can support, 100BASE-SX uses less expensive optical components (LEDs instead of lasers) which makes it an attractive option for those upgrading from 10BASE-FL and those who do not require long distances.
[edit]100BASE-BX
100BASE-BX is a version of Fast Ethernet over a single strand of optical fiber (unlike 100BASE-FX, which uses a pair of fibers). Single-mode fiber is used, along with a special multiplexer which splits the signal into transmit and receive wavelengths. The two wavelengths used for transmit and receive is 1310/1550 nm. The terminals on each side of the fiber are not equal, as the one transmitting "downstream" (from the center of the network to the outside) uses the 1550 nm wavelength, and the one transmitting "upstream" uses the 1310 nm wavelength. Distances can be 10, 20 or 40 km.
[edit]100BASE-LX10
100BASE-LX10 is a version of Fast Ethernet over two single-mode optical fibers. It has a nominal reach of 10 km and a nominal wavelength of 1310 nm. It is described in IEEE 802.3-2005 Section 5 chapter 58.
[edit]See also
Ethernet over twisted pair
IEEE 802.3
Gigabit Ethernet
10 Gigabit Ethernet
100 gigabit Ethernet
List of device bandwidths
[edit]References
^ IEEE 802.3u-1995
^ [1] The 802.3z Gigabit Ethernet Standard was published
^ "The 100BASE-TX PMD (and MDI) is specified by incorporating the FDDI TP-PMD standard, ANSI X3.263: 1995 (TP-PMD), by reference, with the modifications noted below." (section 25.2 of IEEE802.3-2002).
^ a b Charles Spurgeon (2000). Ethernet the Definitive Guide. O'Reilly Media. p. 156.
^ Robert Breyer and Sean Riley (1999). Switched, Fast, and Gigabit Ethernet. Macmillan Technical Publishing. p. 107.
^ 802.3-2008 section 26.4.1
This article was originally based on material from the Free On-line Dictionary of Computing, which is licensed under the GFDL.
[edit]External links
Common 100 Mbit/s Hardware Variations
Origins and History of Ethernet
100BASE-SX Fast Ethernet proposal site
Fast Ethernet Chipsets Comparison
IEEE802.3 standards free download
Definitions and Standards
he early development of Ethernet was done by Xerox research. The name "Ethernet" was a registered trademark of Xerox Corporation. The technology was refined and a second generation called Ethernet II was widely used. Ethernet from this period is often called DIX after its corporate sponsors Digital, Intel, and Xerox. As the holder of the trademark, Xerox established and published the standards.
Obviously, no technology could become an international standard for all sorts of equipment if the rules were controlled by a single US corporation. The IEEE was assigned the task of developing formal international standards for all Local Area Network technology. It formed the "802" committee to look at Ethernet, Token Ring, Fiber Optic, and other LAN technology. The objective of the project was not just to standardize each LAN individually, but also to establish rules that would be global to all types of LANs so that data could easily move from Ethernet to Token Ring or Fiber Optics.
This larger view created conflicts with the existing practice under the old Xerox DIX system. The IEEE was careful to separate the new and old rules. It recognized that there would be a period when old DIX messages and new IEEE 802 messages would have to coexist on the same LAN. It published a set of standards of which the most important are:
802.3 - Hardware standards for Ethernet cards and cables
802.5 - Hardware standards for Token Ring cards and cables
802.2 - The new message format for data on any LAN
The 802.3 standard further refined the electrical connection to the Ethernet. It was immediately adopted by all the hardware vendors. Today all cards and other devices conform to this standard.
However, the 802.2 standard would require a change to the network architecture of all existing Ethernet users. Apple had to change its Ethertalk, and did so when converting from Phase 1 to Phase 2 Appletalk. DEC had to change its DECNET. Novell added 802 as an option to its IPX, but it supports both DIX and 802 message formats at the same time.
The TCP/IP protocol used by the Internet refused to change. Internet standards are managed by the IETF group, and they decided to stick with the old DIX message format indefinitely. This produced a deadlock between two standards organizations that has not been resolved.
IBM waited until the 802 committee released its standards, then rigorously implemented the 802 rules for everything except TCP/IP where the IETF rules take precedence. This means that NETBEUI (the format for NETBIOS on the LAN) and SNA obey the 802 conventions.
So "Ethernet" suffers from too many standards. The old DIX rules for message format persist for some uses (Internet, DECNET, some Novell). The new 802 rules apply to other traffic (SNA, NETBEUI). The most pressing problem is to make sure that Novell clients and servers are configured to use the same frame format.
Access and Collisions
Ethernet uses a protocol called CSMACD. This stands for "Carrier Sense, Multiple Access, Collision Detect". The "Multiple Access" part means that every station is connected to a single copper wire (or a set of wires that are connected together to form a single data path). The "Carrier Sense" part says that before transmitting data, a station checks the wire to see if any other station is already sending something. If the LAN appears to be idle, then the station can begin to send data.
An Ethernet station sends data at a rate of 10 megabits per second. That bit allows 100 nanoseconds per bit. Light and electricity travel about one foot in a nanosecond. Therefore, after the electric signal for the first bit has traveled about 100 feet down the wire, the station has begun to send the second bit. However, an Ethernet cable can run for hundreds of feet. If two stations are located, say, 250 feet apart on the same cable, and both begin transmitting at the same time, then they will be in the middle of the third bit before the signal from each reaches the other station.
This explains the need for the "Collision Detect" part. Two stations can begin to send data at the same time, and their signals will "collide" nanoseconds later. When such a collision occurs, the two stations stop transmitting, "back off", and try again later after a randomly chosen delay period.
While an Ethernet can be built using one common signal wire, such an arrangement is not flexible enough to wire most buildings. Unlike an ordinary telephone circuit, Ethernet wire cannot be just spliced together, connecting one copper wire to another. Ethernet requires a repeater. A repeater is a simple station that is connected to two wires. Any data that it receives on one wire it repeats bit-for-bit on the other wire. When collisions occur, it repeats the collision as well.
In common practice, repeaters are used to convert the Ethernet signal from one type of wire to another. In particular, when the connection to the desktop uses ordinary telephone wire, the hub back in the telephone closet contains a repeater for every phone circuit. Any data coming down any phone line is copied onto the main Ethernet coax cable, and any data from the main cable is duplicated and transmitted down every phone line. The repeaters in the hub electrically isolate each phone circuit, which is necessary if a 10 megabit signal is going to be carried 300 feet on ordinary wire.
Every set of rules is best understood by characterizing its worst case. The worst case for Ethernet starts when a PC at the extreme end of one wire begins sending data. The electric signal passes down the wire through repeaters, and just before it gets to the last station at the other end of the LAN, that station (hearing nothing and thinking that the LAN is idle) begins to transmit its own data. A collision occurs. The second station recognizes this immediately, but the first station will not detect it until the collision signal retraces the first path all the way back through the LAN to its starting point.
Any system based on collision detect must control the time required for the worst round trip through the LAN. As the term "Ethernet" is commonly defined, this round trip is limited to 50 microseconds (millionths of a second). At a signaling speed of 10 million bits per second, this is enough time to transmit 500 bits. At 8 bits per byte, this is slightly less than 64 bytes.
To make sure that the collision is recognized, Ethernet requires that a station must continue transmitting until the 50 microsecond period has ended. If the station has less than 64 bytes of data to send, then it must pad the data by adding zeros at the end.
In simpler days, when Ethernet was dominated by heavy duty coax cable, it was possible to translate the 50 millisecond limit and other electrical restrictions into rules about cable length, number of stations, and number of repeaters. However, by adding new media (such as Fiber Optic cable) and smarter electronics, it becomes difficult to state physical distance limits with precision. However those limits work out, they are ultimately reflections of the constraint on the worst case round trip.
It would be possible to define some other Ethernet-like collision system with a 40 microsecond or 60 microsecond period. Changing the period, the speed, and the minimum message size simply require a new standard and some alternate equipment. AT& T, for example, once promoted a system called "Starlan" that transmitted data a 1 megabit per second over older phone wire. Many such systems are possible, but the term "Ethernet" is generally reserved for a system that transmits 10 megabits per second with a round trip delay of 50 microseconds.
To extend the LAN farther than the 50 microsecond limit will permit, one needs a bridge or router. These terms are often confused:
A repeater receives and then immediately retransmits each bit. It has no memory and does not depend on any particular protocol. It duplicates everything, including the collisions.
A bridge receives the entire message into memory. If the message was damaged by a collision or noise, then it is discarded. If the bridge knows that the message was being sent between two stations on the same cable, then it discards it. Otherwise, the message is queued up and will be retransmitted on another Ethernet cable. The bridge has no address. Its actions are transparent to the client and server workstations.
A router acts as an agent to receive and forward messages. The router has an address and is known to the client or server machines. Typically, machines directly send messages to each other when they are on the same cable, and they send the router messages addressed to another zone, department, or subnetwork. Routing is a function specific to each protocol. For IPX, the Novell server can act as a router. For SNA, an APPN Network Node does the routing. TCP/IP can be routed by dedicated devices, UNIX workstations, or OS/2 servers.
Problem Determination
In the classical "Thick Net" fat yellow Ethernet cable, a heavy copper wire is embedded in plastic and surrounded by a grounded metal shield. At each end of the cable, the central signal wire is connected to a resistor that in turn connects to the grounded shield. As was previously noted, each bit follows the previous bit at a distance of about 100 feet. The bits are represented by a wave of electrical voltage. The resistor at each end of the wire removes the signal cleanly from the wire. Without such a termination, some part of the voltage wave would hit the end of the wire and bounce back, causing confusion and perhaps appearing as a collision.
Ethernets fail in three common ways. A nail can be driven into the cable breaking the signal wire. A nail can be driven in touching the signal wire and shorting it to the external grounded metal shield. Finally, a station on the LAN can break down and start to generate a continuous stream of junk blocking everyone else from sending.
There is a specialized device that finds problems in an Ethernet LAN. It plugs into any attachment point in the cable, and sends out its own voltage pulse. The effect is similar to a sonar "ping." If the cable is broken, then there is no proper terminating resistor. The pulse will hit the loose end of the broken cable and will bounce back. The test device senses the echo, computes how long the round trip took, and then reports how far away the break is in the cable.
If the Ethernet cable is shorted out, a simple volt meter would determine that the proper resistor is missing from the signal and shield wires. Again, by sending out a pulse and timing the return, the test device can determine the distance to the problem.
Most of the thinking about Ethernet repair have been based on the original Thicknet media. However, modern Ethernet installation may not use any of this old coax cable. The connection to the desktop may be based on telephone wire between the PC and a "hub" device. The hubs may stack up in a wiring closet and then be connected to other rooms using fiber optic cable.
Newer generations of "smart" hubs can perform part of the error detection and reporting function. For example, they could isolate a problem in the connection to a particular desktop workstation and automatically isolate that unit from the rest of the network.
Ethernet presents a classic trade-off. The simplest equipment has a very low cost, but requires some technical expertise to locate and repair errors. More sophisticated equipment may be able to do automatic error detection and recovery, but at a higher price.
Frame Formats
A block of data transmitted on the Ethernet is called a "frame." The first 12 bytes of every frame contain the 6 byte destination address (the recipient) and a 6 byte source address (the sender). Each Ethernet adapter card comes with a unique factory installed address (the "universally administered address"). Use of this hardware address guarantees a unique identity to each card.
The PC software (in PROTOCOL.INI or NET.CFG) can be configured to substitute a different address number. When this option is used, it is called a "locally administered address." If the use of this feature is properly controlled, the address can contain information about the building, department, room, machine, wiring circuit, or owner's telephone number. When accurate, such information can speed problem determination.
The source address field of each frame must contain the unique address (universal or local) assigned to the sending card. The destination field can contain a "multicast" address representing a group of workstations with some common characteristic. A Novell client may broadcast a request to identify all Netware servers on the LAN, while a Microsoft or IBM client machine broadcasts a query to all machines supporting NETBIOS to find a particular server or domain.
In normal operation, an Ethernet adapter will receive only frames with a destination address that matches its unique address, or destination addresses that represent a multicast message. However, most Ethernet adapters can be set into "promiscuous" mode where they receive all frames that appear on the LAN. If this poses a security problem, a new generation of smart hub devices can filter out all frames with private destination addresses belonging to another station.
There are three common conventions for the format of the remainder of the frame:
Ethernet II or DIX
IEEE 802.3 and 802.2
SNAP
Ethernet II or DIX
Before the development of international standards, Xerox administered the Ethernet conventions. As each vendor developed a protocol, a two byte Type code was assigned by Xerox to identify it. Codes were given out to XNS (the Xerox own protocol), DECNET, IP, and Novell IPX. Since short Ethernet frames must be padded with zeros to a length of 64 bytes, each of these higher level protocols required either a larger minimum message size or an internal length field that can be used to distinguish data from padding.
Type field values of particular note include:
0x0600 XNS (Xerox)
0x0800 IP (the Internet protocol)
0x6003 DECNET
IEEE 802.3 and 802.2
The IEEE 802 committee was charged to develop protocols that could operate the same way across all LAN media. To allow collision detect, the 10 megabit Ethernet requires a minimum packet size of 64 bytes. Any shorter message must be padded with zeros. The requirement to pad messages is unique to Ethernet and does not apply to any other LAN media. In order for Ethernet to be interchangeable with other types of LANs, it would have to provide a length field to distinguish significant data from padding.
The DIX standard did not need a length field because the vendor protocols that used it (XNS, DECNET, IPX, IP) all had their own length fields. However, the 802 committee needed a standard that did not depend on the good behavior of other programs. The 802.3 standard therefore replaced the two byte type field with a two byte length field.
