Selasa, 28 September 2010

Lirik Lagu Sheila on 7 – Lia Lia Lia

aku tergila-gila dengan bicaranya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku impikan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
tak tergetarkan semua yang menentangmu
lia lia lia
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
kau dan lingkaran jiwamu
menarik langkah kakiku
bermain dengan hatimu
aku terbakar bahagia… aiaiaiaia…
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
tumbuhan bunga liar
sekitar berjatuhan
tumbuhan bunga liar
kan terus berkelana
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…

Lirik Lagu Sheila on 7 – Lia Lia Lia

aku tergila-gila dengan bicaranya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku impikan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
tak tergetarkan semua yang menentangmu
lia lia lia
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
ku percayakan masa depan hidupku
di kedua kakimu
kau dan lingkaran jiwamu
menarik langkah kakiku
bermain dengan hatimu
aku terbakar bahagia… aiaiaiaia…
aku tergila-gila jalan pikirannya
lia lia lia
apa kau memikirkan semua yang ku tawarkan
lia lia lia
tumbuhan bunga liar
sekitar berjatuhan
tumbuhan bunga liar
kan terus berkelana
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…
lia lia…

Ras Indonesia Yang Sempurna !! Bangga Jadi orang Indonesia

RAS INDONESIA YANG SEMPURNA


Ras Indonesia kami menyebutnya dengan demikian. Ras ini terdiri dari seluruh suku yang ada di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Minang, Melayu, Dayak, Bugis, Bali, Sasak, Papua dan sebagainya. Seluruh suku ini rata-rata memiliki persamaan fisik yaitu kulit sawo matang, ukuran tubuh kecil, hidung kecil dan rambut hitam.

Umumnya orang Indonesia menganggap orang asing yang putih, tinggi, langsing, hidung mancung, bibir tipis, dan rambut pirang lebih cantik atau tampan. Kita harus mulai belajar memahami cantik dari berbagai sudut pandang. Ternyata beberapa orang Indonesia yang di Indonesia dianggap biasa aja, menurut pandangan orang negara lain malah dianggap cantik. Begitu juga sebaliknya, yang di Indonesia dianggap cantik, belum tentu cantik di mata orang asing. Sebenarnya orang berpredikat tampan-cantik itu berkulit coklat, hidung kecil, mata hitam, rambut hitam. Ciri fisik itu dimiliki ras Indonesia.

WARNA KULIT ORANG INDONESIA LEBIH SEXY

Kulit coklat dan kuning langsat merupakan warna kulit yang khas dari ras kita sendiri dan sangat mencerminkan Indonesia. Di Eropa dan Amerika Kulit yang coklat dianggap lebih sexy. Di Eropa dan Amerika banyak orang yang sengaja membuat kulitnya coklat dengan pergi berjemur. Di AS-Eropa banyak salon pencokelat kulit. Menurut wikipedia ada 30 Juta wanita kulit putih AS pelanggan 50 Ribu salon pencokelat kulit dengan nilai pasar Rp. 50 Trilliun setahun.

Kita sebagai ras Indonesia, tercipta dengan pigmen kulit dominan yaitu pigmen eumelanin (pigmen yang menyebabkan kulit coklat sampai hitam) dan pigmen karoten (penyebab warna kuning), makanya sebagian besar orang-orang Indonesia mempunyai kulit sawo matang dan kuning langsat. Orang Indonesia yang paling putih berwarna kuning langsat lebih indah dari kulit orang Eropa yang pucat kemerahan. Yang paling hitamnya tidak kalah manis, orang Ambon, Flores dan Papua memiliki warna kulit lebih coklat tapi tidak sehitam orang Afrika. Warna coklatnya pas. Warna cokelat-hitam terlihat lebih menggemaskan dan manis daripada warna putih. Kulit coklat memang lebih keren, seksi, dan eksotis. Di Amerika Serikat orang berkulit cokelat dianggap tampan dan disukai mahasiswi kulit putih AS.
Kelebihan lainnya dari kulit kita yaitu lebih tahan radiasi ultraviolet. Dalam tubuh kita ada zat yang bernama melanin yang membuat kulit kita berwarna kecoklatan. Melanin mempunyai fungsi utama yaitu melindungi epidermis dan dermis dari bahaya radiasi ultraviolet.

MISS World 2009, Kalane Aldortno kelahiran Gibraltar, daerah di Eropa barat daya dekat perairan Spanyol, memuji perempuan Indonesia yang punya Jenis dan warna kulit yang Indah. Dia begitu menyukai perempuan Indonesia yang punya banyak warna kulit. Karena, di tempat kelahirannya hampir semua perempuan kulitnya berwana gelap dan kecokelatan. "Di negara saya mungkin warna kulit seperti Ini lebih dikenal sebagai mediteranian. Jadi, waktu melihat kulit perempuan Indonesia yang berbagai Jenis dan warnanya, ada yang putih, kuning, kecokelatan. dan gelap, saya Jadi agak Iri. Apalagi, semua terlihat mulus dan seperti bersinar," ucap Kalane saat ditemui di sela-sela kunjungannya pada acara pemilihan Miss Indonesia 2010 di sebuah pusat perbelanjaan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.


HIDUNG KECIL LEBIH MANIS

Bangsa Indonesia rata-rata memiliki hidung yang kecil. Kalau mancung juga mancung yang indah tidak terlalu besar. Bangsa lain seperti Eropa dan Iran hidung yang sangat mancung dan panjang, bahkan ada yang melakukan bedah plastik untuk "dipotong dan dipendekkan hidungnya. Hidung Indonesia yang mancung kecil dipandang sebagai hidung yang sempurna. Orang Indonesia yang berhidung pesek pun sebenarnya membuat wajah menjadi lebih manis.

Pada film-film futuristrik sering digambarkan alien yang telah berevolusi sempurna. Digambarkan alien itu memiliki Hidung yang begitu kecil dan pesek malah bisa dibilang hidungnya hanya lubang kecil saja, mungkin pada masa depan kandungan oksigen di udara sangat tipis. Dengan hidung kecil juga manusia telah dipersiapkan untuk menghadapi polusi udara. Bisa dibayangkan, betapa susahnya kita memakai masker di tengah polusi udara andaikata hidung kita semancung hidung gajah.

Keuntungan lainnya dari berhidung kecil yaitu daya jangkau penglihatan orang berhidung pesek lebih luas daripada yang berhidung mancung karena tidak menghalangi pandangan mata. Hidung yang terlalu mancung dapat mengganggu penglihatan pandangan mata karena terhalang hidungnya yang mancung.

ORANG INDONESIA TAMPAK LEBIH AWET MUDA

Dibandingkan dengan individu pada usia yang sama dari etnis kulit putih (Kaukasia), Afrika, latin dan Arab, maka kita bangsa Indonesia diberkahi Tuhan dengan keistimewaan lebih tampak awet muda. Kulit orang Indonesia relatif lebih tebal dan komposisi serat-serat kolagennya jauh lebih kaya. Oleh karena itu, kerutan-kerutan dan kekenduran kulit yang terjadi akan jauh lebih ringan dibandingkan etnis kulit putih. Proses penuaan ditandai dengan penurunan elastisitas serabut-serabut kolagen; pada etnis kulit putih dengan komposisi serat kolagen yang lebih sedikit maka akan terlihat lebih cepat tua daripada orang Indonesia.

Orang Indonesia cenderung tampak muda daripada usia yang sesungguhnya. Orang Indonesia bisa lebih tampak lebih muda 5 s.d 10 tahun dibandingkan etnis Eropa, Arab ataupun Afrika. Orang Indonesia yang berumur 30 tahun, di eropa bisa dikira masih berumur 20 tahunan..


TUBUH LEBIH KECIL LEBIH CANGGIH

Biasanya orang menganggap postur tubuh yang lebih tinggi dan besar, dalam evolusi ditafsirkan sebagai sinyal dari sumber genetika yang lebih berkualitas. Juga orang yang lebih jangkung, ditafsirkan memiliki kualitas kesehatan lebih baik. Padahal kita tahu bahwa sebenarnya alat yang canggih biasanya lebih kecil, lebih ringan dan hemat tempat.

Ras yang lebih besar dan kuat belum tentu berevolusi lebih baik. Buktinya gajah lebih kuat dan besar dibandingkan manusia tapi apakah gajah lebih sempurna dari manusia. Di masa lalu bumi dipenuhi oleh makhluk-makhluk bertubuh besar seperti dinosaurus. Di masa kini banyak makhluk yang bertubuh lebih kecil dibandingkan zaman dulu sehingga membuat persediaan makanan di dunia tetap cukup. Makhluk yang bertubuh kecil lebih cocok untuk hidup di masa depan.

Ras Indonesia memproduksi lebih sedikit bau badan.
Kelompok-kelompok etnis yang berbeda memiliki karakteristik bau tubuh yang berbeda. Keringat berlebih adalah masalah yang lebih banyak dihadapi oleh orang kaukasian dan afrikan, yang memiliki lebih banyak kantung rambut (tempat dimana apocrine berasal). Sedangkan orang Indonesia cenderung memiliki lebih sedikit kelenjar apocrine, itulah sebabnya orang eropa dan afrika lebih cenderung bau. Orang kulit Putih cenderung lebih bau seperti keju. Orang kulit hitam memiliki aroma cocoa butter. Orang India juga memiliki ciri bau yang khas. Orang-orang asing memiliki kecenderungan bau badan yang lebih tinggi. Tidak aneh kalau minyak wangi dan deodoran sangat laku di luar negeri. Orang Indonesia sedikit lebih wangi kecuali orang yang jarang mandi dan punya masalah bau badan tentunya.

ORANG INDONESIA TIDAK KALAH CERDAS

Soal kecerdasan tentunya orang Indonesia tidak kalah. Orang-orang cerdas di Indonesia sebenarnya banyak. Banyak ilmuwan Indonesia yang berprestasi di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan multi nasional berkedudukan di luar negeri, lembaga riset negara asing, dan bahkan menjadi dekan di sebuah universitas Jepang.
Dengan pendidikan yang lebih baik maka bukan tidak mungkin akan banyak tercipta makhluk cerdas yang berasal dari Indonesia.

Lantas mengapa kita masih tertinggal jauh dari kebanyakan negara-negara lain?
Indonesia tentunya saat ini sedang berkembang. Kurangnya rasa percaya diri dan kurangnya kerja keras serta para pemimpin bangsa ini yang kurang pandai dan kurang punya kebanggaan terhadap bangsa ini menyebabkan bangsa kita masih tertinggal. Tentunya nanti kita harapkan di bawah kepemimpinan yang tepat, Indonesia akan maju dengan sangat pesat melebihi bangsa-bangsa lainnya.

Kita juga harus mengembangkan diri kita sendiri. Ras Indonesia tentunya harus dikembangkan lagi supaya lebih sempurna dengan pemahaman Agama untuk lebih meningkatkan moral spiritual, pendidikan yang lebih baik untuk meningkatkan pengetahuan serta Olahraga dan makanan bergizi untuk meningkatkan kemampuan fisik.

Sebenarnya masing-masing ras memiliki kelebihan masing-masing. Bangsa Indonesia juga memiliki kelebihan dari bangsa lain. Kita harus bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan pada kita. Bangsa Indonesia bisa jadi merupakan manusia yang telah berevolusi sempurna dengan fisik yang disiapkan untuk keadaan alam di masa depan.

motivasi buat menjadi lebih baik.............

Pengayuh Becak Lulus S1 dengan IPK 3,01

Sehari-hari Wawan Kurniawan (28) hanyalah seorang pengayuh becak. Namun siapa sangka pria yang biasa mangkal di depan kantor pos Purworejo itu adalah seorang mahasiswa berprestasi. Sabtu (8/11), dia diwisuda dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,01. Berikut laporannya.

Meski profesinya hanya tukang becak dengan pendapatan pas-pasan dan bahkan sehari-hari penghasilannya sering tidak bisa dipastikan, Wawan Kurniawan tetap punya prinsip dan slogan dalam hidupnya. ’’Optimistis dan jangan pernah menyerah tanpa usaha,’’ tandas warga RT 3 RW 8, Baledono Krajan, Purworejo itu.

Ya, dengan semangat itulah, dia berhasil meraih cita-citanya menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menurut dia, pengayuh becak hanyalah profesi. Dan, dia mengaku tidak malu menyandang profesi itu. Apalagi sejak kelas satu SMA dia memang sudah mengayuh becak.

Setiap hari, pukul 05.00-pukul 17.00, pria yang lahir di Purworejo 24 Desember 1980 itu mangkal di depan kantor pos Purworejo. Sabtu (8/11), mahasiswa Fakultas Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) ini diwisuda dengan IPK 3,01. IPK tersebut tertinggi di fakultasnya.

Kemarin, dia sibuk mengurus ijazahnya karena akan digunakan untuk mendaftar CPNS di Pemkab Purworejo. Meski ada keinginan menjadi pegawai negeri, dia tetap masih punya niat melanjutkan kuliah di UGM Yogyakarta.
Bagaimana dengan becaknya? ’’Ya, itu tetap akan saya pertahankan. Saya akan jadi pengayuh becak di Yogya,’’ katanya.

Bagi dia, becak yang dipakai saat ini punya nilai sejarah tersendiri. Becak itu semula adalah milik kakaknya. Namun becak itu kemudian menganggur karena kakaknya masuk pesantren. Sejak tahun 1997, becak dia pakai untuk mencari nafkah. Tempat mangkal favorit adalah di depan kantor pos Purworejo.

Dia mengungkapkan, penghasilan sebagai tukang becak ada pasang surutnya. Terkadang dalam sehari dia tidak mendapat uang sama sekali. Akan tetapi menjelang Lebaran lalu, Wawan pernah mendapat uang Rp 100 ribu/hari.
Hasil jerih payahnya itu, sebagian dimanfaatkan untuk membayar uang kuliah, meski dia sadar seringkali penghasilannya masih kurang untuk biaya di perguruan tinggi. Seingat dia, pada tahun pertama membayar Rp 2 juta. Selanjutnya untuk biaya per semester Rp 750 ribu. ’’Ya, kalau kurang, saya pinjam teman,’’ tuturnya.

Giat Belajar
Untuk bisa belajar sambil bekerja, dia berusaha membagi waktu. Bila ada jam kuliah, dia berusaha masuk. Setelah itu kembali ke pangkalan becak. Kapan belajar? Menurut Wawan, belajar biasa dilakukan pada malam hari. Dia juga biasa membawa buku-buku kuliah di laci becak. Bila sedang tidak ada penumpang, dia memanfaatkannya untuk belajar. ’’Dulu pas ramai judi togel saya pernah dikira sedang meramal nomor. Padahal sedang belajar,’’ ujarnya.
Selama menjadi tukang becak, kata dia, tentu ada suka dan dukanya. Dia sering mengantar teman sekampus atau dosen, namun Wawan mengaku tidak malu melakukannya.

Dia juga pernah diberi uang Rp 170 ribu dari seorang warga Ngombol, Purworejo yang kini di Jakarta. Mulanya orang yang mengaku pensiunan polisi itu minta diantar dari Hotel Bagelen ke masjid di alun-alun. Ketika penumpang bertanya status dan pendidikan, dia jawab masih kuliah di UMP.

Mungkin karena merasa kasihan, penumpang menyodorkan uang Rp 20 ribu. Keesokan harinya, dia ngobrol lagi dengan penumpang itu. Wawan pun diberi uang Rp 50 ribu untuk biaya kuliah. Beberapa saat setelah itu, orang yang sama menyempatkan datang ke rumahnya dan memberikan uang Rp 100 ribu.

Tentang dukanya, menurut Wawan, dirinya pernah diminta mengantar seorang wanita ke Pasar Baledono, Purworejo. Sesampai di tempat tujuan, penumpang itu turun dan dia diminta menunggu. ’’Eh ternyata tidak nongol lagi,’’ ungkap anak ke-4 pasangan Ambari dan Chamidah itu.

Meski lahir dari keluarga kurang mampu, karena ayah dan ibunya hanya berjualan es tape di alun-alun dan di rumah, semangat Wawan perlu ditiru. (Eko Priyono-46)

Sumber: SuaraMerdeka

Senin, 27 September 2010

8 Macam Cinta Menurut Al-Qur’an

enurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an
katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya
(man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta
sejati ada tiga :

(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain
(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang
lain, dan
(3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang
lain/diri
sendiri.

Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka
berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka
bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti
perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain. Dalam Qur’an cinta
memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
“nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia
ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.[/color][/size]
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap
berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah
ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri
sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski
untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya
dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah
adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua
terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an ,
kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni orang-orang yang
memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba
kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang
anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu
ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki
hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau
silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang
diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia
lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang
diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam
konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda
(an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan
memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha
hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak
menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika
mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada
bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra’fah ,yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega
membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an
menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus
hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha
yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika
tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa
illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin
(Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis
yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan
bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat
kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa
ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila
wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat
al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah
pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan
kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al
mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.

8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh
anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis
cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak
membebani seseorang
kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha
(Q/2:286)

Penyebab komputer agan lambat

Komputer anda lemot (lambat), jangan panik, kesal, dan jangan dibanting komputer anda.
kinerja sistem komputer (PC) maupun noteboook dapat menurun drastis jika tidak memperhatikan faktor yang mempengaruhinya. Walaupun komputer benda mati yang tak bisa berjalan dan belanja ke mall tapi harus mendapatkan perhatian dan perawatan khusus agar selalu stabil, jika rusak berarti anda yang harus ke mall untuk beli komputer baru. komputer perlu diperlakukan seperti istri atau pacar kedua anda
he…he…he….jangan kasih tau pacar saya ya?? (Hmm ga punya pacar deng) wkakakak .
kembali ke toooopiik…..namun jika tidak pada mestinya, jangan kaget jika tiba-tiba komputer anda mendadak mati atau kerjanya sangat lambat. beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya: perlakuan terhadap komputer itu sendiri, pengaturan BIOS yang kurang maksimal, dan manajemen sistem operasi yang kurang teratur.

Yang dimaksud dengan perlakuan komputer adalah: mematikan komputer tidak sesuai prosedur (shutdown), CPU tidak pernah dibersihkan, komputer sering dipindah-pindahkan tempatnya, dan hal-hal yang dapat merusak komputer. Sedangkan yang dimaksud BIOS adalah pengaturannya tidak semaksimal sehingga dapat mengganggu sistem operasi. Jika komputer tidak pernah di-manage secara benar dapat mengakibatkan kinerja sistem operasi akan lambat.

Untuk mengatasi hal itu diperlukan penanganan yang tepat seperti: melakukan Defragmenter secara berkala karena klo keseringan komputer bisa ngadat ya setiap 1-2 bulanlah, memasang software antivirus plus anti spyware, membuang software yang tidak digunakan, tidak memaksakan menggunakan softwareyang berat (memakan memory terlalu banyak atau yang memakan banyak kerja cpu, membuang sampah, dan tindakan lainnya yang mempengaruhi sistem operasi yang digunakan .

Mengenal Sistem Operasi
Sistem Operasi yang berkembang saat ini ada beberapa macam diantaranya:
- Windows (Windows 98, Windows 2000, Windows Me, Windows XP, dan Windows Vista)
- UNIX (Linux)
- Macintosh
- OS/2
- Palm OS, dll

Untuk informasi lebih lanjut tentang sistem operasi dapat mengunjungi situs
http://dmoz.org/Computers/Software/Operating_Systems/

Oleh karena banyak yang menggunakan sistem operasi Windows maka di sini akan membahas beberapa faktor yang mempengaruhinya sehingga sistem tersebut menjadi sangat lambat.
Komputer yang kerjanya sangat lamban membuat kita kesal, ditambah lagi komputer sering hang padahal ada pekerjaan yang harus selesai segera mungkin. Semua itu membuat kita stress.
Ada dua faktor yang mempengaruhi kerja sistem komputer yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor Internal

Yang dimaksud dengan faktor internal adalah segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan komputer itu sendiri, diantaranya:
- Banyak aplikasi yang terinstal
- Banyak file sampah
- Banyak aplikasi yang terbaca ketika Start Up
- Manajemen Sistem tidak teratur
- Pilih Kinerja atau Penampilan (style)
- Proses Shutdown tidak sesuai perosedur

Faktor Eksternal
faktor eksternal yang dapat menghambat sistem kerja komputer diantaranya:
- Tegangan listrik yang tidak stabil
- Lingkungan yang berdebu
- suhu cpu pun perlu diperhatikan
Faktor Eksternal penyebab sistem komputer lambat
faktor eksternal yang dapat menghambat sistem kerja komputer diantaranya:

Tegangan listrik yang tidak stabil
Ada kalanya tegangan listrik yang ada di rumah kita tidak berjalan stabil alias naik turun. Hal tersebut bisa ditimbulkan oleh penggunaan listrik yang bersama-sama. Misal: menghidupkan televisi, mesin air, lemari es (kulkas), dan komputer secara bersama-sama. Suatu saat mematikan mesin air yang tidak digunakan. Nah, jika kondisinya seperti itu tegangan akan mengalami perubahan naik-turun dan inilah faktor penyebab komputer dan monitor menjadi rusak.