Xerox had not assigned any important types to have a decimal value below 1500. Since the maximum size of a packet on Ethernet is 1500 bytes, there was no conflict or overlap between DIX and 802 standards. Any Ethernet packet with a type/length field less than 1500 is in 802.3 format (with a length) while any packet in which the field value is greater than 1500 must be in DIX format (with a type).
The 802 committee then created a new field to substitute for Type. The 802.2 header follows the 802.3 header (and also follows the comparable fields in a Token Ring, FDDI, or other types of LAN).
The 802.2 header is three bytes long for control packets or the kind of connectionless data sent by all the old DIX protocols. A four byte header is defined for connection oriented data, which refers primarily to SNA and NETBEUI. The first two bytes identify the SAP. Even with hindsight it is not clear exactly what the IEEE expected this field to be used for. In current use, the two SAP fields are set to 0x0404 for SNA and 0xF0F0 for NETBEUI.
SNAP
The IEEE left all the other protocols in a confusing situation. They did not need any new services and did not benefit from the change. Furthermore, a one byte SAP could not substitute for the two byte type field. Yet 802.2 was an International Standard, and that has the force of law in many areas. The compromise was to create a special version of the 802.2 header that conformed to the standard but actually repackaged the old DIX conventions.
Under SNAP, the 802.2 header appears to be a datagram message (control field 0x03) between SAP ID 0xAA. The first five bytes of what 802.2 considers data are actually a subheader ending in the two byte DIX type value. Any of the old DIX protocols can convert their existing logic to legal 802 SNAP by simply moving the DIX type field back eight bytes from its original location.
Conclusion
The textbook definitions of Ethernet have little to do with current practice. Ethernet is supposed to be a single common medium with multiple connections. That may be true for older installations and laboratory environments. However, new desktop installations bring Ethernet to the desktop over phone wire and frequently build the spine using fiber optics.
The connection between the hub in the wiring closet and the adapter card in the PC forms a single point- to-point Ethernet segment between two stations. The connection to the rest of the LAN involves active electronics in the hub. In current use, this is done with a repeater that copies every bit and propagates collisions.
A new generation of even smarter hubs provides a "bridge" connection between the main LAN and the phone wire. Only multicast messages and private messages specifically addressed to the PC are forwarded to the desktop. This has two advantages:
It provides greater security, because the desktop user cannot spy on traffic addressed to other nodes.
It provides each desktop user with an isolated, private 10 megabit data path free of collisions. The connection between hubs can then use a higher speed fiber optic protocol (such as "ATM") to deliver much greater performance than simple Ethernet. This hybrid (Ethernet to the desktop, something else between the hubs) represents a compromise of high performance and low cost.
However, bridging Ethernet to any other LAN protocol requires some attention to frame formats. Unfortunately, the "standards" are still a mess. DIX and 802 messages flow on the same LAN. Bridges must be aware of the protocol conventions and select the correct frame format when moving data onto or off of an Ethernet.
Copyright 1995 PCLT -- Ethernet -- H. Gilbert
This document generated by SpHyDir another fine product of PC Lube and Tune.
Obviously, no technology could become an international standard for all sorts of equipment if the rules were controlled by a single US corporation. The IEEE was assigned the task of developing formal international standards for all Local Area Network technology. It formed the "802" committee to look at Ethernet, Token Ring, Fiber Optic, and other LAN technology. The objective of the project was not just to standardize each LAN individually, but also to establish rules that would be global to all types of LANs so that data could easily move from Ethernet to Token Ring or Fiber Optics.
This larger view created conflicts with the existing practice under the old Xerox DIX system. The IEEE was careful to separate the new and old rules. It recognized that there would be a period when old DIX messages and new IEEE 802 messages would have to coexist on the same LAN. It published a set of standards of which the most important are:
802.3 - Hardware standards for Ethernet cards and cables
802.5 - Hardware standards for Token Ring cards and cables
802.2 - The new message format for data on any LAN
The 802.3 standard further refined the electrical connection to the Ethernet. It was immediately adopted by all the hardware vendors. Today all cards and other devices conform to this standard.
However, the 802.2 standard would require a change to the network architecture of all existing Ethernet users. Apple had to change its Ethertalk, and did so when converting from Phase 1 to Phase 2 Appletalk. DEC had to change its DECNET. Novell added 802 as an option to its IPX, but it supports both DIX and 802 message formats at the same time.
The TCP/IP protocol used by the Internet refused to change. Internet standards are managed by the IETF group, and they decided to stick with the old DIX message format indefinitely. This produced a deadlock between two standards organizations that has not been resolved.
IBM waited until the 802 committee released its standards, then rigorously implemented the 802 rules for everything except TCP/IP where the IETF rules take precedence. This means that NETBEUI (the format for NETBIOS on the LAN) and SNA obey the 802 conventions.
So "Ethernet" suffers from too many standards. The old DIX rules for message format persist for some uses (Internet, DECNET, some Novell). The new 802 rules apply to other traffic (SNA, NETBEUI). The most pressing problem is to make sure that Novell clients and servers are configured to use the same frame format.
Access and Collisions
Ethernet uses a protocol called CSMACD. This stands for "Carrier Sense, Multiple Access, Collision Detect". The "Multiple Access" part means that every station is connected to a single copper wire (or a set of wires that are connected together to form a single data path). The "Carrier Sense" part says that before transmitting data, a station checks the wire to see if any other station is already sending something. If the LAN appears to be idle, then the station can begin to send data.
An Ethernet station sends data at a rate of 10 megabits per second. That bit allows 100 nanoseconds per bit. Light and electricity travel about one foot in a nanosecond. Therefore, after the electric signal for the first bit has traveled about 100 feet down the wire, the station has begun to send the second bit. However, an Ethernet cable can run for hundreds of feet. If two stations are located, say, 250 feet apart on the same cable, and both begin transmitting at the same time, then they will be in the middle of the third bit before the signal from each reaches the other station.
This explains the need for the "Collision Detect" part. Two stations can begin to send data at the same time, and their signals will "collide" nanoseconds later. When such a collision occurs, the two stations stop transmitting, "back off", and try again later after a randomly chosen delay period.
While an Ethernet can be built using one common signal wire, such an arrangement is not flexible enough to wire most buildings. Unlike an ordinary telephone circuit, Ethernet wire cannot be just spliced together, connecting one copper wire to another. Ethernet requires a repeater. A repeater is a simple station that is connected to two wires. Any data that it receives on one wire it repeats bit-for-bit on the other wire. When collisions occur, it repeats the collision as well.
In common practice, repeaters are used to convert the Ethernet signal from one type of wire to another. In particular, when the connection to the desktop uses ordinary telephone wire, the hub back in the telephone closet contains a repeater for every phone circuit. Any data coming down any phone line is copied onto the main Ethernet coax cable, and any data from the main cable is duplicated and transmitted down every phone line. The repeaters in the hub electrically isolate each phone circuit, which is necessary if a 10 megabit signal is going to be carried 300 feet on ordinary wire.
Every set of rules is best understood by characterizing its worst case. The worst case for Ethernet starts when a PC at the extreme end of one wire begins sending data. The electric signal passes down the wire through repeaters, and just before it gets to the last station at the other end of the LAN, that station (hearing nothing and thinking that the LAN is idle) begins to transmit its own data. A collision occurs. The second station recognizes this immediately, but the first station will not detect it until the collision signal retraces the first path all the way back through the LAN to its starting point.
Any system based on collision detect must control the time required for the worst round trip through the LAN. As the term "Ethernet" is commonly defined, this round trip is limited to 50 microseconds (millionths of a second). At a signaling speed of 10 million bits per second, this is enough time to transmit 500 bits. At 8 bits per byte, this is slightly less than 64 bytes.
To make sure that the collision is recognized, Ethernet requires that a station must continue transmitting until the 50 microsecond period has ended. If the station has less than 64 bytes of data to send, then it must pad the data by adding zeros at the end.
In simpler days, when Ethernet was dominated by heavy duty coax cable, it was possible to translate the 50 millisecond limit and other electrical restrictions into rules about cable length, number of stations, and number of repeaters. However, by adding new media (such as Fiber Optic cable) and smarter electronics, it becomes difficult to state physical distance limits with precision. However those limits work out, they are ultimately reflections of the constraint on the worst case round trip.
It would be possible to define some other Ethernet-like collision system with a 40 microsecond or 60 microsecond period. Changing the period, the speed, and the minimum message size simply require a new standard and some alternate equipment. AT& T, for example, once promoted a system called "Starlan" that transmitted data a 1 megabit per second over older phone wire. Many such systems are possible, but the term "Ethernet" is generally reserved for a system that transmits 10 megabits per second with a round trip delay of 50 microseconds.
To extend the LAN farther than the 50 microsecond limit will permit, one needs a bridge or router. These terms are often confused:
A repeater receives and then immediately retransmits each bit. It has no memory and does not depend on any particular protocol. It duplicates everything, including the collisions.
A bridge receives the entire message into memory. If the message was damaged by a collision or noise, then it is discarded. If the bridge knows that the message was being sent between two stations on the same cable, then it discards it. Otherwise, the message is queued up and will be retransmitted on another Ethernet cable. The bridge has no address. Its actions are transparent to the client and server workstations.
A router acts as an agent to receive and forward messages. The router has an address and is known to the client or server machines. Typically, machines directly send messages to each other when they are on the same cable, and they send the router messages addressed to another zone, department, or subnetwork. Routing is a function specific to each protocol. For IPX, the Novell server can act as a router. For SNA, an APPN Network Node does the routing. TCP/IP can be routed by dedicated devices, UNIX workstations, or OS/2 servers.
Problem Determination
In the classical "Thick Net" fat yellow Ethernet cable, a heavy copper wire is embedded in plastic and surrounded by a grounded metal shield. At each end of the cable, the central signal wire is connected to a resistor that in turn connects to the grounded shield. As was previously noted, each bit follows the previous bit at a distance of about 100 feet. The bits are represented by a wave of electrical voltage. The resistor at each end of the wire removes the signal cleanly from the wire. Without such a termination, some part of the voltage wave would hit the end of the wire and bounce back, causing confusion and perhaps appearing as a collision.
Ethernets fail in three common ways. A nail can be driven into the cable breaking the signal wire. A nail can be driven in touching the signal wire and shorting it to the external grounded metal shield. Finally, a station on the LAN can break down and start to generate a continuous stream of junk blocking everyone else from sending.
There is a specialized device that finds problems in an Ethernet LAN. It plugs into any attachment point in the cable, and sends out its own voltage pulse. The effect is similar to a sonar "ping." If the cable is broken, then there is no proper terminating resistor. The pulse will hit the loose end of the broken cable and will bounce back. The test device senses the echo, computes how long the round trip took, and then reports how far away the break is in the cable.
If the Ethernet cable is shorted out, a simple volt meter would determine that the proper resistor is missing from the signal and shield wires. Again, by sending out a pulse and timing the return, the test device can determine the distance to the problem.
Most of the thinking about Ethernet repair have been based on the original Thicknet media. However, modern Ethernet installation may not use any of this old coax cable. The connection to the desktop may be based on telephone wire between the PC and a "hub" device. The hubs may stack up in a wiring closet and then be connected to other rooms using fiber optic cable.
Newer generations of "smart" hubs can perform part of the error detection and reporting function. For example, they could isolate a problem in the connection to a particular desktop workstation and automatically isolate that unit from the rest of the network.
Ethernet presents a classic trade-off. The simplest equipment has a very low cost, but requires some technical expertise to locate and repair errors. More sophisticated equipment may be able to do automatic error detection and recovery, but at a higher price.
Frame Formats
A block of data transmitted on the Ethernet is called a "frame." The first 12 bytes of every frame contain the 6 byte destination address (the recipient) and a 6 byte source address (the sender). Each Ethernet adapter card comes with a unique factory installed address (the "universally administered address"). Use of this hardware address guarantees a unique identity to each card.
The PC software (in PROTOCOL.INI or NET.CFG) can be configured to substitute a different address number. When this option is used, it is called a "locally administered address." If the use of this feature is properly controlled, the address can contain information about the building, department, room, machine, wiring circuit, or owner's telephone number. When accurate, such information can speed problem determination.
The source address field of each frame must contain the unique address (universal or local) assigned to the sending card. The destination field can contain a "multicast" address representing a group of workstations with some common characteristic. A Novell client may broadcast a request to identify all Netware servers on the LAN, while a Microsoft or IBM client machine broadcasts a query to all machines supporting NETBIOS to find a particular server or domain.
In normal operation, an Ethernet adapter will receive only frames with a destination address that matches its unique address, or destination addresses that represent a multicast message. However, most Ethernet adapters can be set into "promiscuous" mode where they receive all frames that appear on the LAN. If this poses a security problem, a new generation of smart hub devices can filter out all frames with private destination addresses belonging to another station.
There are three common conventions for the format of the remainder of the frame:
Ethernet II or DIX
IEEE 802.3 and 802.2
SNAP
Ethernet II or DIX
Before the development of international standards, Xerox administered the Ethernet conventions. As each vendor developed a protocol, a two byte Type code was assigned by Xerox to identify it. Codes were given out to XNS (the Xerox own protocol), DECNET, IP, and Novell IPX. Since short Ethernet frames must be padded with zeros to a length of 64 bytes, each of these higher level protocols required either a larger minimum message size or an internal length field that can be used to distinguish data from padding.
Type field values of particular note include:
0x0600 XNS (Xerox)
0x0800 IP (the Internet protocol)
0x6003 DECNET
IEEE 802.3 and 802.2
The IEEE 802 committee was charged to develop protocols that could operate the same way across all LAN media. To allow collision detect, the 10 megabit Ethernet requires a minimum packet size of 64 bytes. Any shorter message must be padded with zeros. The requirement to pad messages is unique to Ethernet and does not apply to any other LAN media. In order for Ethernet to be interchangeable with other types of LANs, it would have to provide a length field to distinguish significant data from padding.