Untuk menghindari hal ini, sebaiknya menggunakan UPS/stabilizer agar ketika listrik mati secara mendadak masih ada aliran listrik dan dapat melakukan shutdown sesuai prosedur.
Lingkungan yang berdebu

Debu yang menempel pada komponen komputer dapat mengakibatkan sistem kerja komputer akan terhambat. Bersihkan menggunakan kuas yang lembut, jangan menggunakan kemoceng karena bulu-bulunya akan rontok sehingga malah memperparah keadaan.

Komputer yang bekerja makin lambat perlu diidentifikasi sedini mungkin agar faktor-faktor penyebabnya dapat diniminalisasi. Oleh karena setiap hari bergelut dengan komputer, sedikitnya harus dapat menangani sendiri jika komputer mengalami masalah. Periksa dulu apa penyebab komputer tersebut menjadi lambat, jika sudah ditemukan faktor pemicunya segera atasi sendiri sebelum meminta bantuan orang lain.
Suhu cpu

Suhu cpu pun harus diperhatikan, karena dapat menghambat proses kerja dan dapat memperpendek usia cpu, apalagi bagi penggila overclock yang mengharuskan cpu harus terjaga suhunya dan membutuhkan pendingin ekstra

Faktor Internal penyebab sistem komputer lambat

Banyak aplikasi yang terinstal
Jika ingin menginstal software sebaiknya yang penting dan dibutuhkan saja, jangan terlalu banyak menginstal software yang tidak digunakan. Hal ini secara otomatis akan mengambil space komputer.

Banyak file sampah
Yang dimaksud file-file sampah adalah: file pada Recycle Bin, cookies, histroy IE, file bak, file temporary, dll).
Ketika menghapus file yang tidak digunakan, tidak secara otomatis file tersebut akan terhapus dari hardisk. Sebenarnya masih tersimpan dalam folder Recycle Bin, dan jika kita ingin mengambil file tersebut masih bisa. Hapuslah file-file dalam Recycle Bin karena seluruh file tersebut masih mengambil ruang hardisk. Pastikan Anda telah memilih file-file yang memang sudah tidak digunakan lagi

Banyak aplikasi yang terbaca ketika Start Up
Beberapa software ketika pertama kali diinstal menyediakan pilihan yaitu: ikon ditambahkan pada Desktop dan ikon ditambahkan pada Taskbar Quick Launch. Sebaiknya tidak perlu meletakkn ikon program tersebut dalam taskbar karena menjadi beban sistem komputer karena harus menyediakan memori tersendiri.
Hal ini akan memperlambat kerja komputer. Aturlah beberapa aplikasi yang memang dibutuhkan dengan cara mengatur konfigurasi. Jalankan menu Start kemudian pilih Run, ketikkan msconfig. Nonaktifkan aplikasi yang tidak diperlukan ketika Start Up.

Manajemen Sistem tidak teratur
Komputer yang sering digunakan juga memerlukan penyegaran, salah satunya adalah dengan cara melakukan Scandisk dan Defragmentasi secara rutin minimal satu bulan sekali. Idealnya satu minggu sekali, tergantung frekuensi penggunaan komputer. Meskipun sesuatu yang sepele, namun sering dilupakan banyak orang. Lakukan Scandisk secara rutin untuk memperbaiki hardisk yang sering crash akibat litrik mati secara mendadak atau hang.

Selain melakukan Scandisk, yang tak kalah pentingnya adalah Defragmentasi secara berkala. Hal ini sangat berguna ketika tingkat penggunaan komputer tinggi. File-file perlu ditempatkan sebagaimana mestinya agar ruang kosong tidak berantakan. Jika ruang penempatan file berantakan bisa mengakibatkan kerja komputer lambat.

Pilih Penampilan (style themes)
Bagi pengguna Windows XP sebaiknya memperhatikan hal ini agar kerja komputer lebih cepat. Memang penampilan Windows XP sangat bagus, ikon-ikon yang ditampilkan berwarna-warni dengan efek mengkilap. Perlu diketahui, tampilan windows yang bagus tersebut membutuhkan memori yang tidak sedikit. Makanya jangan heran bila semakin lama kerja komputer semakin lambat.

Windows XP menyediakan dua pilihan yaitu Adjust for Best Appereance atau Adjust for Best. Jika memilih Adjust for best app maka lebih mengutamakan penampilan sehingga kinerja komputer mememerlukan memori yang lebih. Hal ini berpengaruh pada kinerja komputer. Sedangkan jika memilih Adjust for best performance maka lebih mengutamakan kinerja komputer dibandingkan penampilan sehingga tampilan Windows XP akan nampak seperti biasa tanpa efek bayangan ataupun mengkilap seperi windows versi sebelumnya.


Proses Shutdown tidak sesuai perosedur
Komputer yang sangat lambat bekerja membuat kita kesal dibuatnya, makin hari kian lambat saja. Kadang-kadang komputer langsung hang secara mendadak ketika sedang asyik bekerja. Kita akan mematikan komputer tersebut dengan cara menekan tombol Restart atau Booting. Hal ini dikerenakan kita tidak bisa mematikan komputer melalui proses Shutdown karena semua tombol keyboard tidak berfungsi.

Apabila sering mematikan komputer melalui tombol Booting, lama-lama bisa mengakibatkan sistem operasi tidak berjalan normal dan hardsik akan mengalami kerusakan (bad sector). Hal ini akan memperparah keadaan karena file-file sistem yang ada pada bad sector tidak dapat terbaca, sehingga komputer sering mengalami mati mendadak (hang).

Kriptografi & ENKRIPSI

Kriptografi (cryptography) berasal dari bahasa Yunani yaitu cryptos artinya rahasia (secret) dan graphein artinya tulisan (writing). Jadi kriptografi berarti tulisan rahasia (secret writing). Kriptografi tidak hanya ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi seperti kerahasiaan, integritas data, nirpenyangkalan, otentikasi tetapi juga sekumpulan teknik yang berguna.
Terminologi Kriptografi
a. Pesan, Plainteks dan Cipherteks
Pesan adalah data atau informasi yang dapat dibaca dan dimengerti maknanya. Nama lain untuk pesan adalah plainteks. Agar pesan tidak bisa dimengerti maknanya oleh pihak lain, maka pesan perlu disandikan ke bentuk lain yang tidak dapat dipahami. Bentuk pesan yang tersandi disebut cipherteks
b. Pengirim dan Penerima
Pengirim adalah entitas yang mengirim pesan kepada entitas lainnya. Penerima adalah entitas yang menerima pesan. Entitas di sini dapat berupa orang, mesin (komputer), kartu kredit dan sebagainya.
c. Enkripsi dan dekripsi
Proses menyandikan plainteks menjadi cipherteks disebut enkripsi. Sedangkan proses mengembalikan cipherteks menjadi plainteks semula dinamakan dekripsi
d. Cipher dan kunci
Algoritma kriptografi disebut juga cipher yaitu aturan untuk enciphering dan deciphering, atau fungsi matematika yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi. Konsep matematis yang mendasari algoritma kriptografi adalah relasi antara dua buah himpunan yaitu himpunan yang berisi elemen-elemen plainteks dan himpunan yang berisi cipherteks. Enkripsi dan dekripsi adalah fungsi yang memetakan elemen-elemen antara kedua himpunan tersebut.
e. Sistem kriptografi
Sistem kriptografi merupakan kumpulan yang terdiri dari algoritma kriptografi, semua plainteks dan cipherteks yang mungkin dan kunci.
f. Penyadap
Penyadap adalah orang yang berusaha mencoba menangkap pesan selama ditransmisikan dengan tujuan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai sistem kriptografi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan maksud untuk memecahkan cipherteks.
g. Kriptanalisis dan kriptologi
Kriptanalisis (cryptanalysis) adalah ilmu dan seni untuk memecahkan cipherteks menjadi plainteks tanpa mengetahui kunci yang digunakan. Pelakunya disebut kriptanalis. Kriptologi adalah studi mengenai kriptografi dan kriptanalisis.

Sejarah Kriptografi
Sejarah kriptografi sebagian besar merupakan sejarah kriptografi klasik yaitu metode enkripsi yang menggunakan kertas dan pensil atau mungkin dengan bantuan alat mekanik sederhana. Secara umum algoritma kriptografi klasik dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu algoritma transposisi (transposition cipher) dan algoritma substitusi (substitution cipher). Cipher transposisi mengubah susunan huruf-huruf di dalam pesan, sedangkan cipher substitusi mengganti setiap huruf atau kelompok huruf dengan sebuah huruf atau kelompok huruf lain.
Kriptografi modern dipicu oleh perkembangan peralatan komputer digital. Tidak seperti kriptografi
klasik yang mengenkripsi karakter per karakter (dengan menggunakan alfabet tradisionil), kriptografi modern beroperasi pada string biner. Kriptografi modern tidak hanya memberikan aspek keamanan confidentially, tetapi juga aspek keamanan lain seperti otentikasi, integritas data dan nirpenyangkalan.