The DIX standard did not need a length field because the vendor protocols that used it (XNS, DECNET, IPX, IP) all had their own length fields. However, the 802 committee needed a standard that did not depend on the good behavior of other programs. The 802.3 standard therefore replaced the two byte type field with a two byte length field.
Xerox had not assigned any important types to have a decimal value below 1500. Since the maximum size of a packet on Ethernet is 1500 bytes, there was no conflict or overlap between DIX and 802 standards. Any Ethernet packet with a type/length field less than 1500 is in 802.3 format (with a length) while any packet in which the field value is greater than 1500 must be in DIX format (with a type).
The 802 committee then created a new field to substitute for Type. The 802.2 header follows the 802.3 header (and also follows the comparable fields in a Token Ring, FDDI, or other types of LAN).
The 802.2 header is three bytes long for control packets or the kind of connectionless data sent by all the old DIX protocols. A four byte header is defined for connection oriented data, which refers primarily to SNA and NETBEUI. The first two bytes identify the SAP. Even with hindsight it is not clear exactly what the IEEE expected this field to be used for. In current use, the two SAP fields are set to 0x0404 for SNA and 0xF0F0 for NETBEUI.
SNAP
The IEEE left all the other protocols in a confusing situation. They did not need any new services and did not benefit from the change. Furthermore, a one byte SAP could not substitute for the two byte type field. Yet 802.2 was an International Standard, and that has the force of law in many areas. The compromise was to create a special version of the 802.2 header that conformed to the standard but actually repackaged the old DIX conventions.
Under SNAP, the 802.2 header appears to be a datagram message (control field 0x03) between SAP ID 0xAA. The first five bytes of what 802.2 considers data are actually a subheader ending in the two byte DIX type value. Any of the old DIX protocols can convert their existing logic to legal 802 SNAP by simply moving the DIX type field back eight bytes from its original location.
Conclusion
The textbook definitions of Ethernet have little to do with current practice. Ethernet is supposed to be a single common medium with multiple connections. That may be true for older installations and laboratory environments. However, new desktop installations bring Ethernet to the desktop over phone wire and frequently build the spine using fiber optics.
The connection between the hub in the wiring closet and the adapter card in the PC forms a single point- to-point Ethernet segment between two stations. The connection to the rest of the LAN involves active electronics in the hub. In current use, this is done with a repeater that copies every bit and propagates collisions.
A new generation of even smarter hubs provides a "bridge" connection between the main LAN and the phone wire. Only multicast messages and private messages specifically addressed to the PC are forwarded to the desktop. This has two advantages:
It provides greater security, because the desktop user cannot spy on traffic addressed to other nodes.
It provides each desktop user with an isolated, private 10 megabit data path free of collisions. The connection between hubs can then use a higher speed fiber optic protocol (such as "ATM") to deliver much greater performance than simple Ethernet. This hybrid (Ethernet to the desktop, something else between the hubs) represents a compromise of high performance and low cost.
However, bridging Ethernet to any other LAN protocol requires some attention to frame formats. Unfortunately, the "standards" are still a mess. DIX and 802 messages flow on the same LAN. Bridges must be aware of the protocol conventions and select the correct frame format when moving data onto or off of an Ethernet.
Copyright 1995 PCLT -- Ethernet -- H. Gilbert
This document generated by SpHyDir another fine product of PC Lube and Tune.
7 Layer OSI dalam Jaringan
Pengantar Model Open Systems Interconnection(OSI)
Model Open Systems Interconnection (OSI) diciptakan oleh International Organization for Standardization (ISO) yang menyediakan kerangka logika terstruktur bagaimana proses komunikasi data berinteraksi melalui jaringan. Standard ini dikembangkan untuk industri komputer agar komputer dapat berkomunikasi pada jaringan yang berbeda secara efisien.
Model Layer OSI
Terdapat 7 layer pada model OSI. Setiap layer bertanggungjawwab secara khusus pada proses komunikasi data. Misal, satu layer bertanggungjawab untuk membentuk koneksi antar perangkat, sementara layer lainnya bertanggungjawab untuk mengoreksi terjadinya “error” selama proses transfer data berlangsung.
Model Layer OSI dibagi dalam dua group: “upper layer” dan “lower layer”. “Upper layer” fokus pada applikasi pengguna dan bagaimana file direpresentasikan di komputer. Untuk Network Engineer, bagian utama yang menjadi perhatiannya adalah pada “lower layer”. Lower layer adalah intisari komunikasi data melalui jaringan aktual.
“Open” dalam OSI
“Open†dalam OSI adalah untuk menyatakan model jaringan yang melakukan interkoneksi tanpa memandang perangkat keras/ “hardware” yang digunakan, sepanjang software komunikasi sesuai dengan standard. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan “modularity” (dapat dibongkar pasang).
Modularity
“Modularity” mengacu pada pertukaran protokol di level tertentu tanpa mempengaruhi atau merusak hubungan atau fungsi dari level lainnya.
Dalam sebuah layer, protokol saling dipertukarkan, dan memungkinkan komunikasi terus berlangsung. Pertukaran ini berlangsung didasarkan pada perangkat keras “hardware” dari vendor yang berbeda dan bermacam-macam alasan atau keinginan yang berbeda.
Modularity
Seperti contoh Jasa Antar/Kurir. “Modularity” pada level transportasi menyatakan bahwa tidak penting, bagaimana cara paket sampai ke pesawat.
Paket untuk sampai di pesawat, dapat dikirim melalui truk atau kapal. Masing-masing cara tersebut, pengirim tetap mengirimkan dan berharap paket tersebut sampai di Toronto. Pesawat terbang membawa paket ke Toronto tanpa memperhatikan bagaimana paket tersebut sampai di pesawat itu.
7 Layer OSI
Model OSI terdiri dari 7 layer :
Application
Presentation
Session
Transport
Network
Data Link
Physical
Apa yang dilakukan oleh 7 layer OSI ?
Ketika data ditransfer melalui jaringan, sebelumnya data tersebut harus melewati ke-tujuh layer dari satu terminal, mulai dari layer aplikasi sampai physical layer, kemudian di sisi penerima, data tersebut melewati layer physical sampai aplikasi. Pada saat data melewati satu layer dari sisi pengirim, maka akan ditambahkan satu “header” sedangkan pada sisi penerima “header” dicopot sesuai dengan layernya.
Model OSI
Tujuan utama penggunaan model OSI adalah untuk membantu desainer jaringan memahami fungsi dari tiap-tiap layer yang berhubungan dengan aliran komunikasi data. Termasuk jenis-jenis protoklol jaringan dan metode transmisi.
Model dibagi menjadi 7 layer, dengan karakteristik dan fungsinya masing-masing. Tiap layer harus dapat berkomunikasi dengan layer di atasnya maupun dibawahnya secara langsung melalui serentetan protokol dan standard.
Model OSI
Keterangan
Application Layer: Menyediakan jasa untuk aplikasi pengguna. Layer ini bertanggungjawab atas pertukaran informasi antara program komputer, seperti program e-mail, dan service lain yang jalan di jaringan, seperti server printer atau aplikasi komputer lainnya.
Presentation Layer: Bertanggung jawab bagaimana data dikonversi dan diformat untuk transfer data. Contoh konversi format text ASCII untuk dokumen, .gif dan JPG untuk gambar. Layer ini membentuk kode konversi, translasi data, enkripsi dan konversi.
Session Layer: Menentukan bagaimana dua terminal menjaga, memelihara dan mengatur koneksi,- bagaimana mereka saling berhubungan satu sama lain. Koneksi di layer ini disebut “session”.
Transport Layer: Bertanggung jawab membagi data menjadi segmen, menjaga koneksi logika “end-to-end” antar terminal, dan menyediakan penanganan error (error handling).
Network Layer: Bertanggung jawab menentukan alamat jaringan, menentukan rute yang harus diambil selama perjalanan, dan menjaga antrian trafik di jaringan. Data pada layer ini berbentuk paket.
Data Link Layer: Menyediakan link untuk data, memaketkannya menjadi frame yang berhubungan dengan “hardware” kemudian diangkut melalui media. komunikasinya dengan kartu jaringan, mengatur komunikasi layer physical antara sistem koneksi dan penanganan error.
Physical Layer: Bertanggung jawab atas proses data menjadi bit dan mentransfernya melalui media, seperti kabel, dan menjaga koneksi fisik antar sistem.
Model Open Systems Interconnection (OSI) diciptakan oleh International Organization for Standardization (ISO) yang menyediakan kerangka logika terstruktur bagaimana proses komunikasi data berinteraksi melalui jaringan. Standard ini dikembangkan untuk industri komputer agar komputer dapat berkomunikasi pada jaringan yang berbeda secara efisien.
Model Layer OSI
Terdapat 7 layer pada model OSI. Setiap layer bertanggungjawwab secara khusus pada proses komunikasi data. Misal, satu layer bertanggungjawab untuk membentuk koneksi antar perangkat, sementara layer lainnya bertanggungjawab untuk mengoreksi terjadinya “error” selama proses transfer data berlangsung.
Model Layer OSI dibagi dalam dua group: “upper layer” dan “lower layer”. “Upper layer” fokus pada applikasi pengguna dan bagaimana file direpresentasikan di komputer. Untuk Network Engineer, bagian utama yang menjadi perhatiannya adalah pada “lower layer”. Lower layer adalah intisari komunikasi data melalui jaringan aktual.
“Open” dalam OSI
“Open†dalam OSI adalah untuk menyatakan model jaringan yang melakukan interkoneksi tanpa memandang perangkat keras/ “hardware” yang digunakan, sepanjang software komunikasi sesuai dengan standard. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan “modularity” (dapat dibongkar pasang).
Modularity
“Modularity” mengacu pada pertukaran protokol di level tertentu tanpa mempengaruhi atau merusak hubungan atau fungsi dari level lainnya.
Dalam sebuah layer, protokol saling dipertukarkan, dan memungkinkan komunikasi terus berlangsung. Pertukaran ini berlangsung didasarkan pada perangkat keras “hardware” dari vendor yang berbeda dan bermacam-macam alasan atau keinginan yang berbeda.
Modularity
Seperti contoh Jasa Antar/Kurir. “Modularity” pada level transportasi menyatakan bahwa tidak penting, bagaimana cara paket sampai ke pesawat.
Paket untuk sampai di pesawat, dapat dikirim melalui truk atau kapal. Masing-masing cara tersebut, pengirim tetap mengirimkan dan berharap paket tersebut sampai di Toronto. Pesawat terbang membawa paket ke Toronto tanpa memperhatikan bagaimana paket tersebut sampai di pesawat itu.
7 Layer OSI
Model OSI terdiri dari 7 layer :
Application
Presentation
Session
Transport
Network
Data Link
Physical
Apa yang dilakukan oleh 7 layer OSI ?
Ketika data ditransfer melalui jaringan, sebelumnya data tersebut harus melewati ke-tujuh layer dari satu terminal, mulai dari layer aplikasi sampai physical layer, kemudian di sisi penerima, data tersebut melewati layer physical sampai aplikasi. Pada saat data melewati satu layer dari sisi pengirim, maka akan ditambahkan satu “header” sedangkan pada sisi penerima “header” dicopot sesuai dengan layernya.
Model OSI
Tujuan utama penggunaan model OSI adalah untuk membantu desainer jaringan memahami fungsi dari tiap-tiap layer yang berhubungan dengan aliran komunikasi data. Termasuk jenis-jenis protoklol jaringan dan metode transmisi.
Model dibagi menjadi 7 layer, dengan karakteristik dan fungsinya masing-masing. Tiap layer harus dapat berkomunikasi dengan layer di atasnya maupun dibawahnya secara langsung melalui serentetan protokol dan standard.
Model OSI
Keterangan
Application Layer: Menyediakan jasa untuk aplikasi pengguna. Layer ini bertanggungjawab atas pertukaran informasi antara program komputer, seperti program e-mail, dan service lain yang jalan di jaringan, seperti server printer atau aplikasi komputer lainnya.
Presentation Layer: Bertanggung jawab bagaimana data dikonversi dan diformat untuk transfer data. Contoh konversi format text ASCII untuk dokumen, .gif dan JPG untuk gambar. Layer ini membentuk kode konversi, translasi data, enkripsi dan konversi.
Session Layer: Menentukan bagaimana dua terminal menjaga, memelihara dan mengatur koneksi,- bagaimana mereka saling berhubungan satu sama lain. Koneksi di layer ini disebut “session”.
Transport Layer: Bertanggung jawab membagi data menjadi segmen, menjaga koneksi logika “end-to-end” antar terminal, dan menyediakan penanganan error (error handling).
Network Layer: Bertanggung jawab menentukan alamat jaringan, menentukan rute yang harus diambil selama perjalanan, dan menjaga antrian trafik di jaringan. Data pada layer ini berbentuk paket.
Data Link Layer: Menyediakan link untuk data, memaketkannya menjadi frame yang berhubungan dengan “hardware” kemudian diangkut melalui media. komunikasinya dengan kartu jaringan, mengatur komunikasi layer physical antara sistem koneksi dan penanganan error.
Physical Layer: Bertanggung jawab atas proses data menjadi bit dan mentransfernya melalui media, seperti kabel, dan menjaga koneksi fisik antar sistem.
Selasa, 05 Oktober 2010
Jangan Taruh Laptop Menyala di Pangkuan!