Kriptografi Kunci Simetri dan Asimetri
Berdasarkan kunci yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi, kriptografi dapat dibedakan lagi menjadi kriptografi kunci simetri dan kriptografi kunci asimetri. Pada sistem kriptografi kunci simetri, kunci untuk enkripsi sama dengan kunci untuk dekripsi. Jika kunci untuk enkripsi tidak sama dengan kunci untuk dekripsi, maka dinamakan sistem kriptografi asimetri. 

Enkripsi adalah proses mengacak data sehingga tidak dapat dibaca oleh pihak lain. Pada kebanyakan proses enkripsi, Anda harus menyertakan kunci sehingga data yang dienkripsi dapat didekripsikan kembali. Ilmu yang mempelajari teknik enkripsi disebut kriptografi. Gambaran sederhana tentang enkripsi, misalnya mengganti huruf a dengan n, b dengan m dan seterusnya. Model penggantian huruf sebagai bentuk enkripsi sederhana ini sekarang tidak dipergunakan secara serius dalam penyembunyian data. ROT-13 adalah program yang masih suka dipergunakan. Intinya adalah mengubah huruf menjadi 23 huruf didepannya. Misalnya b menjadi o dan seterusnya. Pembahasan enkripsi akan terfokus pada enkripsi password dan enkripsi komunikasi data.



Kriptografi & ENKRIPSI

Kriptografi (cryptography) berasal dari bahasa Yunani yaitu cryptos artinya rahasia (secret) dan graphein artinya tulisan (writing). Jadi kriptografi berarti tulisan rahasia (secret writing). Kriptografi tidak hanya ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi seperti kerahasiaan, integritas data, nirpenyangkalan, otentikasi tetapi juga sekumpulan teknik yang berguna.
Terminologi Kriptografi
a. Pesan, Plainteks dan Cipherteks
Pesan adalah data atau informasi yang dapat dibaca dan dimengerti maknanya. Nama lain untuk pesan adalah plainteks. Agar pesan tidak bisa dimengerti maknanya oleh pihak lain, maka pesan perlu disandikan ke bentuk lain yang tidak dapat dipahami. Bentuk pesan yang tersandi disebut cipherteks
b. Pengirim dan Penerima
Pengirim adalah entitas yang mengirim pesan kepada entitas lainnya. Penerima adalah entitas yang menerima pesan. Entitas di sini dapat berupa orang, mesin (komputer), kartu kredit dan sebagainya.
c. Enkripsi dan dekripsi
Proses menyandikan plainteks menjadi cipherteks disebut enkripsi. Sedangkan proses mengembalikan cipherteks menjadi plainteks semula dinamakan dekripsi
d. Cipher dan kunci
Algoritma kriptografi disebut juga cipher yaitu aturan untuk enciphering dan deciphering, atau fungsi matematika yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi. Konsep matematis yang mendasari algoritma kriptografi adalah relasi antara dua buah himpunan yaitu himpunan yang berisi elemen-elemen plainteks dan himpunan yang berisi cipherteks. Enkripsi dan dekripsi adalah fungsi yang memetakan elemen-elemen antara kedua himpunan tersebut.
e. Sistem kriptografi
Sistem kriptografi merupakan kumpulan yang terdiri dari algoritma kriptografi, semua plainteks dan cipherteks yang mungkin dan kunci.
f. Penyadap
Penyadap adalah orang yang berusaha mencoba menangkap pesan selama ditransmisikan dengan tujuan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai sistem kriptografi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan maksud untuk memecahkan cipherteks.
g. Kriptanalisis dan kriptologi
Kriptanalisis (cryptanalysis) adalah ilmu dan seni untuk memecahkan cipherteks menjadi plainteks tanpa mengetahui kunci yang digunakan. Pelakunya disebut kriptanalis. Kriptologi adalah studi mengenai kriptografi dan kriptanalisis.

Sejarah Kriptografi
Sejarah kriptografi sebagian besar merupakan sejarah kriptografi klasik yaitu metode enkripsi yang menggunakan kertas dan pensil atau mungkin dengan bantuan alat mekanik sederhana. Secara umum algoritma kriptografi klasik dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu algoritma transposisi (transposition cipher) dan algoritma substitusi (substitution cipher). Cipher transposisi mengubah susunan huruf-huruf di dalam pesan, sedangkan cipher substitusi mengganti setiap huruf atau kelompok huruf dengan sebuah huruf atau kelompok huruf lain.
Kriptografi modern dipicu oleh perkembangan peralatan komputer digital. Tidak seperti kriptografi
klasik yang mengenkripsi karakter per karakter (dengan menggunakan alfabet tradisionil), kriptografi modern beroperasi pada string biner. Kriptografi modern tidak hanya memberikan aspek keamanan confidentially, tetapi juga aspek keamanan lain seperti otentikasi, integritas data dan nirpenyangkalan.

Kriptografi Kunci Simetri dan Asimetri
Berdasarkan kunci yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi, kriptografi dapat dibedakan lagi menjadi kriptografi kunci simetri dan kriptografi kunci asimetri. Pada sistem kriptografi kunci simetri, kunci untuk enkripsi sama dengan kunci untuk dekripsi. Jika kunci untuk enkripsi tidak sama dengan kunci untuk dekripsi, maka dinamakan sistem kriptografi asimetri. 

Enkripsi adalah proses mengacak data sehingga tidak dapat dibaca oleh pihak lain. Pada kebanyakan proses enkripsi, Anda harus menyertakan kunci sehingga data yang dienkripsi dapat didekripsikan kembali. Ilmu yang mempelajari teknik enkripsi disebut kriptografi. Gambaran sederhana tentang enkripsi, misalnya mengganti huruf a dengan n, b dengan m dan seterusnya. Model penggantian huruf sebagai bentuk enkripsi sederhana ini sekarang tidak dipergunakan secara serius dalam penyembunyian data. ROT-13 adalah program yang masih suka dipergunakan. Intinya adalah mengubah huruf menjadi 23 huruf didepannya. Misalnya b menjadi o dan seterusnya. Pembahasan enkripsi akan terfokus pada enkripsi password dan enkripsi komunikasi data.