- pernah menaruh labtop menyala dipangkuan ,sambil ngaskus, ngerjain tugas, buka yang bebe2 dan lain lain gan?? ,
- pernah denger tentang ini ? , tapi ragu apakah itu hanya hoax belaka tanpa penjelasan ilmiah?
- kalo iya, berarti anda ditempat yang benar gan nih ada artikel berita yang di dalamnya mengandung penjelasan ilmiah tentang apakah baik atau tidak menaruh laptop menyala di pangkuan .
- monggo disimak, tapi sebelumnya, di rate dulu biar yang laen tau gan
Quote:
INILAH.COM, Chicago - Apakah Anda pernah bekerja dengan laptop berada di pangkuan? Jika ya, mungkin Anda perlu memikirkan kembali kebiasaan tersebut.
Jika Anda serig melalukan kebiasaan itu, maka Anda bisa terkena 'sindrom kulit terpanggang'. Kulit Anda akan tampak berbintik-bintik yang disebabkan oleh paparan panas jangka panjang dari laptop, menurut laporan medis.
Dalam satu kasus baru-baru ini, seorang anak berusia 12 mengalami perubahan warna kulit di paha kirinya setelah bermain game komputer beberapa jam setiap hari selama beberapa bulan.
"Dia mengakui bahwa laptop membuat panas kaki kirinya, namun ia tidak mengubah posisinya," lapor para peneliti Swiss dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics, Senin (4/10).
Kasus lainnya melibatkan seorang mahasiswa fakultas hukum di Virginia yang mencari pengobatan untuk perubahan warna belang-belang di kakinya.
Dr Kimberley Salkey, yang menangani pengobatan wanita muda itu kebingungan, hingga ia mengetahui bahwa mahasiswa itu menghabiskan waktu sekitar enam jam sehari bekerja dengan lapotop yang disandarkan di pangkuan. Suhu di bagian bawah laptop itu mencapai 125 derajat.
Kasus itu terjadi pada 2007, dan merupakan salah satu dari 10 kasus yang berhubungan dengan laptop yang dilaporkan di dalam jurnal medis dalam enam tahun terakhir.
Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh terlalu sering menggunakan bantalan pemanas dan sumber panas lain yang biasanya tidak cukup panas untuk menyebabkan luka bakar.
"Ini umumnya tidak berbahaya tetapi bisa menyebabkan penggelapan kulit permanen. Dalam kasus yang sangat jarang, dapat menyebabkan kerusakan yang mengarah ke kanker kulit," kata para peneliti Swiss, Drs Andreas Arnold dan Peter ITIN dari University Hospital Basel.
Mereka tidak mengutip kasus kanker kulit manapun yang dihubungkan dengan penggunaan laptop. Namun mereka menyarankan untuk menempatkan tas atau perisai panas lainnya di bawah laptop, jika Anda harus menggunakan laptop di pangkuan Anda.
Salkey, asisten profesor dermatologi di Eastern Virginia Medical School, mengatakan bahwa melalui mikroskop terlihat kulit yang menyerupai kulit yang rusak oleh paparan sinar matahari jangka panjang.
Produsen utama laptop termasuk Apple, Hewlett Packard dan Dell memperingatkan dalam buku petunjuk untuk tidak menempatkan laptop di pangkuan atau kulit yang terbuka dalam waktu lama karena berisiko luka bakar.
Sebuah laporan medis beberapa tahun lalu menemukan bahwa pria yang menggunakan laptop di pangkuan mereka telah menyebabkan suhu skrotum tinggi. Jika berkepanjangan, panas semacam ini bisa menurunkan produksi sperma yang berpotensi menyebabkan kemandulan.
Di masa lalu, 'sindrom kulit terpanggang' telah terjadi pada pekerja yang bekerja dekat dengan sumber panas, termasuk orang-orang berperut buncit yang berkerumun di dekat kompor untuk tetap hangat.
Dr Anthony J Mancini, kepala dermatologi di Children's Memorial Hospital di Chicago, mengatakan, ia merawat seorang anak yang terkena kondisi itu karena penggunaan bantal pemanas untuk menenangkan paha yang terluka dalam sepak bola. Mancini mengatakan ia juga melihat kasus disebabkan oleh botol air panas.
Dia mencatat bahwa radang kulit kronis berkepanjangan berpotensi dapat meningkatkan peluang untuk sel kanker kulit squamous, yang lebih agresif daripada kanker kulit biasanya.
Namun Mancini mengatakan bahwa penggunaan komputer tidak akan menyebabkan kanker, karena begitu mudah menghindari kontak kulit berkepanjangan dengan laptop. [mor]
Quote:
singkat kata, ini gan ringkasannya:
- ini adalah hasil penelitian ilmiah
- jangan taro laptop di atas pangkuan dalam waktu lama
- meletakkan laptop menyala dalam waktu lama bisa menyebabkan:
1. kulit paha belang2 karena suhu panas (serupa dengan luka kena air panas)
2. lama kelamaan meningkatkan resiko kangker kulit
3. buat para laki2 berbahaya buat skrotumnya (a.k.a kantong menyan gan ) karena skrotumnya bisa panas, dan ini bisa menurunkan kinerja dalam produksi sperma.
4. ada anjuran untuk menggunakan bantalan laptop dari para peneliti
5. tapi tetap lebih baik ditaro di tempat lain (jangan dipangku)
6. ... (silahkan ditambah)
- pernah denger tentang ini ? , tapi ragu apakah itu hanya hoax belaka tanpa penjelasan ilmiah?
- kalo iya, berarti anda ditempat yang benar gan nih ada artikel berita yang di dalamnya mengandung penjelasan ilmiah tentang apakah baik atau tidak menaruh laptop menyala di pangkuan .
- monggo disimak, tapi sebelumnya, di rate dulu biar yang laen tau gan
Quote:
INILAH.COM, Chicago - Apakah Anda pernah bekerja dengan laptop berada di pangkuan? Jika ya, mungkin Anda perlu memikirkan kembali kebiasaan tersebut.
Jika Anda serig melalukan kebiasaan itu, maka Anda bisa terkena 'sindrom kulit terpanggang'. Kulit Anda akan tampak berbintik-bintik yang disebabkan oleh paparan panas jangka panjang dari laptop, menurut laporan medis.
Dalam satu kasus baru-baru ini, seorang anak berusia 12 mengalami perubahan warna kulit di paha kirinya setelah bermain game komputer beberapa jam setiap hari selama beberapa bulan.
"Dia mengakui bahwa laptop membuat panas kaki kirinya, namun ia tidak mengubah posisinya," lapor para peneliti Swiss dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics, Senin (4/10).
Kasus lainnya melibatkan seorang mahasiswa fakultas hukum di Virginia yang mencari pengobatan untuk perubahan warna belang-belang di kakinya.
Dr Kimberley Salkey, yang menangani pengobatan wanita muda itu kebingungan, hingga ia mengetahui bahwa mahasiswa itu menghabiskan waktu sekitar enam jam sehari bekerja dengan lapotop yang disandarkan di pangkuan. Suhu di bagian bawah laptop itu mencapai 125 derajat.
Kasus itu terjadi pada 2007, dan merupakan salah satu dari 10 kasus yang berhubungan dengan laptop yang dilaporkan di dalam jurnal medis dalam enam tahun terakhir.
Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh terlalu sering menggunakan bantalan pemanas dan sumber panas lain yang biasanya tidak cukup panas untuk menyebabkan luka bakar.
"Ini umumnya tidak berbahaya tetapi bisa menyebabkan penggelapan kulit permanen. Dalam kasus yang sangat jarang, dapat menyebabkan kerusakan yang mengarah ke kanker kulit," kata para peneliti Swiss, Drs Andreas Arnold dan Peter ITIN dari University Hospital Basel.
Mereka tidak mengutip kasus kanker kulit manapun yang dihubungkan dengan penggunaan laptop. Namun mereka menyarankan untuk menempatkan tas atau perisai panas lainnya di bawah laptop, jika Anda harus menggunakan laptop di pangkuan Anda.
Salkey, asisten profesor dermatologi di Eastern Virginia Medical School, mengatakan bahwa melalui mikroskop terlihat kulit yang menyerupai kulit yang rusak oleh paparan sinar matahari jangka panjang.
Produsen utama laptop termasuk Apple, Hewlett Packard dan Dell memperingatkan dalam buku petunjuk untuk tidak menempatkan laptop di pangkuan atau kulit yang terbuka dalam waktu lama karena berisiko luka bakar.
Sebuah laporan medis beberapa tahun lalu menemukan bahwa pria yang menggunakan laptop di pangkuan mereka telah menyebabkan suhu skrotum tinggi. Jika berkepanjangan, panas semacam ini bisa menurunkan produksi sperma yang berpotensi menyebabkan kemandulan.
Di masa lalu, 'sindrom kulit terpanggang' telah terjadi pada pekerja yang bekerja dekat dengan sumber panas, termasuk orang-orang berperut buncit yang berkerumun di dekat kompor untuk tetap hangat.
Dr Anthony J Mancini, kepala dermatologi di Children's Memorial Hospital di Chicago, mengatakan, ia merawat seorang anak yang terkena kondisi itu karena penggunaan bantal pemanas untuk menenangkan paha yang terluka dalam sepak bola. Mancini mengatakan ia juga melihat kasus disebabkan oleh botol air panas.
Dia mencatat bahwa radang kulit kronis berkepanjangan berpotensi dapat meningkatkan peluang untuk sel kanker kulit squamous, yang lebih agresif daripada kanker kulit biasanya.
Namun Mancini mengatakan bahwa penggunaan komputer tidak akan menyebabkan kanker, karena begitu mudah menghindari kontak kulit berkepanjangan dengan laptop. [mor]
Quote:
singkat kata, ini gan ringkasannya:
- ini adalah hasil penelitian ilmiah
- jangan taro laptop di atas pangkuan dalam waktu lama
- meletakkan laptop menyala dalam waktu lama bisa menyebabkan:
1. kulit paha belang2 karena suhu panas (serupa dengan luka kena air panas)
2. lama kelamaan meningkatkan resiko kangker kulit
3. buat para laki2 berbahaya buat skrotumnya (a.k.a kantong menyan gan ) karena skrotumnya bisa panas, dan ini bisa menurunkan kinerja dalam produksi sperma.
4. ada anjuran untuk menggunakan bantalan laptop dari para peneliti
5. tapi tetap lebih baik ditaro di tempat lain (jangan dipangku)
6. ... (silahkan ditambah)
Selasa, 28 September 2010
Lirik Lagu Sheila on 7 – Lia Lia Lia
aku tergila-gila dengan bicaranya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku impikan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
tak tergetarkan semua yang menentangmu
lia lia lia
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
kau dan lingkaran jiwamu
menarik langkah kakiku
bermain dengan hatimu
aku terbakar bahagia… aiaiaiaia…
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
tumbuhan bunga liar
sekitar berjatuhan
tumbuhan bunga liar
kan terus berkelana
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku impikan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
tak tergetarkan semua yang menentangmu
lia lia lia
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
kau dan lingkaran jiwamu
menarik langkah kakiku
bermain dengan hatimu
aku terbakar bahagia… aiaiaiaia…
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
tumbuhan bunga liar
sekitar berjatuhan
tumbuhan bunga liar
kan terus berkelana
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
Lirik Lagu Sheila on 7 – Lia Lia Lia
aku tergila-gila dengan bicaranya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku impikan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
tak tergetarkan semua yang menentangmu
lia lia lia
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
kau dan lingkaran jiwamu
menarik langkah kakiku
bermain dengan hatimu
aku terbakar bahagia… aiaiaiaia…
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
tumbuhan bunga liar
sekitar berjatuhan
tumbuhan bunga liar
kan terus berkelana
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku impikan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
tak tergetarkan semua yang menentangmu
lia lia lia
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
kau dan lingkaran jiwamu
menarik langkah kakiku
bermain dengan hatimu
aku terbakar bahagia… aiaiaiaia…
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
tumbuhan bunga liar
sekitar berjatuhan
tumbuhan bunga liar
kan terus berkelana
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
Ras Indonesia Yang Sempurna !! Bangga Jadi orang Indonesia
RAS INDONESIA YANG SEMPURNA
Ras Indonesia kami menyebutnya dengan demikian. Ras ini terdiri dari seluruh suku yang ada di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Minang, Melayu, Dayak, Bugis, Bali, Sasak, Papua dan sebagainya. Seluruh suku ini rata-rata memiliki persamaan fisik yaitu kulit sawo matang, ukuran tubuh kecil, hidung kecil dan rambut hitam.
Umumnya orang Indonesia menganggap orang asing yang putih, tinggi, langsing, hidung mancung, bibir tipis, dan rambut pirang lebih cantik atau tampan. Kita harus mulai belajar memahami cantik dari berbagai sudut pandang. Ternyata beberapa orang Indonesia yang di Indonesia dianggap biasa aja, menurut pandangan orang negara lain malah dianggap cantik. Begitu juga sebaliknya, yang di Indonesia dianggap cantik, belum tentu cantik di mata orang asing. Sebenarnya orang berpredikat tampan-cantik itu berkulit coklat, hidung kecil, mata hitam, rambut hitam. Ciri fisik itu dimiliki ras Indonesia.
WARNA KULIT ORANG INDONESIA LEBIH SEXY
Kulit coklat dan kuning langsat merupakan warna kulit yang khas dari ras kita sendiri dan sangat mencerminkan Indonesia. Di Eropa dan Amerika Kulit yang coklat dianggap lebih sexy. Di Eropa dan Amerika banyak orang yang sengaja membuat kulitnya coklat dengan pergi berjemur. Di AS-Eropa banyak salon pencokelat kulit. Menurut wikipedia ada 30 Juta wanita kulit putih AS pelanggan 50 Ribu salon pencokelat kulit dengan nilai pasar Rp. 50 Trilliun setahun.