datasheet switch

AT-9900 SERIES
Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
AT-9924T
24 x 10/100/1000BASE-T copper ports and
4 x 1000BASE-X SFP combo ports
AT-9924SP
24 x 100/1000BASE-X SFP ports
Industry Leading Features
The AT-9900 series delivers performance,
flexibility, and reliability. Packaged in a 1RU
standard rack mount chassis, all AT-9900 switches
incorporate a switching core that yields wirespeed
Layer 3 IPv4 routing, exceptional Quality of
Service (QoS) features, and a robust hardware
design with dual hot-swappable power supplies.
Policy-based Quality of Service
Comprehensive, low latency QoS features
operating at wire-speed provide flow-based
traffic management with full classification,
prioritization, traffic shaping and min/max
bandwidth profiles. The AT-9924 QoS features
are ideal for service providers wanting to ensure
maximum availability of premium voice, video
and data services, and at the same time manage
customer service level agreements (SLAs). For
enterprise customers, the AT-9924 QoS features
protect productivity by guaranteeing
performance of business-critical applications
including VoIP services, and help restore and
maintain responsiveness of enterprise
applications in the networked workplace.
EPSR
Ethernet Protection Switched Rings prevents
loops in ring-based Ethernet networks. EPSR
provides high availability for mission critical
traffic, preventing loss of video, voice, or data
packets in the event of device failure.
Management Stacking
Stacking provides CLI-based management of up
to nine switches with the same effort as for one
switch.The Allied Telesis solution uses open
standards interfaces as stacking links so that
many switches can be stacked across different
sites, which is not possible using the proprietary
stacking cable solutions. Also, the use of open
standards interfaces avoids the use of expensive
specialized hardware with limited topologies.
Reliability
Dual internal hot-swappable load-sharing power
supplies provide ultimate space-saving reliability and
redundancy for maximum service uptime. Both
110/240V AC and 48V DC PSU versions are
available. There is no requirement for an external
RPS, and combined with front-to-back cooling and
a 1RU height, the AT-9924 is perfect for the highdensity
rack environment where conditions are
demanding and space is at a premium.
Power to Perform
The AT-9924 top-of-the-line multilayer switch is
part of a series built to meet the needs of high
performance network services. Together with
Allied Telesis' advanced software feature set,
AlliedWare, the AT-9924 is a superior highdensity
gigabit switching solution, bringing true
intelligence to the network.
Key Features
• 1RU form factor
• Non-blocking Layer 2 and 3 IPv4 switching
and routing at wire-speed
• Provides up to 256K Layer 3 IPv4 address
table entries
• Supports full 4096 VLANS
• Supports 4096 Layer 3 interfaces
• Supports VLAN double tagging
• Private VLANs, providing security and port
isolation of multiple customers using the same
VLAN
• 802.1x support for network security
• Supports 9KByte Jumbo frame size1
• 100MB SFP support (AT-9924SP-V2 only)
• Full environmental monitoring, with alerts to
network manager in case of failure
• Extensive wire-speed traffic classification
• Comprehensive wirespeed QoS features
• Low switching latency, ideal for voice and
multi-media applications
• Advanced routing protocols OSPF, BGP-4, RIP
and RIPv2, DVMRP, PIM-SM, PIM-DM
• STP, RSTP, MSTP (802.1s)
• DHCP Snooping
• DHCP Option 82
• Port trunking (802.3ad LACP)
• Port mirroring
• Asynchronous management port
• SSH for secure management
• SNMPv3
• GUI
• EPSR
• VRRP
1 When Jumbo frame support is enabled, the MRU is
9710 bytes for ports operating at 10/100Mbps, and
10,240 bytes at 1Gbps, however maximum layer 3
supported frame size is 9198 bytes.
Allied Telesis www.alliedtelesis.com
AT-9900 SERIES | Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
Performance
• Switching Capacity 48Gbps
• Forwarding Rate 36Mpps
Up to 256K IPv4 routes
Up to 16K MAC addresses
Up to 80K BGP routes
4K VLANs
Packet buffer memory:
64MB
160MB
16MB Flash Memory
Reliability
MTBF
1 PSU: 130,000 hours2
2 PSUs: 240,000 hours2
Acoustic Noise
51.0 dB
Power Characteristics
AC:
Voltage: 100-240V AC (10% auto ranging)
Frequency: 47-63Hz
DC:
Voltage: 40-60V DC
Power Consumption
75Watts (256 BTU/hour) maximum
Environmental Specifications
Operating Temp:
0°C to 50°C (32°F to 122°F)
Storage Temp:
-25°C to 70°C (-13°F to 158°F)
Operating Humidity:
5% to 80% non-condensing
Storage Humidity:
5% to 95% non-condensing
Operating Altitude:10,000ft
Physical Dimensions
Height: 44.5mm (1.75")3
Width: 440mm (16.7")
Depth: 440mm (16.7")4
Mounting 19" rack mountable, 1 RU form-factor
Weight
AT-9924T: 6.8kg (15.0 lbs) or 7.7kg
(17.0 lbs) packaged5
AT-9924SP: 6.8kg (15.0 lbs) or 7.7kg
(17.0 lbs) packaged5
AT-PWR01 (AC or DC): 1.0 kg (2.2 lbs) or 1.8
kg (4.0 lbs) packaged
Electrical Approvals and
Compliances
EMC
EN55022 class A, FCC class A,VCCI class A,
AS/NZS CISPR22 class A
Immunity: EN55024, EN61000-3-2/3, CNS
13438 Class A.
Safety
UL60950-1, CAN/CSA-C22.2 No. 60950-1-03,
EN60950-1, EN60825-1, AS/NZS 60950
Certification: UL, cUL,TUV
Restrictions on Hazardous
Substances (RoHS) Compliance
EU RoHS compliant
Country of Origin
Singapore
2 MTBF is measured and calculated according to the
Telcordia methodology, for data-path components only,
with AC PSU(s) installed.
3 With rubber feet height is 51mm (2.00").
4 This depth measurement excludes the PSU handles.
5 One PSU.
Standards and Protocols
Software Release 2.9.1
BGP-4
RFC 1771 Border Gateway Protocol 4
RFC 1966 BGP Router Reflection
RFC 1997 BGP Communities Attribute
RFC 1998 Multi-home Routing
RFC 2385 Protection of BGP Sessions via the TCP MD5
Signature Option
RFC 2439 BGP Route Flap Damping
RFC 2858 Multiprotocol Extensions for BGP-4
RFC 2918 Route Refresh Capability for BGP-4
RFC 3065 Autonomous System Confederations for BGP
RFC 3392 Capabilities Advertisement with BGP-4
Encryption
RFC 1321 MD5
RFC 2104 HMAC
FIPS 180 SHA-1
FIPS 186 RSA
FIPS 46-3 DES
FIPS 46-3 3DES
Ethernet
RFC 894 Ethernet II Encapsulation
IEEE 802.1D MAC Bridges
IEEE 802.1Q Virtual LANs
IEEE 802.1v VLAN Classification by Protocol and Port
IEEE 802.2 Logical Link Control
IEEE 802.3ab 1000BASE-T
IEEE 802.3ac VLAN TAG
IEEE 802.3ad (LACP) Link Aggregation
IEEE 802.3u 100BASE-T
IEEE 802.3x Full Duplex Operation
IEEE 802.3z Gigabit ethernet
GARP
GVRP
General Routing
RFC 768 UDP
RFC 791 IP
RFC 792 ICMP
RFC 793 TCP
RFC 826 ARP
RFC 903 Reverse ARP
RFC 925 Multi-LAN ARP
RFC 950 Subnetting, ICMP
RFC 1027 Proxy ARP
RFC 1035 DNS
RFC 1122 Internet Host Requirements
RFC 1256 ICMP Router Discovery Messages
RFC 1288 Finger
RFC 1332 The PPP Internet Protocol Control Protocol
(IPCP)
RFC 1518 CIDR
RFC 1519 CIDR
RFC 1542 BootP
RFC 1552 The PPP Internetworking Packet Exchange
Control Protocol (IPXCP)
RFC 1570 PPP LCP Extensions
RFC 1661 The Point-to-Point Protocol (PPP)
RFC 1762 The PPP DECnet Phase IV Control Protocol
(DNCP)
RFC 1812 Router Requirements
RFC 1877 PPP Internet Protocol Control Protocol
Extensions for Name Server Addresses
RFC 1918 IP Addressing
Allied Telesis www.alliedtelesis.com
AT-9900 SERIES | Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
RFC 1962 The PPP Compression Control Protocol (CCP)
RFC 1968 The PPP Encryption Control Protocol (ECP)
RFC 1974 PPP Stac LZS Compression Protocol
RFC 1978 PPP Predictor Compression Protocol
RFC 1990 The PPP Multilink Protocol (MP)
RFC 2125 The PPP Bandwidth Allocation Protocol (BAP)
/ The PPP Bandwidth Allocation Control Protocol (BACP)
RFC 2131 DHCP
RFC 2132 DHCP Options and BOOTP Vendor Extensions
RFC 2390 Inverse Address Resolution Protocol
RFC 2516 A Method for Transmitting PPP Over Ethernet
(PPPoE)
RFC 2661 L2TP
RFC 2822 Internet Message Format
RFC 3046 DHCP Relay Agent Information Option
RFC 3232 Assigned Numbers
RFC 3993 Subscriber-ID Sub-option for DHCP Relay
Agent Option
http://www.iana.org/assignments/bootp-dhcp-parameters
BootP and DHCP parameters
IP Multicasting
RFC 1075 DVMRP
RFC 1112 Host Extensions
RFC 2236 IGMPv2
RFC 2362 PIM-SM
RFC 2715 Interoperability Rules for Multicast Routing
Protocols
RFC 3973 PIM-DM
draft-ietf-idmr-dvmrp-v3-9 DVMRP
draft-ietf-magma-snoop-02 IGMP and MLD snooping
switches
IPv6
RFC 1981 Path MTU Discovery for IPv6
RFC 2080 RIPng for IPv6
RFC 2365 Administratively Scoped IP Multicast
RFC 2375 IPv6 Multicast Address Assignments
RFC 2460 IPv6
RFC 2461 Neighbour Discovery for IPv6
RFC 2462 IPv6 Stateless Address Autoconfiguration
RFC 2463 ICMPv6
RFC 2464 Transmission of IPv6 Packets over Ethernet
Networks
RFC 2465 Allocation Guidelines for Ipv6 Multicast