Kita sebagai ras Indonesia, tercipta dengan pigmen kulit dominan yaitu pigmen eumelanin (pigmen yang menyebabkan kulit coklat sampai hitam) dan pigmen karoten (penyebab warna kuning), makanya sebagian besar orang-orang Indonesia mempunyai kulit sawo matang dan kuning langsat. Orang Indonesia yang paling putih berwarna kuning langsat lebih indah dari kulit orang Eropa yang pucat kemerahan. Yang paling hitamnya tidak kalah manis, orang Ambon, Flores dan Papua memiliki warna kulit lebih coklat tapi tidak sehitam orang Afrika. Warna coklatnya pas. Warna cokelat-hitam terlihat lebih menggemaskan dan manis daripada warna putih. Kulit coklat memang lebih keren, seksi, dan eksotis. Di Amerika Serikat orang berkulit cokelat dianggap tampan dan disukai mahasiswi kulit putih AS.
Kelebihan lainnya dari kulit kita yaitu lebih tahan radiasi ultraviolet. Dalam tubuh kita ada zat yang bernama melanin yang membuat kulit kita berwarna kecoklatan. Melanin mempunyai fungsi utama yaitu melindungi epidermis dan dermis dari bahaya radiasi ultraviolet.
MISS World 2009, Kalane Aldortno kelahiran Gibraltar, daerah di Eropa barat daya dekat perairan Spanyol, memuji perempuan Indonesia yang punya Jenis dan warna kulit yang Indah. Dia begitu menyukai perempuan Indonesia yang punya banyak warna kulit. Karena, di tempat kelahirannya hampir semua perempuan kulitnya berwana gelap dan kecokelatan. "Di negara saya mungkin warna kulit seperti Ini lebih dikenal sebagai mediteranian. Jadi, waktu melihat kulit perempuan Indonesia yang berbagai Jenis dan warnanya, ada yang putih, kuning, kecokelatan. dan gelap, saya Jadi agak Iri. Apalagi, semua terlihat mulus dan seperti bersinar," ucap Kalane saat ditemui di sela-sela kunjungannya pada acara pemilihan Miss Indonesia 2010 di sebuah pusat perbelanjaan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
HIDUNG KECIL LEBIH MANIS
Bangsa Indonesia rata-rata memiliki hidung yang kecil. Kalau mancung juga mancung yang indah tidak terlalu besar. Bangsa lain seperti Eropa dan Iran hidung yang sangat mancung dan panjang, bahkan ada yang melakukan bedah plastik untuk "dipotong dan dipendekkan hidungnya. Hidung Indonesia yang mancung kecil dipandang sebagai hidung yang sempurna. Orang Indonesia yang berhidung pesek pun sebenarnya membuat wajah menjadi lebih manis.
Pada film-film futuristrik sering digambarkan alien yang telah berevolusi sempurna. Digambarkan alien itu memiliki Hidung yang begitu kecil dan pesek malah bisa dibilang hidungnya hanya lubang kecil saja, mungkin pada masa depan kandungan oksigen di udara sangat tipis. Dengan hidung kecil juga manusia telah dipersiapkan untuk menghadapi polusi udara. Bisa dibayangkan, betapa susahnya kita memakai masker di tengah polusi udara andaikata hidung kita semancung hidung gajah.
Keuntungan lainnya dari berhidung kecil yaitu daya jangkau penglihatan orang berhidung pesek lebih luas daripada yang berhidung mancung karena tidak menghalangi pandangan mata. Hidung yang terlalu mancung dapat mengganggu penglihatan pandangan mata karena terhalang hidungnya yang mancung.
ORANG INDONESIA TAMPAK LEBIH AWET MUDA
Dibandingkan dengan individu pada usia yang sama dari etnis kulit putih (Kaukasia), Afrika, latin dan Arab, maka kita bangsa Indonesia diberkahi Tuhan dengan keistimewaan lebih tampak awet muda. Kulit orang Indonesia relatif lebih tebal dan komposisi serat-serat kolagennya jauh lebih kaya. Oleh karena itu, kerutan-kerutan dan kekenduran kulit yang terjadi akan jauh lebih ringan dibandingkan etnis kulit putih. Proses penuaan ditandai dengan penurunan elastisitas serabut-serabut kolagen; pada etnis kulit putih dengan komposisi serat kolagen yang lebih sedikit maka akan terlihat lebih cepat tua daripada orang Indonesia.
Orang Indonesia cenderung tampak muda daripada usia yang sesungguhnya. Orang Indonesia bisa lebih tampak lebih muda 5 s.d 10 tahun dibandingkan etnis Eropa, Arab ataupun Afrika. Orang Indonesia yang berumur 30 tahun, di eropa bisa dikira masih berumur 20 tahunan..
TUBUH LEBIH KECIL LEBIH CANGGIH
Biasanya orang menganggap postur tubuh yang lebih tinggi dan besar, dalam evolusi ditafsirkan sebagai sinyal dari sumber genetika yang lebih berkualitas. Juga orang yang lebih jangkung, ditafsirkan memiliki kualitas kesehatan lebih baik. Padahal kita tahu bahwa sebenarnya alat yang canggih biasanya lebih kecil, lebih ringan dan hemat tempat.
Ras yang lebih besar dan kuat belum tentu berevolusi lebih baik. Buktinya gajah lebih kuat dan besar dibandingkan manusia tapi apakah gajah lebih sempurna dari manusia. Di masa lalu bumi dipenuhi oleh makhluk-makhluk bertubuh besar seperti dinosaurus. Di masa kini banyak makhluk yang bertubuh lebih kecil dibandingkan zaman dulu sehingga membuat persediaan makanan di dunia tetap cukup. Makhluk yang bertubuh kecil lebih cocok untuk hidup di masa depan.
Ras Indonesia memproduksi lebih sedikit bau badan.
Kelompok-kelompok etnis yang berbeda memiliki karakteristik bau tubuh yang berbeda. Keringat berlebih adalah masalah yang lebih banyak dihadapi oleh orang kaukasian dan afrikan, yang memiliki lebih banyak kantung rambut (tempat dimana apocrine berasal). Sedangkan orang Indonesia cenderung memiliki lebih sedikit kelenjar apocrine, itulah sebabnya orang eropa dan afrika lebih cenderung bau. Orang kulit Putih cenderung lebih bau seperti keju. Orang kulit hitam memiliki aroma cocoa butter. Orang India juga memiliki ciri bau yang khas. Orang-orang asing memiliki kecenderungan bau badan yang lebih tinggi. Tidak aneh kalau minyak wangi dan deodoran sangat laku di luar negeri. Orang Indonesia sedikit lebih wangi kecuali orang yang jarang mandi dan punya masalah bau badan tentunya.
ORANG INDONESIA TIDAK KALAH CERDAS
Soal kecerdasan tentunya orang Indonesia tidak kalah. Orang-orang cerdas di Indonesia sebenarnya banyak. Banyak ilmuwan Indonesia yang berprestasi di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan multi nasional berkedudukan di luar negeri, lembaga riset negara asing, dan bahkan menjadi dekan di sebuah universitas Jepang.
Dengan pendidikan yang lebih baik maka bukan tidak mungkin akan banyak tercipta makhluk cerdas yang berasal dari Indonesia.
Lantas mengapa kita masih tertinggal jauh dari kebanyakan negara-negara lain?
Indonesia tentunya saat ini sedang berkembang. Kurangnya rasa percaya diri dan kurangnya kerja keras serta para pemimpin bangsa ini yang kurang pandai dan kurang punya kebanggaan terhadap bangsa ini menyebabkan bangsa kita masih tertinggal. Tentunya nanti kita harapkan di bawah kepemimpinan yang tepat, Indonesia akan maju dengan sangat pesat melebihi bangsa-bangsa lainnya.
Kita juga harus mengembangkan diri kita sendiri. Ras Indonesia tentunya harus dikembangkan lagi supaya lebih sempurna dengan pemahaman Agama untuk lebih meningkatkan moral spiritual, pendidikan yang lebih baik untuk meningkatkan pengetahuan serta Olahraga dan makanan bergizi untuk meningkatkan kemampuan fisik.
Sebenarnya masing-masing ras memiliki kelebihan masing-masing. Bangsa Indonesia juga memiliki kelebihan dari bangsa lain. Kita harus bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan pada kita. Bangsa Indonesia bisa jadi merupakan manusia yang telah berevolusi sempurna dengan fisik yang disiapkan untuk keadaan alam di masa depan.
Ras Indonesia kami menyebutnya dengan demikian. Ras ini terdiri dari seluruh suku yang ada di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Minang, Melayu, Dayak, Bugis, Bali, Sasak, Papua dan sebagainya. Seluruh suku ini rata-rata memiliki persamaan fisik yaitu kulit sawo matang, ukuran tubuh kecil, hidung kecil dan rambut hitam.
Umumnya orang Indonesia menganggap orang asing yang putih, tinggi, langsing, hidung mancung, bibir tipis, dan rambut pirang lebih cantik atau tampan. Kita harus mulai belajar memahami cantik dari berbagai sudut pandang. Ternyata beberapa orang Indonesia yang di Indonesia dianggap biasa aja, menurut pandangan orang negara lain malah dianggap cantik. Begitu juga sebaliknya, yang di Indonesia dianggap cantik, belum tentu cantik di mata orang asing. Sebenarnya orang berpredikat tampan-cantik itu berkulit coklat, hidung kecil, mata hitam, rambut hitam. Ciri fisik itu dimiliki ras Indonesia.
WARNA KULIT ORANG INDONESIA LEBIH SEXY
Kulit coklat dan kuning langsat merupakan warna kulit yang khas dari ras kita sendiri dan sangat mencerminkan Indonesia. Di Eropa dan Amerika Kulit yang coklat dianggap lebih sexy. Di Eropa dan Amerika banyak orang yang sengaja membuat kulitnya coklat dengan pergi berjemur. Di AS-Eropa banyak salon pencokelat kulit. Menurut wikipedia ada 30 Juta wanita kulit putih AS pelanggan 50 Ribu salon pencokelat kulit dengan nilai pasar Rp. 50 Trilliun setahun.
Kita sebagai ras Indonesia, tercipta dengan pigmen kulit dominan yaitu pigmen eumelanin (pigmen yang menyebabkan kulit coklat sampai hitam) dan pigmen karoten (penyebab warna kuning), makanya sebagian besar orang-orang Indonesia mempunyai kulit sawo matang dan kuning langsat. Orang Indonesia yang paling putih berwarna kuning langsat lebih indah dari kulit orang Eropa yang pucat kemerahan. Yang paling hitamnya tidak kalah manis, orang Ambon, Flores dan Papua memiliki warna kulit lebih coklat tapi tidak sehitam orang Afrika. Warna coklatnya pas. Warna cokelat-hitam terlihat lebih menggemaskan dan manis daripada warna putih. Kulit coklat memang lebih keren, seksi, dan eksotis. Di Amerika Serikat orang berkulit cokelat dianggap tampan dan disukai mahasiswi kulit putih AS.
Kelebihan lainnya dari kulit kita yaitu lebih tahan radiasi ultraviolet. Dalam tubuh kita ada zat yang bernama melanin yang membuat kulit kita berwarna kecoklatan. Melanin mempunyai fungsi utama yaitu melindungi epidermis dan dermis dari bahaya radiasi ultraviolet.
MISS World 2009, Kalane Aldortno kelahiran Gibraltar, daerah di Eropa barat daya dekat perairan Spanyol, memuji perempuan Indonesia yang punya Jenis dan warna kulit yang Indah. Dia begitu menyukai perempuan Indonesia yang punya banyak warna kulit. Karena, di tempat kelahirannya hampir semua perempuan kulitnya berwana gelap dan kecokelatan. "Di negara saya mungkin warna kulit seperti Ini lebih dikenal sebagai mediteranian. Jadi, waktu melihat kulit perempuan Indonesia yang berbagai Jenis dan warnanya, ada yang putih, kuning, kecokelatan. dan gelap, saya Jadi agak Iri. Apalagi, semua terlihat mulus dan seperti bersinar," ucap Kalane saat ditemui di sela-sela kunjungannya pada acara pemilihan Miss Indonesia 2010 di sebuah pusat perbelanjaan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
HIDUNG KECIL LEBIH MANIS
Bangsa Indonesia rata-rata memiliki hidung yang kecil. Kalau mancung juga mancung yang indah tidak terlalu besar. Bangsa lain seperti Eropa dan Iran hidung yang sangat mancung dan panjang, bahkan ada yang melakukan bedah plastik untuk "dipotong dan dipendekkan hidungnya. Hidung Indonesia yang mancung kecil dipandang sebagai hidung yang sempurna. Orang Indonesia yang berhidung pesek pun sebenarnya membuat wajah menjadi lebih manis.
Pada film-film futuristrik sering digambarkan alien yang telah berevolusi sempurna. Digambarkan alien itu memiliki Hidung yang begitu kecil dan pesek malah bisa dibilang hidungnya hanya lubang kecil saja, mungkin pada masa depan kandungan oksigen di udara sangat tipis. Dengan hidung kecil juga manusia telah dipersiapkan untuk menghadapi polusi udara. Bisa dibayangkan, betapa susahnya kita memakai masker di tengah polusi udara andaikata hidung kita semancung hidung gajah.
Keuntungan lainnya dari berhidung kecil yaitu daya jangkau penglihatan orang berhidung pesek lebih luas daripada yang berhidung mancung karena tidak menghalangi pandangan mata. Hidung yang terlalu mancung dapat mengganggu penglihatan pandangan mata karena terhalang hidungnya yang mancung.