Addresses Management Information Base for IP Version
6: Textual Conventions and General Group
RFC 2466 Management Information Base for IP Version
6: ICMPv6 Group
RFC 2472 IPv6 over PPP
RFC 2526 Reserved IPv6 Subnet Anycast Addresses
RFC 2529 Transmission of IPv6 over IPv4 Domains
without Explicit Tunnels
RFC 2710 Multicast Listener Discovery (MLD) for IPv6
RFC 2711 IPv6 Router Alert Option
RFC 2851 Textual Conventions for Internet Network
Addresses
RFC 2893 Transition Mechanisms for IPv6 Hosts and
Routers
RFC 3056 Connection of IPv6 Domains via IPv4 Clouds
RFC 3307 Allocation Guidelines for IPv6 Multicast
Addresses
RFC 3315 DHCPv6
RFC 3484 Default Address Selection for IPv6
RFC 3513 IPv6 Addressing Architecture
RFC 3587 IPv6 Global Unicast Address Format
RFC 3596 DNS Extensions to support IPv6
RFC 3810 Multicast Listener Discovery Version 2 (MLDv2)
for IPv6
Management
RFC 1155 MIB
RFC 1157 SNMP
RFC 1212 Concise MIB definitions
RFC 1213 MIB-II
RFC 1493 Bridge MIB
RFC 1643 Ethernet MIB
RFC 1657 Definitions of Managed Objects for BGP-4
using SMIv2
RFC 2011 SNMPv2 MIB for IP using SMIv2
RFC 2012 SNMPv2 MIB for TCP using SMIv2
RFC 2096 IP Forwarding Table MIB
RFC 2576 Coexistence between V1, V2, and V3 of the
Internet-standard Network Management Framework
RFC 2578 Structure of Management Information Version
2 (SMIv2)
RFC 2579 Textual Conventions for SMIv2
RFC 2580 Conformance Statements for SMIv2
RFC 2665 Definitions of Managed Objects for the
Ethernet-like Interface Types
RFC 2674 Definitions of Managed Objects for Bridges
with Traffic Classes, Multicast Filtering and Virtual LAN
Extensions (VLAN)
RFC 2790 Host MIB
RFC 2819 RMON (groups 1,2,3 and 9)
RFC 2856 Textual Conventions for Additional High
Capacity Data Types
RFC 2863 The Interfaces Group MIB
RFC 3164 Syslog Protocol
RFC 3410 Introduction and Applicability Statements for
Internet-Standard Management Framework
RFC 3411 An Architecture for Describing SNMP
Management Frameworks
RFC 3412 Message Processing and Dispatching for the
SNMP
RFC 3413 SNMP Applications
RFC 3414 User-based Security Model (USM) for SNMPv3
RFC 3415 View-based Access Control Model (VACM) for
the SNMP
RFC 3416 Version 2 of the Protocol Operations for
SNMP
RFC 3417 Transport Mappings for the SNMP
RFC 3418 MIB for SNMP
RFC 3636 Definitions of Managed Objects for IEEE
802.3 MAUs
RFC 3768 VRRP
draft-ietf-bridge-8021x-00.txt Port Access Control MIB
EPSR
IEEE 802.1AB LLDP
OSPF
RFC 1245 OSPF protocol analysis
RFC 1246 Experience with the OSPF protocol
RFC 2328 OSPFv2
RFC 3101 The OSPF Not-So-Stubby Area (NSSA) Option
QoS
RFC 2205 Reservation Protocol
RFC 2211 Controlled-Load
RFC 2474 DSCP
RFC 2475 An Architecture for Differentiated Services
RFC 2597 Assured Forwarding PHB
RFC 2697 A Single Rate Three Color Marker
RFC 2698 A Two Rate Three Color Marker
RFC 3246 Expedited Forwarding PHB
IEEE 802.1p Priority Tagging
RIP
RFC 1058 RIPv1
RFC 2082 RIP-2MD5 Authentication
RFC 2453 RIPv2
Security
RFC 1492 TACACS
RFC 1779 X.500 String Representation of Distinguished
Names
RFC 1858 Fragmentation
RFC 2284 EAP
RFC 2510 PKI X.509 Certificate Management Protocols
RFC 2511 X.509 Certificate Request Message Format
RFC 2559 PKI X.509 LDAPv2
RFC 2585 PKI X.509 Operational Protocols
RFC 2587 PKI X.509 LDAPv2 Schema
RFC 2865 RADIUS
RFC 2866 RADIUS Accounting
RFC 2868 RADIUS Attributes for Tunnel Protocol Support
RFC 3280 X.509 Certificate and CRL profile
RFC 3580 IEEE 802.1X Remote Authentication Dial In
User Service (RADIUS) Usage Guidelines
draft-grant-tacacs-02.txt TACACS+
Draft-IETF-PKIX-CMP-Transport-Protocols-01 Transport
Protocols for CMP
draft-ylonen-ssh-protocol-00.txt SSH Remote Login
Protocol
IEEE 802.1x Port Based Network Access Control
PKCS #10 Certificate Request Syntax Standard
Diffie-Hellman
Services
RFC RFC 854 Telnet Protocol Specification
RFC 855 Telnet Option Specifications
RFC 856 Telnet Binary Transmission
RFC 857 Telnet Echo Option
RFC 858 Telnet Suppress Go Ahead Option
RFC 932 Subnetwork addressing scheme
RFC 951 BootP
RFC 1091 Telnet terminal-type option
RFC 1179 Line printer daemon protocol
RFC 1305 NTPv3
RFC 1350 TFTP
RFC 1510 Network Authentication
RFC 1542 Clarifications and Extensions for the Bootstrap
protocol
RFC 1945 HTTP/1.0
RFC 1985 SMTP Service Extension
RFC 2049 MIME
RFC 2068 HTTP/1.1
RFC 2156 MIXER
RFC 2821 SMTP
SSL
RFC 2246 The TLS Protocol Version 1.0
draft-freier-ssl-version3-02.txt SSLv3
STP / RSTP / MSTP
IEEE 802.1Q - 2003 MSTP (802.1s)
IEEE 802.1t - 2001 802.1D maintenance
IEEE 802.1w - 2001 RSTP
Allied Telesis www.alliedtelesis.com
AT-9900 SERIES | Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
Ordering Information
AT-9924T
24 x 10/100/1000BASE-T and 4 x 1000BASE-X SFP
combo ports and 256MB of SDRAM factory fitted.
1 PSU and blanking plate
AT-9924T-xx
Order number: 990-001077-xx
2 PSUs
AT-9924T-DP-zz
Order number: 990-002072-zz
AT-9924SP
24 x 100/1000BASE-X SFP ports and 256MB of SDRAM
factory fitted.
Note: V2 supports 100MB SFPs
1 PSU and blanking plate
AT-9924SP-v2-xx
Order number: 990-002215-xx
2 PSUs
AT-9924SP-DP-v2-zz
Order number: 990-002214-zz
Where xx = 00 for all power cords
20 for no power cord
60 for all power cords (AT-9924SP-v2)
80 for 48V DC power supply
Where zz = 10 for U.S. power cord
20 for no power cord
30 for U.K. power cord
40 for Asia/Pacific power cord
50 for European power cord
80 for 48V DC power supply
Compact Flash
AT-CF128A-00
128MB CF Card
Order number: 990-000819-00
100 MB SFP modules (AT-9924SP
only)
AT-SPFXBD-LC-13
100BASE-BX Bi-Di (1310nm Tx, 1550 Rx) fiber up to
15km
AT-SPFXBD-LC-15
100BASE-BX Bi-Di (1550nm Tx, 1310 Rx) fiber up to
15km
AT-SPFX/2
100BASE-FX 1310nm fiber up to 2km
AT-SPFX/15
100BASE-FX 1310nm fiber up to 15km
AT-SPFX/40
100BASE-FX 1310nm fiber up to 40km
GbE SFP modules6
AT-SPTX
1000T 100m Copper
AT-SPSX
GbE multi-mode 850nm fiber
AT-SPLX10
GbE single-mode 1310nm fiber up to 10km
AT-SPLX40
GbE single-mode 1310nm fiber up to 40km
AT-SPLX40/1550
GbE single-mode 1550nm fiber up to 40km
AT-SPZX80
GbE single-mode 1550nm fiber up to 80km
Power Supply Units
AT-PWR01-xx
Power supply module
Spare hot-swappable load-sharing power supply modules
for the AT-9924 series of switches
Order number: 990-001084-xx
Where xx = 10 for U.S. power cord
20 for no power cord
30 for U.K. power cord
40 for Asia/Pacific power cord
50 for European power cord
80 for 48V DC power supply
6 Please check with your sales representative, for RoHS
compliance on SFP modules.
Software Options
AT-9900FL3UPGRD
AT-9924 full Layer 3 upgrade:
· RSVP
· DVMRP
· VRRP
· PIM SM
· PIM DM
Order number: 980-000001-00
AT-9900ADVL3UPGRD
AT-9924 series advanced Layer 3 upgrade:
· IPv6
· BGP-4
Order number: 980-000009-00
AT-AR-VLANDTAG
AT-9924 VLAN double tagging (Q-in-Q / Nested VLANs) upgrade:
Order number: 980-10041-00
AT-AR-3DES (for SSL)
AT-9924 3DES upgrade:
Order number: 980-10000-yyy
Where yyy= 00 for 1 shot
01 for 1 licence
05 for 5 licences
10 for 10 licences
25 for 25 licences
50 for 50 licences
100 for 100 licences
250 for 250 licences
USA Headquarters | 19800 North Creek Parkway | Suite 100 | Bothell |WA 98011 | USA | T: +1 800 424 4284 | F: +1 425 481 3895
European Headquarters | Via Motta 24 | 6830 Chiasso | Switzerland | T: +41 91 69769.00 | F: +41 91 69769.11
Asia-Pacific Headquarters | 11 Tai Seng Link | Singapore | 534182 | T: +65 6383 3832 | F: +65 6383 3830
www.alliedtelesis.com
© 2010 Allied Telesis Inc. All rights reserved. Information in this document is subject to change without notice. All company names, logos, and product designs that are trademarks or registered trademarks are the property of their respective owners. 617-006150 RevO
AT-9900 SERIES | Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
About Allied Telesis
Allied Telesis is part of the Allied Telesis Group.
Founded in 1987, the company is a global
provider of secure Ethernet/IP access solutions
and an industry leader in the deployment of
IP Triple Play networks over copper and fiber
access infrastructure. Our POTS-to-10G iMAP
integrated Multiservice Access Platform and
iMG intelligent Multiservice Gateways, in
conjunction with advanced switching, routing
and WDM-based transport solutions, enable
public and private network operators and
service providers of all sizes to deploy scalable,
carrier-grade networks for the cost-effective
delivery of packet-based voice, video and data
services.
Visit us online at www.alliedtelesis.com.
Service & Support
Allied Telesis provides value-added support
services for its customers under its Net.Cover
programs. For more information on Net.Cover
support programs available in your area, contact
your Allied Telesis sales representative or visit
our website. www.alliedtelesis.com

Selasa, 31 Agustus 2010

layer 2 dan layer 3

LAYER

witch Layer 2 sering dipasang di perusahaan untuk konektivitas kecepatan tinggi antara stasiun akhir pada lapisan data link. Layer 3 switch adalah fenomena yang relatif baru, dipopulerkan oleh (antara lain) pers perdagangan. Artikel ini menjelaskan beberapa masalah dalam evolusi Layer 2 dan Layer 3 switch. Kami berhipotesis bahwa teknologi itu evolusi dan asal-usulnya dalam produk sebelumnya.


Layer 2 Switch 


Menjembatani teknologi telah ada sejak tahun 1980-an (dan bahkan mungkin sebelumnya). Bridging melibatkan segmentasi jaringan area lokal (LAN) pada Layer 2 tingkat. Sebuah jembatan multiport biasanya belajar tentang Media Access Control (MAC) alamat di setiap pelabuhan dan transparan melewati frame MAC ditakdirkan untuk orang-port. Jembatan ini juga memastikan bahwa frame ditakdirkan untuk alamat MAC yang terletak pada port yang sama sebagai stasiun yang berasal tidak diteruskan ke port lain. Untuk kepentingan diskusi ini, kami hanya mempertimbangkan Ethernet LAN. 
Layer 2 switch secara efektif memberikan fungsi yang sama. Mereka mirip dengan multiport jembatan di bahwa mereka belajar dan bingkai maju pada port masing-masing. Perbedaan utama adalah keterlibatan perangkat keras yang memastikan bahwa beberapa switching path di dalam saklar dapat diaktifkan pada waktu yang sama. Sebagai contoh, perhatikan Gambar 1, yang merinci suatu saklar empat-port dengan stasiun A pada port 1, B di port 2, C pada port 3 dan D pada 4 port. Asumsikan bahwa A keinginan untuk berkomunikasi dengan B, dan C keinginan untuk berkomunikasi dengan D. Di jembatan CPU tunggal, forwarding ini biasanya akan dilakukan dalam perangkat lunak, di mana CPU akan mengambil frame dari masing-masing pelabuhan secara berurutan dan ke depan mereka sesuai output port. Proses ini sangat efisien dalam skenario seperti yang ditunjukkan sebelumnya, di mana lalu lintas antara A dan B tidak ada hubungannya dengan lalu lintas antara C dan D. 
Gambar 1: Layer 2 saklar eksternal dengan Router untuk lalu lintas Inter-VLAN dan menghubungkan ke Internet 
(Klik pada gambar untuk memperbesar.) 
Masukkan hardware berbasis Layer 2 switching. Layer 2 switch dengan dukungan hardware mereka bisa maju bingkai secara paralel sehingga A dan B dan C dan D dapat melakukan percakapan simultan. Sejajar-isme memiliki banyak keuntungan. Asumsikan bahwa A dan B adalah NetBIOS stasiun, sedangkan C dan D adalah Internet Protocol (IP) stasiun. Mungkin tidak ada rea-anak untuk komunikasi antara A dan C dan A dan D. Layer 2 switching memungkinkan ini hidup berdampingan tanpa mengorbankan efisiensi. 
Virtual LAN 
Namun dalam kenyataannya, LAN jarang sangat bersih. Asumsikan situasi dimana A, B, C, dan D adalah semua stasiun IP. A dan B termasuk ke dalam subnet IP yang sama, sedangkan C dan D milik subnet yang berbeda. Layer 2 switching baik-baik saja, selama hanya A dan B atau C dan D berkomunikasi. Jika A dan C, yang pada dua subnet IP yang berbeda, perlu berkomunikasi, Layer 2 switching tidak memadai? Komunikasi yang membutuhkan router IP. Sebuah konsekuensi dari ini adalah bahwa A dan B dan C dan D milik domain siaran yang berbeda yaitu, A dan B tidak boleh?? Lihat? siaran lapisan MAC dari C dan D, dan sebaliknya. Namun, suatu Layer 2 saklar tidak dapat membedakan antara siaran menjembatani melibatkan teknologi broadcast forwarding ke semua port lain,? Dan tidak dapat mengetahui bahwa suatu siaran terbatas pada subnet IP yang sama. 
Virtual LAN (VLAN) berlaku dalam situasi ini. Singkatnya, VLAN adalah Layer 2 Layer 2 domain penyiaran. MAC siaran terbatas pada VLAN yang dikonfigurasi ke stasiun. Bagaimana Layer 2 saklar membuat perbedaan ini? Dengan konfigurasi. VLAN melibatkan konfigurasi port atau alamat MAC. Port-based VLAN menunjukkan bahwa semua frame yang berasal dari pelabuhan milik VLAN yang sama, sementara alamat MAC VLAN berbasis menggunakan alamat MAC untuk menentukan keanggotaan VLAN. Dalam Gambar 1, port 1 dan 2 milik VLAN yang sama, sedangkan 3 dan 4 milik port ke VLAN yang berbeda. Perlu diketahui bahwa ada hubungan implisit antara VLAN dan IP subnet Namun,? Konfigurasi dari Layer 2 VLAN tidak melibatkan menentukan parameter Layer 3. 
Kami menunjukkan sebelumnya bahwa stasiun pada dua VLAN yang berbeda dapat com-municate hanya melalui router. Router biasanya terhubung ke salah satu port switch (Gambar 1). router ini kadang-kadang disebut sebagai router satu-bersenjata karena ke depan menerima dan lalu lintas ke port yang sama. Pada kenyataannya, tentu saja, router tersebut terhubung ke switch lain atau untuk jaringan yang luas (WAN). Beberapa Layer 2 switch menyediakan fungsi Layer 3 routing dalam kotak yang sama untuk menghindari router exter-nal dan bebas lain port switch. Skenario ini mengingatkan pada router Multiprotocol besar awal 90-an,? yang menawarkan fungsi routing dan bridging. 
Sebuah klasifikasi yang populer Layer 2 switch adalah? Dipotong-melalui? versus toko-dan-maju.?? Potong-melalui switch membuat keputusan forwarding sebagai frame yang diterima dengan hanya melihat header dari frame. Store-dan-forward switch menerima seluruh Layer 2 frame sebelum membuat keputusan forwarding. switch Hybrid beradaptasi yang mengadaptasi dari cut-sampai toko-dan-maju berdasarkan tingkat kesalahan dalam frame MAC yang sangat populer. 
Karakteristik 
Layer 2 switch sendiri bertindak sebagai akhir node IP untuk Wikipedia Network Management Protocol (SNMP) manajemen, Telnet, dan manajemen berbasis web. fungsi manajemen tersebut melibatkan kehadiran IP stack pada router bersama dengan User Datagram Protocol (UDP), Transmission Control Protocol (TCP), Telnet, dan fungsi SNMP. Akan aktif sendiri memiliki alamat MAC sehingga mereka dapat diatasi sebagai node Layer 2 akhir sementara juga menyediakan fungsi switch transparan. Layer 2 switching tidak, pada umumnya, melibatkan mengubah bingkai MAC. Namun, ada beberapa situasi ketika switch mengubah bingkai MAC. IEEE 802.1Q Komite ini bekerja pada standar VLAN yang melibatkan? Penandaan? bingkai MAC dengan VLAN itu milik; proses penandaan ini melibatkan perubahan frame MAC. Menjembatani teknologi juga melibatkan Protokol Spanning-Tree. Hal ini diperlukan dalam jaringan multibridge untuk menghindari loop. 
Prinsip yang sama juga berlaku terhadap Layer 2 switch, dan yang paling komersial Layer 2 switch mendukung Protokol Spanning-Tree. Pembahasan sebelumnya memberikan garis besar Layer 2 switching func-tions. Layer 2 switching adalah berdasarkan MAC frame, tidak melibatkan mengubah bingkai MAC, secara umum, dan menyediakan switching transparan dalam nominal-alel dengan bingkai MAC. Karena switch beroperasi pada Layer 2, mereka adalah protokol independen. Namun, Layer 2 switching skala tidak baik karena siaran. Meskipun VLAN mengatasi masalah ini sampai batas tertentu, pasti ada kebutuhan untuk mesin pada VLAN yang berbeda untuk berkomunikasi. Salah satu contoh adalah situasi di mana sebuah orga-nization memiliki beberapa server intranet pada subnet yang terpisah (dan karenanya VLAN), menyebabkan banyak lalu lintas intersubnet. Dalam kasus tersebut, penggunaan router yang tidak dapat dihindari; Layer 3 switch masukkan pada saat ini. 
Layer 3 Switch 

Layer 3 switching adalah istilah yang relatif baru, yang telah? Diperpanjang? oleh berbagai vendor untuk menggambarkan produk mereka. Misalnya, satu sekolah menggunakan istilah ini untuk menggambarkan IP routing cepat melalui perangkat keras, sedangkan sekolah lain menggunakannya untuk menggambarkan Multi Protokol Lebih dari ATM (MPOA). Untuk tujuan diskusi ini, Layer 3 switch superfast kekalahan-ers yang Layer 3 forwarding di hardware. Pada artikel ini, kita terutama akan membahas Layer 3 switching dalam konteks IP routing cepat, dengan diskusi singkat dari daerah lain dari aplikasi. 
Evolusi 
Pertimbangkan konteks Layer 2 switching ditunjukkan pada Gambar 1. Layer 2 switch beroperasi dengan baik ketika ada lalu lintas yang sangat sedikit antara VLAN. Seperti lalu lintas VLAN akan memerlukan router baik?? Tergantung off? salah satu pelabuhan sebagai router satu-bersenjata atau hadir dalam internal switch. Untuk menambah fungsi Layer 2, kita membutuhkan sebuah router? Yang mengakibatkan hilangnya kinerja karena router biasanya lebih lambat daripada switch. Skenario ini mengarah ke pertanyaan: Mengapa tidak menerapkan sebuah router di dalam saklar itu sendiri, seperti dijelaskan pada bagian sebelumnya, dan melakukan forwarding di hardware? 
Meskipun konfigurasi ini adalah mungkin, memiliki satu batasan: Layer 2 switch perlu beroperasi hanya pada frame Ethernet MAC. Skenario ini pada gilirannya menyebabkan algoritma forwarding yang jelas yang dapat diimplementasikan dalam perangkat keras. Algoritma ini tidak dapat diperpanjang dengan mudah untuk layer 3 protokol karena ada beberapa Layer 3 routable protokol seperti IP, IPX, AppleTalk, dan seterusnya, dan kedua, keputusan forwarding di protokol seperti biasanya lebih rumit daripada Layer 2 keputusan forwarding. 
Apa kompromi rekayasa? Karena IP adalah yang paling umum di antara semua protokol Layer 3 hari ini, sebagian besar switch Layer 3 hari ini melakukan IP switching di tingkat hardware dan meneruskan protokol lain di layer 2 (yaitu, jembatan mereka). Isu kedua yang rumit 3 keputusan Layer forwarding terbaik diilustrasikan dengan pengolahan opsi IP, yang biasanya menyebabkan panjang header IP bervariasi, rumit membangun mesin forwarding hardware. Namun, sejumlah besar paket IP tidak termasuk opsi IP? Begitu, mungkin memerlukan banyak usaha keras untuk merancang pengolahan ini ke silikon. kompromi adalah bahwa keputusan forwarding paling umum (jalan cepat) dirancang menjadi silikon, sedangkan yang lainnya biasanya ditangani oleh CPU pada Layer 3 switch. 
Sebagai rangkuman, Layer 3 switch router dengan cepat forwarding dilakukan melalui perangkat keras. IP forwarding biasanya melibatkan pencarian rute, decrementing Waktu Untuk Live (TTL) menghitung dan menghitung ulang checksum, dan meneruskan frame dengan header MAC sesuai dengan port output yang benar. Lookup dapat dilakukan di perangkat keras, demikian juga decrementing dari TTL dan perhitungan kembali dari checksum. Router menjalankan routing protokol seperti Open Shortest Path First (OSPF) atau Routing Informasi Protocol (RIP) untuk berkomunikasi dengan lainnya Layer 3 switch atau router dan membangun tabel routing mereka. Routing tabel ini dicari untuk menentukan rute untuk paket masuk. 
2/Layer Gabungan Layer 3 Switches 
Kami telah secara implisit mengasumsikan bahwa Layer 3 switch Layer 2 juga menyediakan fungsionalitas switching, tetapi asumsi ini tidak selalu benar terus. Layer 3 switch dapat bertindak seperti router tradisional menggantung di beberapa Layer 2 switch dan menyediakan konektivitas antar-VLAN. Dalam kasus tersebut, tidak ada Layer 2 fungsi yang diperlukan dalam switch. Konsep ini dapat diilustrasikan dengan memperluas topologi dalam Gambar 1? mempertimbangkan menempatkan Layer murni 3 beralih antara Layer 2 Switch dan router. Layer 3 Switch akan off-load router dari pengolahan antar-VLAN. 
Gambar 2: 
Beralih Layer2/Layer3 Gabungan menghubungkan langsung ke Internet 
(Klik pada gambar untuk memperbesar.) 
Gambar 2 mengilustrasikan Layer 3 switching 2/Layer gabungan fungsi-ality. Layer 3 switch gabungan 2/Layer menggantikan router tradisional juga. A dan B milik subnet IP 1, sedangkan C dan D milik subnet IP 2. Karena pertimbangan switch adalah switch Layer 2 juga, itu switch lalu lintas antara A dan B pada Layer 2. Sekarang perhatikan situ-asi jika A ingin berkomunikasi dengan C. mengirimkan paket IP dialamatkan ke alamat MAC dari switch Layer 3, tetapi dengan tujuan alamat IP sama dengan C? Alamat IP. Strip Layer 3 beralih dari MAC header frame dan switch ke C setelah melakukan pencarian itu, decrementing yang TTL, menghitung ulang checksum dan memasukkan C? Alamat MAC di bidang alamat tujuan MAC. Semua langkah-langkah yang dilakukan pada perangkat keras dengan kecepatan yang sangat tinggi. 
Sekarang bagaimana mengaktifkan tahu bahwa C? S alamat tujuan IP Port 3? Ketika melakukan pembelajaran pada Layer 2, itu hanya tahu C? Alamat MAC. Ada beberapa cara untuk memecahkan masalah ini. switch ini bisa melakukan Address Resolution Protocol (ARP) lookup pada semua subnet IP 2 port C? s alamat MAC dan menentukan C IP-to-MAC pemetaan dan pelabuhan yang terletak C?. Metode lainnya adalah untuk saklar untuk menentukan C IP-to-MAC pemetaan? Oleh mengintip ke dalam header IP pada penerimaan sebuah frame MAC. 
Karakteristik