ORANG INDONESIA TAMPAK LEBIH AWET MUDA
Dibandingkan dengan individu pada usia yang sama dari etnis kulit putih (Kaukasia), Afrika, latin dan Arab, maka kita bangsa Indonesia diberkahi Tuhan dengan keistimewaan lebih tampak awet muda. Kulit orang Indonesia relatif lebih tebal dan komposisi serat-serat kolagennya jauh lebih kaya. Oleh karena itu, kerutan-kerutan dan kekenduran kulit yang terjadi akan jauh lebih ringan dibandingkan etnis kulit putih. Proses penuaan ditandai dengan penurunan elastisitas serabut-serabut kolagen; pada etnis kulit putih dengan komposisi serat kolagen yang lebih sedikit maka akan terlihat lebih cepat tua daripada orang Indonesia.
Orang Indonesia cenderung tampak muda daripada usia yang sesungguhnya. Orang Indonesia bisa lebih tampak lebih muda 5 s.d 10 tahun dibandingkan etnis Eropa, Arab ataupun Afrika. Orang Indonesia yang berumur 30 tahun, di eropa bisa dikira masih berumur 20 tahunan..
TUBUH LEBIH KECIL LEBIH CANGGIH
Biasanya orang menganggap postur tubuh yang lebih tinggi dan besar, dalam evolusi ditafsirkan sebagai sinyal dari sumber genetika yang lebih berkualitas. Juga orang yang lebih jangkung, ditafsirkan memiliki kualitas kesehatan lebih baik. Padahal kita tahu bahwa sebenarnya alat yang canggih biasanya lebih kecil, lebih ringan dan hemat tempat.
Ras yang lebih besar dan kuat belum tentu berevolusi lebih baik. Buktinya gajah lebih kuat dan besar dibandingkan manusia tapi apakah gajah lebih sempurna dari manusia. Di masa lalu bumi dipenuhi oleh makhluk-makhluk bertubuh besar seperti dinosaurus. Di masa kini banyak makhluk yang bertubuh lebih kecil dibandingkan zaman dulu sehingga membuat persediaan makanan di dunia tetap cukup. Makhluk yang bertubuh kecil lebih cocok untuk hidup di masa depan.
Ras Indonesia memproduksi lebih sedikit bau badan.
Kelompok-kelompok etnis yang berbeda memiliki karakteristik bau tubuh yang berbeda. Keringat berlebih adalah masalah yang lebih banyak dihadapi oleh orang kaukasian dan afrikan, yang memiliki lebih banyak kantung rambut (tempat dimana apocrine berasal). Sedangkan orang Indonesia cenderung memiliki lebih sedikit kelenjar apocrine, itulah sebabnya orang eropa dan afrika lebih cenderung bau. Orang kulit Putih cenderung lebih bau seperti keju. Orang kulit hitam memiliki aroma cocoa butter. Orang India juga memiliki ciri bau yang khas. Orang-orang asing memiliki kecenderungan bau badan yang lebih tinggi. Tidak aneh kalau minyak wangi dan deodoran sangat laku di luar negeri. Orang Indonesia sedikit lebih wangi kecuali orang yang jarang mandi dan punya masalah bau badan tentunya.
ORANG INDONESIA TIDAK KALAH CERDAS
Soal kecerdasan tentunya orang Indonesia tidak kalah. Orang-orang cerdas di Indonesia sebenarnya banyak. Banyak ilmuwan Indonesia yang berprestasi di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan multi nasional berkedudukan di luar negeri, lembaga riset negara asing, dan bahkan menjadi dekan di sebuah universitas Jepang.
Dengan pendidikan yang lebih baik maka bukan tidak mungkin akan banyak tercipta makhluk cerdas yang berasal dari Indonesia.
Lantas mengapa kita masih tertinggal jauh dari kebanyakan negara-negara lain?
Indonesia tentunya saat ini sedang berkembang. Kurangnya rasa percaya diri dan kurangnya kerja keras serta para pemimpin bangsa ini yang kurang pandai dan kurang punya kebanggaan terhadap bangsa ini menyebabkan bangsa kita masih tertinggal. Tentunya nanti kita harapkan di bawah kepemimpinan yang tepat, Indonesia akan maju dengan sangat pesat melebihi bangsa-bangsa lainnya.
Kita juga harus mengembangkan diri kita sendiri. Ras Indonesia tentunya harus dikembangkan lagi supaya lebih sempurna dengan pemahaman Agama untuk lebih meningkatkan moral spiritual, pendidikan yang lebih baik untuk meningkatkan pengetahuan serta Olahraga dan makanan bergizi untuk meningkatkan kemampuan fisik.
Sebenarnya masing-masing ras memiliki kelebihan masing-masing. Bangsa Indonesia juga memiliki kelebihan dari bangsa lain. Kita harus bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan pada kita. Bangsa Indonesia bisa jadi merupakan manusia yang telah berevolusi sempurna dengan fisik yang disiapkan untuk keadaan alam di masa depan.
motivasi buat menjadi lebih baik.............
Pengayuh Becak Lulus S1 dengan IPK 3,01
Sehari-hari Wawan Kurniawan (28) hanyalah seorang pengayuh becak. Namun siapa sangka pria yang biasa mangkal di depan kantor pos Purworejo itu adalah seorang mahasiswa berprestasi. Sabtu (8/11), dia diwisuda dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,01. Berikut laporannya.
Meski profesinya hanya tukang becak dengan pendapatan pas-pasan dan bahkan sehari-hari penghasilannya sering tidak bisa dipastikan, Wawan Kurniawan tetap punya prinsip dan slogan dalam hidupnya. ’’Optimistis dan jangan pernah menyerah tanpa usaha,’’ tandas warga RT 3 RW 8, Baledono Krajan, Purworejo itu.
Ya, dengan semangat itulah, dia berhasil meraih cita-citanya menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menurut dia, pengayuh becak hanyalah profesi. Dan, dia mengaku tidak malu menyandang profesi itu. Apalagi sejak kelas satu SMA dia memang sudah mengayuh becak.
Setiap hari, pukul 05.00-pukul 17.00, pria yang lahir di Purworejo 24 Desember 1980 itu mangkal di depan kantor pos Purworejo. Sabtu (8/11), mahasiswa Fakultas Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) ini diwisuda dengan IPK 3,01. IPK tersebut tertinggi di fakultasnya.
Kemarin, dia sibuk mengurus ijazahnya karena akan digunakan untuk mendaftar CPNS di Pemkab Purworejo. Meski ada keinginan menjadi pegawai negeri, dia tetap masih punya niat melanjutkan kuliah di UGM Yogyakarta.
Bagaimana dengan becaknya? ’’Ya, itu tetap akan saya pertahankan. Saya akan jadi pengayuh becak di Yogya,’’ katanya.
Bagi dia, becak yang dipakai saat ini punya nilai sejarah tersendiri. Becak itu semula adalah milik kakaknya. Namun becak itu kemudian menganggur karena kakaknya masuk pesantren. Sejak tahun 1997, becak dia pakai untuk mencari nafkah. Tempat mangkal favorit adalah di depan kantor pos Purworejo.
Dia mengungkapkan, penghasilan sebagai tukang becak ada pasang surutnya. Terkadang dalam sehari dia tidak mendapat uang sama sekali. Akan tetapi menjelang Lebaran lalu, Wawan pernah mendapat uang Rp 100 ribu/hari.
Hasil jerih payahnya itu, sebagian dimanfaatkan untuk membayar uang kuliah, meski dia sadar seringkali penghasilannya masih kurang untuk biaya di perguruan tinggi. Seingat dia, pada tahun pertama membayar Rp 2 juta. Selanjutnya untuk biaya per semester Rp 750 ribu. ’’Ya, kalau kurang, saya pinjam teman,’’ tuturnya.
Giat Belajar
Untuk bisa belajar sambil bekerja, dia berusaha membagi waktu. Bila ada jam kuliah, dia berusaha masuk. Setelah itu kembali ke pangkalan becak. Kapan belajar? Menurut Wawan, belajar biasa dilakukan pada malam hari. Dia juga biasa membawa buku-buku kuliah di laci becak. Bila sedang tidak ada penumpang, dia memanfaatkannya untuk belajar. ’’Dulu pas ramai judi togel saya pernah dikira sedang meramal nomor. Padahal sedang belajar,’’ ujarnya.
Selama menjadi tukang becak, kata dia, tentu ada suka dan dukanya. Dia sering mengantar teman sekampus atau dosen, namun Wawan mengaku tidak malu melakukannya.
Dia juga pernah diberi uang Rp 170 ribu dari seorang warga Ngombol, Purworejo yang kini di Jakarta. Mulanya orang yang mengaku pensiunan polisi itu minta diantar dari Hotel Bagelen ke masjid di alun-alun. Ketika penumpang bertanya status dan pendidikan, dia jawab masih kuliah di UMP.
Mungkin karena merasa kasihan, penumpang menyodorkan uang Rp 20 ribu. Keesokan harinya, dia ngobrol lagi dengan penumpang itu. Wawan pun diberi uang Rp 50 ribu untuk biaya kuliah. Beberapa saat setelah itu, orang yang sama menyempatkan datang ke rumahnya dan memberikan uang Rp 100 ribu.
Tentang dukanya, menurut Wawan, dirinya pernah diminta mengantar seorang wanita ke Pasar Baledono, Purworejo. Sesampai di tempat tujuan, penumpang itu turun dan dia diminta menunggu. ’’Eh ternyata tidak nongol lagi,’’ ungkap anak ke-4 pasangan Ambari dan Chamidah itu.
Meski lahir dari keluarga kurang mampu, karena ayah dan ibunya hanya berjualan es tape di alun-alun dan di rumah, semangat Wawan perlu ditiru. (Eko Priyono-46)
Sumber: SuaraMerdeka
Sehari-hari Wawan Kurniawan (28) hanyalah seorang pengayuh becak. Namun siapa sangka pria yang biasa mangkal di depan kantor pos Purworejo itu adalah seorang mahasiswa berprestasi. Sabtu (8/11), dia diwisuda dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,01. Berikut laporannya.
Meski profesinya hanya tukang becak dengan pendapatan pas-pasan dan bahkan sehari-hari penghasilannya sering tidak bisa dipastikan, Wawan Kurniawan tetap punya prinsip dan slogan dalam hidupnya. ’’Optimistis dan jangan pernah menyerah tanpa usaha,’’ tandas warga RT 3 RW 8, Baledono Krajan, Purworejo itu.
Ya, dengan semangat itulah, dia berhasil meraih cita-citanya menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menurut dia, pengayuh becak hanyalah profesi. Dan, dia mengaku tidak malu menyandang profesi itu. Apalagi sejak kelas satu SMA dia memang sudah mengayuh becak.
Setiap hari, pukul 05.00-pukul 17.00, pria yang lahir di Purworejo 24 Desember 1980 itu mangkal di depan kantor pos Purworejo. Sabtu (8/11), mahasiswa Fakultas Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) ini diwisuda dengan IPK 3,01. IPK tersebut tertinggi di fakultasnya.
Kemarin, dia sibuk mengurus ijazahnya karena akan digunakan untuk mendaftar CPNS di Pemkab Purworejo. Meski ada keinginan menjadi pegawai negeri, dia tetap masih punya niat melanjutkan kuliah di UGM Yogyakarta.
Bagaimana dengan becaknya? ’’Ya, itu tetap akan saya pertahankan. Saya akan jadi pengayuh becak di Yogya,’’ katanya.
Bagi dia, becak yang dipakai saat ini punya nilai sejarah tersendiri. Becak itu semula adalah milik kakaknya. Namun becak itu kemudian menganggur karena kakaknya masuk pesantren. Sejak tahun 1997, becak dia pakai untuk mencari nafkah. Tempat mangkal favorit adalah di depan kantor pos Purworejo.
Dia mengungkapkan, penghasilan sebagai tukang becak ada pasang surutnya. Terkadang dalam sehari dia tidak mendapat uang sama sekali. Akan tetapi menjelang Lebaran lalu, Wawan pernah mendapat uang Rp 100 ribu/hari.
Hasil jerih payahnya itu, sebagian dimanfaatkan untuk membayar uang kuliah, meski dia sadar seringkali penghasilannya masih kurang untuk biaya di perguruan tinggi. Seingat dia, pada tahun pertama membayar Rp 2 juta. Selanjutnya untuk biaya per semester Rp 750 ribu. ’’Ya, kalau kurang, saya pinjam teman,’’ tuturnya.
Giat Belajar
Untuk bisa belajar sambil bekerja, dia berusaha membagi waktu. Bila ada jam kuliah, dia berusaha masuk. Setelah itu kembali ke pangkalan becak. Kapan belajar? Menurut Wawan, belajar biasa dilakukan pada malam hari. Dia juga biasa membawa buku-buku kuliah di laci becak. Bila sedang tidak ada penumpang, dia memanfaatkannya untuk belajar. ’’Dulu pas ramai judi togel saya pernah dikira sedang meramal nomor. Padahal sedang belajar,’’ ujarnya.
Selama menjadi tukang becak, kata dia, tentu ada suka dan dukanya. Dia sering mengantar teman sekampus atau dosen, namun Wawan mengaku tidak malu melakukannya.
Dia juga pernah diberi uang Rp 170 ribu dari seorang warga Ngombol, Purworejo yang kini di Jakarta. Mulanya orang yang mengaku pensiunan polisi itu minta diantar dari Hotel Bagelen ke masjid di alun-alun. Ketika penumpang bertanya status dan pendidikan, dia jawab masih kuliah di UMP.
Mungkin karena merasa kasihan, penumpang menyodorkan uang Rp 20 ribu. Keesokan harinya, dia ngobrol lagi dengan penumpang itu. Wawan pun diberi uang Rp 50 ribu untuk biaya kuliah. Beberapa saat setelah itu, orang yang sama menyempatkan datang ke rumahnya dan memberikan uang Rp 100 ribu.
Tentang dukanya, menurut Wawan, dirinya pernah diminta mengantar seorang wanita ke Pasar Baledono, Purworejo. Sesampai di tempat tujuan, penumpang itu turun dan dia diminta menunggu. ’’Eh ternyata tidak nongol lagi,’’ ungkap anak ke-4 pasangan Ambari dan Chamidah itu.
Meski lahir dari keluarga kurang mampu, karena ayah dan ibunya hanya berjualan es tape di alun-alun dan di rumah, semangat Wawan perlu ditiru. (Eko Priyono-46)
Sumber: SuaraMerdeka
Senin, 27 September 2010
8 Macam Cinta Menurut Al-Qur’an
enurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an
katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya
(man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta
sejati ada tiga :
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain
(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang
lain, dan
(3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang
lain/diri
sendiri.
Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka
berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka
bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti
perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain. Dalam Qur’an cinta
memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
“nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia
ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.[/color][/size]
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap
berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah
ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri
sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski
untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya
dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah
adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua
terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an ,
kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni orang-orang yang
memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba
kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang
anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu
ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki
hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau
silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang
diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia
lahir batin-dunia akhirat.
3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang
diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam
konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda
(an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan
memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha
hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak
menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika
mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada
bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra’fah ,yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega
membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an
menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus
hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha
yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika
tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa
illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin
(Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis
yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan
bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat
kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa
ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila
wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat
al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah
pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan
kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al
mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.
8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh
anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis
cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak
membebani seseorang
kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha
(Q/2:286)
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an
katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya
(man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta
sejati ada tiga :
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain
(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang
lain, dan
(3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang
lain/diri
sendiri.
Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka
berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka
bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti
perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain. Dalam Qur’an cinta
memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
“nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia
ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.[/color][/size]
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap
berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah
ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri
sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski
untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya
dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah
adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua
terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an ,
kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni orang-orang yang
memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba
kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang
anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu
ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki
hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau
silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang
diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia
lahir batin-dunia akhirat.
3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang
diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam
konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda
(an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan
memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha
hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak
menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika
mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada
bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra’fah ,yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega
membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an
menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus
hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha
yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika
tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa
illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin
(Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis
yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan
bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat
kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa
ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila
wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat
al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah
pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan
kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al
mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.
8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh
anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis
cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak
membebani seseorang
kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha
(Q/2:286)
Penyebab komputer agan lambat
Komputer anda lemot (lambat), jangan panik, kesal, dan jangan dibanting komputer anda.
kinerja sistem komputer (PC) maupun noteboook dapat menurun drastis jika tidak memperhatikan faktor yang mempengaruhinya. Walaupun komputer benda mati yang tak bisa berjalan dan belanja ke mall tapi harus mendapatkan perhatian dan perawatan khusus agar selalu stabil, jika rusak berarti anda yang harus ke mall untuk beli komputer baru. komputer perlu diperlakukan seperti istri atau pacar kedua anda
he…he…he….jangan kasih tau pacar saya ya?? (Hmm ga punya pacar deng) wkakakak .
kembali ke toooopiik…..namun jika tidak pada mestinya, jangan kaget jika tiba-tiba komputer anda mendadak mati atau kerjanya sangat lambat. beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya: perlakuan terhadap komputer itu sendiri, pengaturan BIOS yang kurang maksimal, dan manajemen sistem operasi yang kurang teratur.
Yang dimaksud dengan perlakuan komputer adalah: mematikan komputer tidak sesuai prosedur (shutdown), CPU tidak pernah dibersihkan, komputer sering dipindah-pindahkan tempatnya, dan hal-hal yang dapat merusak komputer. Sedangkan yang dimaksud BIOS adalah pengaturannya tidak semaksimal sehingga dapat mengganggu sistem operasi. Jika komputer tidak pernah di-manage secara benar dapat mengakibatkan kinerja sistem operasi akan lambat.
Untuk mengatasi hal itu diperlukan penanganan yang tepat seperti: melakukan Defragmenter secara berkala karena klo keseringan komputer bisa ngadat ya setiap 1-2 bulanlah, memasang software antivirus plus anti spyware, membuang software yang tidak digunakan, tidak memaksakan menggunakan softwareyang berat (memakan memory terlalu banyak atau yang memakan banyak kerja cpu, membuang sampah, dan tindakan lainnya yang mempengaruhi sistem operasi yang digunakan .
Mengenal Sistem Operasi
Sistem Operasi yang berkembang saat ini ada beberapa macam diantaranya:
- Windows (Windows 98, Windows 2000, Windows Me, Windows XP, dan Windows Vista)
- UNIX (Linux)
- Macintosh
- OS/2
- Palm OS, dll
Untuk informasi lebih lanjut tentang sistem operasi dapat mengunjungi situs
http://dmoz.org/Computers/Software/Operating_Systems/
Oleh karena banyak yang menggunakan sistem operasi Windows maka di sini akan membahas beberapa faktor yang mempengaruhinya sehingga sistem tersebut menjadi sangat lambat.
Komputer yang kerjanya sangat lamban membuat kita kesal, ditambah lagi komputer sering hang padahal ada pekerjaan yang harus selesai segera mungkin. Semua itu membuat kita stress.
Ada dua faktor yang mempengaruhi kerja sistem komputer yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan komputer itu sendiri, diantaranya:
- Banyak aplikasi yang terinstal
- Banyak file sampah
- Banyak aplikasi yang terbaca ketika Start Up
- Manajemen Sistem tidak teratur
- Pilih Kinerja atau Penampilan (style)
- Proses Shutdown tidak sesuai perosedur
Faktor Eksternal
faktor eksternal yang dapat menghambat sistem kerja komputer diantaranya:
- Tegangan listrik yang tidak stabil
- Lingkungan yang berdebu
- suhu cpu pun perlu diperhatikan
Faktor Eksternal penyebab sistem komputer lambat
faktor eksternal yang dapat menghambat sistem kerja komputer diantaranya:
Tegangan listrik yang tidak stabil
Ada kalanya tegangan listrik yang ada di rumah kita tidak berjalan stabil alias naik turun. Hal tersebut bisa ditimbulkan oleh penggunaan listrik yang bersama-sama. Misal: menghidupkan televisi, mesin air, lemari es (kulkas), dan komputer secara bersama-sama. Suatu saat mematikan mesin air yang tidak digunakan. Nah, jika kondisinya seperti itu tegangan akan mengalami perubahan naik-turun dan inilah faktor penyebab komputer dan monitor menjadi rusak.
Untuk menghindari hal ini, sebaiknya menggunakan UPS/stabilizer agar ketika listrik mati secara mendadak masih ada aliran listrik dan dapat melakukan shutdown sesuai prosedur.
Lingkungan yang berdebu
Debu yang menempel pada komponen komputer dapat mengakibatkan sistem kerja komputer akan terhambat. Bersihkan menggunakan kuas yang lembut, jangan menggunakan kemoceng karena bulu-bulunya akan rontok sehingga malah memperparah keadaan.
Komputer yang bekerja makin lambat perlu diidentifikasi sedini mungkin agar faktor-faktor penyebabnya dapat diniminalisasi. Oleh karena setiap hari bergelut dengan komputer, sedikitnya harus dapat menangani sendiri jika komputer mengalami masalah. Periksa dulu apa penyebab komputer tersebut menjadi lambat, jika sudah ditemukan faktor pemicunya segera atasi sendiri sebelum meminta bantuan orang lain.
Suhu cpu
Suhu cpu pun harus diperhatikan, karena dapat menghambat proses kerja dan dapat memperpendek usia cpu, apalagi bagi penggila overclock yang mengharuskan cpu harus terjaga suhunya dan membutuhkan pendingin ekstra
Faktor Internal penyebab sistem komputer lambat
Banyak aplikasi yang terinstal
Jika ingin menginstal software sebaiknya yang penting dan dibutuhkan saja, jangan terlalu banyak menginstal software yang tidak digunakan. Hal ini secara otomatis akan mengambil space komputer.
Banyak file sampah
Yang dimaksud file-file sampah adalah: file pada Recycle Bin, cookies, histroy IE, file bak, file temporary, dll).
Ketika menghapus file yang tidak digunakan, tidak secara otomatis file tersebut akan terhapus dari hardisk. Sebenarnya masih tersimpan dalam folder Recycle Bin, dan jika kita ingin mengambil file tersebut masih bisa. Hapuslah file-file dalam Recycle Bin karena seluruh file tersebut masih mengambil ruang hardisk. Pastikan Anda telah memilih file-file yang memang sudah tidak digunakan lagi
Banyak aplikasi yang terbaca ketika Start Up
Beberapa software ketika pertama kali diinstal menyediakan pilihan yaitu: ikon ditambahkan pada Desktop dan ikon ditambahkan pada Taskbar Quick Launch. Sebaiknya tidak perlu meletakkn ikon program tersebut dalam taskbar karena menjadi beban sistem komputer karena harus menyediakan memori tersendiri.
Hal ini akan memperlambat kerja komputer. Aturlah beberapa aplikasi yang memang dibutuhkan dengan cara mengatur konfigurasi. Jalankan menu Start kemudian pilih Run, ketikkan msconfig. Nonaktifkan aplikasi yang tidak diperlukan ketika Start Up.
Manajemen Sistem tidak teratur
Komputer yang sering digunakan juga memerlukan penyegaran, salah satunya adalah dengan cara melakukan Scandisk dan Defragmentasi secara rutin minimal satu bulan sekali. Idealnya satu minggu sekali, tergantung frekuensi penggunaan komputer. Meskipun sesuatu yang sepele, namun sering dilupakan banyak orang. Lakukan Scandisk secara rutin untuk memperbaiki hardisk yang sering crash akibat litrik mati secara mendadak atau hang.
Selain melakukan Scandisk, yang tak kalah pentingnya adalah Defragmentasi secara berkala. Hal ini sangat berguna ketika tingkat penggunaan komputer tinggi. File-file perlu ditempatkan sebagaimana mestinya agar ruang kosong tidak berantakan. Jika ruang penempatan file berantakan bisa mengakibatkan kerja komputer lambat.
Pilih Penampilan (style themes)
Bagi pengguna Windows XP sebaiknya memperhatikan hal ini agar kerja komputer lebih cepat. Memang penampilan Windows XP sangat bagus, ikon-ikon yang ditampilkan berwarna-warni dengan efek mengkilap. Perlu diketahui, tampilan windows yang bagus tersebut membutuhkan memori yang tidak sedikit. Makanya jangan heran bila semakin lama kerja komputer semakin lambat.
Windows XP menyediakan dua pilihan yaitu Adjust for Best Appereance atau Adjust for Best. Jika memilih Adjust for best app maka lebih mengutamakan penampilan sehingga kinerja komputer mememerlukan memori yang lebih. Hal ini berpengaruh pada kinerja komputer. Sedangkan jika memilih Adjust for best performance maka lebih mengutamakan kinerja komputer dibandingkan penampilan sehingga tampilan Windows XP akan nampak seperti biasa tanpa efek bayangan ataupun mengkilap seperi windows versi sebelumnya.
Proses Shutdown tidak sesuai perosedur
Komputer yang sangat lambat bekerja membuat kita kesal dibuatnya, makin hari kian lambat saja. Kadang-kadang komputer langsung hang secara mendadak ketika sedang asyik bekerja. Kita akan mematikan komputer tersebut dengan cara menekan tombol Restart atau Booting. Hal ini dikerenakan kita tidak bisa mematikan komputer melalui proses Shutdown karena semua tombol keyboard tidak berfungsi.
Apabila sering mematikan komputer melalui tombol Booting, lama-lama bisa mengakibatkan sistem operasi tidak berjalan normal dan hardsik akan mengalami kerusakan (bad sector). Hal ini akan memperparah keadaan karena file-file sistem yang ada pada bad sector tidak dapat terbaca, sehingga komputer sering mengalami mati mendadak (hang).
kinerja sistem komputer (PC) maupun noteboook dapat menurun drastis jika tidak memperhatikan faktor yang mempengaruhinya. Walaupun komputer benda mati yang tak bisa berjalan dan belanja ke mall tapi harus mendapatkan perhatian dan perawatan khusus agar selalu stabil, jika rusak berarti anda yang harus ke mall untuk beli komputer baru. komputer perlu diperlakukan seperti istri atau pacar kedua anda
he…he…he….jangan kasih tau pacar saya ya?? (Hmm ga punya pacar deng) wkakakak .
kembali ke toooopiik…..namun jika tidak pada mestinya, jangan kaget jika tiba-tiba komputer anda mendadak mati atau kerjanya sangat lambat. beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya: perlakuan terhadap komputer itu sendiri, pengaturan BIOS yang kurang maksimal, dan manajemen sistem operasi yang kurang teratur.
Yang dimaksud dengan perlakuan komputer adalah: mematikan komputer tidak sesuai prosedur (shutdown), CPU tidak pernah dibersihkan, komputer sering dipindah-pindahkan tempatnya, dan hal-hal yang dapat merusak komputer. Sedangkan yang dimaksud BIOS adalah pengaturannya tidak semaksimal sehingga dapat mengganggu sistem operasi. Jika komputer tidak pernah di-manage secara benar dapat mengakibatkan kinerja sistem operasi akan lambat.
Untuk mengatasi hal itu diperlukan penanganan yang tepat seperti: melakukan Defragmenter secara berkala karena klo keseringan komputer bisa ngadat ya setiap 1-2 bulanlah, memasang software antivirus plus anti spyware, membuang software yang tidak digunakan, tidak memaksakan menggunakan softwareyang berat (memakan memory terlalu banyak atau yang memakan banyak kerja cpu, membuang sampah, dan tindakan lainnya yang mempengaruhi sistem operasi yang digunakan .
Mengenal Sistem Operasi
Sistem Operasi yang berkembang saat ini ada beberapa macam diantaranya:
- Windows (Windows 98, Windows 2000, Windows Me, Windows XP, dan Windows Vista)
- UNIX (Linux)
- Macintosh
- OS/2
- Palm OS, dll
Untuk informasi lebih lanjut tentang sistem operasi dapat mengunjungi situs
http://dmoz.org/Computers/Software/Operating_Systems/
Oleh karena banyak yang menggunakan sistem operasi Windows maka di sini akan membahas beberapa faktor yang mempengaruhinya sehingga sistem tersebut menjadi sangat lambat.
Komputer yang kerjanya sangat lamban membuat kita kesal, ditambah lagi komputer sering hang padahal ada pekerjaan yang harus selesai segera mungkin. Semua itu membuat kita stress.
Ada dua faktor yang mempengaruhi kerja sistem komputer yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan komputer itu sendiri, diantaranya:
- Banyak aplikasi yang terinstal
- Banyak file sampah
- Banyak aplikasi yang terbaca ketika Start Up
- Manajemen Sistem tidak teratur
- Pilih Kinerja atau Penampilan (style)
- Proses Shutdown tidak sesuai perosedur
Faktor Eksternal
faktor eksternal yang dapat menghambat sistem kerja komputer diantaranya:
- Tegangan listrik yang tidak stabil
- Lingkungan yang berdebu
- suhu cpu pun perlu diperhatikan
Faktor Eksternal penyebab sistem komputer lambat
faktor eksternal yang dapat menghambat sistem kerja komputer diantaranya:
Tegangan listrik yang tidak stabil
Ada kalanya tegangan listrik yang ada di rumah kita tidak berjalan stabil alias naik turun. Hal tersebut bisa ditimbulkan oleh penggunaan listrik yang bersama-sama. Misal: menghidupkan televisi, mesin air, lemari es (kulkas), dan komputer secara bersama-sama. Suatu saat mematikan mesin air yang tidak digunakan. Nah, jika kondisinya seperti itu tegangan akan mengalami perubahan naik-turun dan inilah faktor penyebab komputer dan monitor menjadi rusak.
Untuk menghindari hal ini, sebaiknya menggunakan UPS/stabilizer agar ketika listrik mati secara mendadak masih ada aliran listrik dan dapat melakukan shutdown sesuai prosedur.
Lingkungan yang berdebu
Debu yang menempel pada komponen komputer dapat mengakibatkan sistem kerja komputer akan terhambat. Bersihkan menggunakan kuas yang lembut, jangan menggunakan kemoceng karena bulu-bulunya akan rontok sehingga malah memperparah keadaan.
Komputer yang bekerja makin lambat perlu diidentifikasi sedini mungkin agar faktor-faktor penyebabnya dapat diniminalisasi. Oleh karena setiap hari bergelut dengan komputer, sedikitnya harus dapat menangani sendiri jika komputer mengalami masalah. Periksa dulu apa penyebab komputer tersebut menjadi lambat, jika sudah ditemukan faktor pemicunya segera atasi sendiri sebelum meminta bantuan orang lain.
Suhu cpu
Suhu cpu pun harus diperhatikan, karena dapat menghambat proses kerja dan dapat memperpendek usia cpu, apalagi bagi penggila overclock yang mengharuskan cpu harus terjaga suhunya dan membutuhkan pendingin ekstra
Faktor Internal penyebab sistem komputer lambat
Banyak aplikasi yang terinstal
Jika ingin menginstal software sebaiknya yang penting dan dibutuhkan saja, jangan terlalu banyak menginstal software yang tidak digunakan. Hal ini secara otomatis akan mengambil space komputer.
Banyak file sampah
Yang dimaksud file-file sampah adalah: file pada Recycle Bin, cookies, histroy IE, file bak, file temporary, dll).
Ketika menghapus file yang tidak digunakan, tidak secara otomatis file tersebut akan terhapus dari hardisk. Sebenarnya masih tersimpan dalam folder Recycle Bin, dan jika kita ingin mengambil file tersebut masih bisa. Hapuslah file-file dalam Recycle Bin karena seluruh file tersebut masih mengambil ruang hardisk. Pastikan Anda telah memilih file-file yang memang sudah tidak digunakan lagi
Banyak aplikasi yang terbaca ketika Start Up
Beberapa software ketika pertama kali diinstal menyediakan pilihan yaitu: ikon ditambahkan pada Desktop dan ikon ditambahkan pada Taskbar Quick Launch. Sebaiknya tidak perlu meletakkn ikon program tersebut dalam taskbar karena menjadi beban sistem komputer karena harus menyediakan memori tersendiri.
Hal ini akan memperlambat kerja komputer. Aturlah beberapa aplikasi yang memang dibutuhkan dengan cara mengatur konfigurasi. Jalankan menu Start kemudian pilih Run, ketikkan msconfig. Nonaktifkan aplikasi yang tidak diperlukan ketika Start Up.
Manajemen Sistem tidak teratur
Komputer yang sering digunakan juga memerlukan penyegaran, salah satunya adalah dengan cara melakukan Scandisk dan Defragmentasi secara rutin minimal satu bulan sekali. Idealnya satu minggu sekali, tergantung frekuensi penggunaan komputer. Meskipun sesuatu yang sepele, namun sering dilupakan banyak orang. Lakukan Scandisk secara rutin untuk memperbaiki hardisk yang sering crash akibat litrik mati secara mendadak atau hang.
Selain melakukan Scandisk, yang tak kalah pentingnya adalah Defragmentasi secara berkala. Hal ini sangat berguna ketika tingkat penggunaan komputer tinggi. File-file perlu ditempatkan sebagaimana mestinya agar ruang kosong tidak berantakan. Jika ruang penempatan file berantakan bisa mengakibatkan kerja komputer lambat.
Pilih Penampilan (style themes)
Bagi pengguna Windows XP sebaiknya memperhatikan hal ini agar kerja komputer lebih cepat. Memang penampilan Windows XP sangat bagus, ikon-ikon yang ditampilkan berwarna-warni dengan efek mengkilap. Perlu diketahui, tampilan windows yang bagus tersebut membutuhkan memori yang tidak sedikit. Makanya jangan heran bila semakin lama kerja komputer semakin lambat.
Windows XP menyediakan dua pilihan yaitu Adjust for Best Appereance atau Adjust for Best. Jika memilih Adjust for best app maka lebih mengutamakan penampilan sehingga kinerja komputer mememerlukan memori yang lebih. Hal ini berpengaruh pada kinerja komputer. Sedangkan jika memilih Adjust for best performance maka lebih mengutamakan kinerja komputer dibandingkan penampilan sehingga tampilan Windows XP akan nampak seperti biasa tanpa efek bayangan ataupun mengkilap seperi windows versi sebelumnya.
Proses Shutdown tidak sesuai perosedur
Komputer yang sangat lambat bekerja membuat kita kesal dibuatnya, makin hari kian lambat saja. Kadang-kadang komputer langsung hang secara mendadak ketika sedang asyik bekerja. Kita akan mematikan komputer tersebut dengan cara menekan tombol Restart atau Booting. Hal ini dikerenakan kita tidak bisa mematikan komputer melalui proses Shutdown karena semua tombol keyboard tidak berfungsi.
Apabila sering mematikan komputer melalui tombol Booting, lama-lama bisa mengakibatkan sistem operasi tidak berjalan normal dan hardsik akan mengalami kerusakan (bad sector). Hal ini akan memperparah keadaan karena file-file sistem yang ada pada bad sector tidak dapat terbaca, sehingga komputer sering mengalami mati mendadak (hang).
Kriptografi & ENKRIPSI
Kriptografi (cryptography) berasal dari bahasa Yunani yaitu cryptos artinya rahasia (secret) dan graphein artinya tulisan (writing). Jadi kriptografi berarti tulisan rahasia (secret writing). Kriptografi tidak hanya ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi seperti kerahasiaan, integritas data, nirpenyangkalan, otentikasi tetapi juga sekumpulan teknik yang berguna.
Enkripsi adalah proses mengacak data sehingga tidak dapat dibaca oleh pihak lain. Pada kebanyakan proses enkripsi, Anda harus menyertakan kunci sehingga data yang dienkripsi dapat didekripsikan kembali. Ilmu yang mempelajari teknik enkripsi disebut kriptografi. Gambaran sederhana tentang enkripsi, misalnya mengganti huruf a dengan n, b dengan m dan seterusnya. Model penggantian huruf sebagai bentuk enkripsi sederhana ini sekarang tidak dipergunakan secara serius dalam penyembunyian data. ROT-13 adalah program yang masih suka dipergunakan. Intinya adalah mengubah huruf menjadi 23 huruf didepannya. Misalnya b menjadi o dan seterusnya. Pembahasan enkripsi akan terfokus pada enkripsi password dan enkripsi komunikasi data.
Terminologi Kriptografi
a. Pesan, Plainteks dan Cipherteks
Pesan adalah data atau informasi yang dapat dibaca dan dimengerti maknanya. Nama lain untuk pesan adalah plainteks. Agar pesan tidak bisa dimengerti maknanya oleh pihak lain, maka pesan perlu disandikan ke bentuk lain yang tidak dapat dipahami. Bentuk pesan yang tersandi disebut cipherteks
b. Pengirim dan Penerima
Pengirim adalah entitas yang mengirim pesan kepada entitas lainnya. Penerima adalah entitas yang menerima pesan. Entitas di sini dapat berupa orang, mesin (komputer), kartu kredit dan sebagainya.
c. Enkripsi dan dekripsi
Proses menyandikan plainteks menjadi cipherteks disebut enkripsi. Sedangkan proses mengembalikan cipherteks menjadi plainteks semula dinamakan dekripsi
d. Cipher dan kunci
Algoritma kriptografi disebut juga cipher yaitu aturan untuk enciphering dan deciphering, atau fungsi matematika yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi. Konsep matematis yang mendasari algoritma kriptografi adalah relasi antara dua buah himpunan yaitu himpunan yang berisi elemen-elemen plainteks dan himpunan yang berisi cipherteks. Enkripsi dan dekripsi adalah fungsi yang memetakan elemen-elemen antara kedua himpunan tersebut.
e. Sistem kriptografi
Sistem kriptografi merupakan kumpulan yang terdiri dari algoritma kriptografi, semua plainteks dan cipherteks yang mungkin dan kunci.
f. Penyadap
Penyadap adalah orang yang berusaha mencoba menangkap pesan selama ditransmisikan dengan tujuan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai sistem kriptografi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan maksud untuk memecahkan cipherteks.
g. Kriptanalisis dan kriptologi
Kriptanalisis (cryptanalysis) adalah ilmu dan seni untuk memecahkan cipherteks menjadi plainteks tanpa mengetahui kunci yang digunakan. Pelakunya disebut kriptanalis. Kriptologi adalah studi mengenai kriptografi dan kriptanalisis.
Sejarah Kriptografi
Sejarah kriptografi sebagian besar merupakan sejarah kriptografi klasik yaitu metode enkripsi yang menggunakan kertas dan pensil atau mungkin dengan bantuan alat mekanik sederhana. Secara umum algoritma kriptografi klasik dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu algoritma transposisi (transposition cipher) dan algoritma substitusi (substitution cipher). Cipher transposisi mengubah susunan huruf-huruf di dalam pesan, sedangkan cipher substitusi mengganti setiap huruf atau kelompok huruf dengan sebuah huruf atau kelompok huruf lain.
Kriptografi modern dipicu oleh perkembangan peralatan komputer digital. Tidak seperti kriptografi
klasik yang mengenkripsi karakter per karakter (dengan menggunakan alfabet tradisionil), kriptografi modern beroperasi pada string biner. Kriptografi modern tidak hanya memberikan aspek keamanan confidentially, tetapi juga aspek keamanan lain seperti otentikasi, integritas data dan nirpenyangkalan.
Kriptografi Kunci Simetri dan Asimetri
Berdasarkan kunci yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi, kriptografi dapat dibedakan lagi menjadi kriptografi kunci simetri dan kriptografi kunci asimetri. Pada sistem kriptografi kunci simetri, kunci untuk enkripsi sama dengan kunci untuk dekripsi. Jika kunci untuk enkripsi tidak sama dengan kunci untuk dekripsi, maka dinamakan sistem kriptografi asimetri. Enkripsi adalah proses mengacak data sehingga tidak dapat dibaca oleh pihak lain. Pada kebanyakan proses enkripsi, Anda harus menyertakan kunci sehingga data yang dienkripsi dapat didekripsikan kembali. Ilmu yang mempelajari teknik enkripsi disebut kriptografi. Gambaran sederhana tentang enkripsi, misalnya mengganti huruf a dengan n, b dengan m dan seterusnya. Model penggantian huruf sebagai bentuk enkripsi sederhana ini sekarang tidak dipergunakan secara serius dalam penyembunyian data. ROT-13 adalah program yang masih suka dipergunakan. Intinya adalah mengubah huruf menjadi 23 huruf didepannya. Misalnya b menjadi o dan seterusnya. Pembahasan enkripsi akan terfokus pada enkripsi password dan enkripsi komunikasi data.
Langganan:
Postingan (Atom)