Konfigurasi dari 3 switch Layer merupakan masalah penting. Ketika switch Layer 3 juga melakukan Layer 2 switching, mereka mempelajari alamat MAC pada port hanya konfigurasi yang diperlukan adalah konfigurasi VLAN?. Untuk Layer 3 switching, itu switch dapat dikonfigurasi dengan port sesuai dengan masing-masing subnet atau alamat IP dapat melakukan belajar. Proses ini melibatkan mengintip ke dalam header IP dari frame MAC dan menentukan subnet pada port dari sumber alamat IP. Ketika tindakan Layer 3 switch seperti router satu-bersenjata untuk switch Layer 2, port yang sama dapat terdiri dari beberapa IP subnet. 
Manajemen Layer 3 switch biasanya dilakukan melalui SNMP. Layer 3 switch juga memiliki alamat MAC untuk pelabuhan mereka? Konfigurasi ini dapat menjadi salah satu per port, atau semua port dapat menggunakan alamat MAC yang sama. Layer 3 switch biasanya menggunakan alamat MAC untuk SNMP, Telnet, dan komunikasi Web manajemen. 
Secara konseptual, Forum ATM? S LAN Emulation (LANE) specificat-ion lebih dekat dengan Layer 2 switching model, sedangkan MPOA lebih dekat dengan Layer 3 switching model. Sejumlah Layer 2 switch dilengkapi dengan antarmuka ATM dan menyediakan fungsi klien LANE pada antarmuka ATM. Skenario ini memungkinkan bridging dari frame MAC di seluruh jaringan ATM dari beralih ke switch. MPOA ini lebih dekat dengan gabungan 3 switching Layer2/Layer, meskipun MPOA klien tidak memiliki protokol routing berjalan di atasnya. (Routing adalah kiri ke server MPOA bawah model Router Virtual.) 
Apakah Layer 3 switch sepenuhnya menghilangkan kebutuhan untuk router tradisional? Tidak, router masih diperlukan, terutama di mana koneksi ke area yang luas dibutuhkan. Layer 3 switch masih dapat terhubung ke router tersebut untuk belajar meja mereka dan paket rute untuk mereka ketika paket tersebut harus dikirim melalui WAN. Akan aktif akan sangat efektif pada workgroup dan tulang punggung di dalam perusahaan, tetapi kemungkinan besar tidak akan mengganti router di tepi WAN (baca internet dalam banyak kasus). Router melakukan berbagai fungsi lainnya seperti penyaringan dengan daftar akses, antar Autonomous System (AS) dengan protokol routing seperti Border Gateway Protocol (BGP), dan seterusnya. Beberapa Layer 3 switch sepenuhnya dapat menggantikan kebutuhan penerus jika mereka dapat memberikan semua fungsi ini (lihat Gambar 2). 
Referensi 
[1 Jaringan Komputer], 3rd Edition, Andrew S. Tanenbaum, ISBN 0-13 - 349945-6, Prentice-Hall, 1996. 
[2] Interkoneksi: Jembatan dan Routers, Radia Perlman, ISBN 0-201 - 56332-0, Addison-Wesley, 1992. 
[3] "Jembatan MAC," ISO / IEC 10038, ANSI / IEEE Standar 802,1 D-1993. 
[4] "Draf Standar untuk Virtual Bridged Jaringan Area Lokal," IEEE P802.1Q/D6, Mei 1997. 
[5] "Protokol Internet," Jon Postel, RFC 791, 1981. 
[6] "Persyaratan untuk Versi 4 IP Router," Fred Baker, RFC 1812, Juni 1995. 
[7] "LAN Emulation di atas ATM Versi 1.0," af-jalur-0.021,000, ATM Forum, Januari 1995. 
[8] "Multiprotocol atas ATM (MPOA) Specication Versi 1.0" af-mpoa-0.087,000, ATM Forum, Juli 1997. 
SRIDHAR THAYUMANAVAN adalah Direktur Teknik di Perangkat Lunak Komunikasi Masa Depan di Santa Clara, CA. Dia menerima gelar BE dalam Elektronika dan Komunikasi Teknik dari Fakultas Teknik, Guindy, Anna University, Madras, India, gelar Master of Science di bidang Teknik Elektro dan Komputer dari University of Texas di Austin. Dia dapat dihubungi di sridhar@futsoft.com

datasheet switch

AT-9900 SERIES
Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
AT-9924T
24 x 10/100/1000BASE-T copper ports and
4 x 1000BASE-X SFP combo ports
AT-9924SP
24 x 100/1000BASE-X SFP ports
Industry Leading Features
The AT-9900 series delivers performance,
flexibility, and reliability. Packaged in a 1RU
standard rack mount chassis, all AT-9900 switches
incorporate a switching core that yields wirespeed
Layer 3 IPv4 routing, exceptional Quality of
Service (QoS) features, and a robust hardware
design with dual hot-swappable power supplies.
Policy-based Quality of Service
Comprehensive, low latency QoS features
operating at wire-speed provide flow-based
traffic management with full classification,
prioritization, traffic shaping and min/max
bandwidth profiles. The AT-9924 QoS features
are ideal for service providers wanting to ensure
maximum availability of premium voice, video
and data services, and at the same time manage
customer service level agreements (SLAs). For
enterprise customers, the AT-9924 QoS features
protect productivity by guaranteeing
performance of business-critical applications
including VoIP services, and help restore and
maintain responsiveness of enterprise
applications in the networked workplace.
EPSR
Ethernet Protection Switched Rings prevents
loops in ring-based Ethernet networks. EPSR
provides high availability for mission critical
traffic, preventing loss of video, voice, or data
packets in the event of device failure.
Management Stacking
Stacking provides CLI-based management of up
to nine switches with the same effort as for one
switch.The Allied Telesis solution uses open
standards interfaces as stacking links so that
many switches can be stacked across different
sites, which is not possible using the proprietary
stacking cable solutions. Also, the use of open
standards interfaces avoids the use of expensive
specialized hardware with limited topologies.
Reliability
Dual internal hot-swappable load-sharing power
supplies provide ultimate space-saving reliability and
redundancy for maximum service uptime. Both
110/240V AC and 48V DC PSU versions are
available. There is no requirement for an external
RPS, and combined with front-to-back cooling and
a 1RU height, the AT-9924 is perfect for the highdensity
rack environment where conditions are
demanding and space is at a premium.
Power to Perform
The AT-9924 top-of-the-line multilayer switch is
part of a series built to meet the needs of high
performance network services. Together with
Allied Telesis' advanced software feature set,
AlliedWare, the AT-9924 is a superior highdensity
gigabit switching solution, bringing true
intelligence to the network.
Key Features
• 1RU form factor
• Non-blocking Layer 2 and 3 IPv4 switching
and routing at wire-speed
• Provides up to 256K Layer 3 IPv4 address
table entries
• Supports full 4096 VLANS
• Supports 4096 Layer 3 interfaces
• Supports VLAN double tagging
• Private VLANs, providing security and port
isolation of multiple customers using the same
VLAN
• 802.1x support for network security
• Supports 9KByte Jumbo frame size1
• 100MB SFP support (AT-9924SP-V2 only)
• Full environmental monitoring, with alerts to
network manager in case of failure
• Extensive wire-speed traffic classification
• Comprehensive wirespeed QoS features
• Low switching latency, ideal for voice and
multi-media applications
• Advanced routing protocols OSPF, BGP-4, RIP
and RIPv2, DVMRP, PIM-SM, PIM-DM
• STP, RSTP, MSTP (802.1s)
• DHCP Snooping
• DHCP Option 82
• Port trunking (802.3ad LACP)
• Port mirroring
• Asynchronous management port
• SSH for secure management
• SNMPv3
• GUI
• EPSR
• VRRP
1 When Jumbo frame support is enabled, the MRU is
9710 bytes for ports operating at 10/100Mbps, and
10,240 bytes at 1Gbps, however maximum layer 3
supported frame size is 9198 bytes.
Allied Telesis www.alliedtelesis.com
AT-9900 SERIES | Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
Performance
• Switching Capacity 48Gbps
• Forwarding Rate 36Mpps
Up to 256K IPv4 routes
Up to 16K MAC addresses
Up to 80K BGP routes
4K VLANs
Packet buffer memory:
64MB
160MB
16MB Flash Memory
Reliability
MTBF
1 PSU: 130,000 hours2
2 PSUs: 240,000 hours2
Acoustic Noise
51.0 dB
Power Characteristics
AC:
Voltage: 100-240V AC (10% auto ranging)
Frequency: 47-63Hz
DC:
Voltage: 40-60V DC
Power Consumption
75Watts (256 BTU/hour) maximum
Environmental Specifications
Operating Temp:
0°C to 50°C (32°F to 122°F)
Storage Temp:
-25°C to 70°C (-13°F to 158°F)
Operating Humidity:
5% to 80% non-condensing
Storage Humidity:
5% to 95% non-condensing
Operating Altitude:10,000ft
Physical Dimensions
Height: 44.5mm (1.75")3
Width: 440mm (16.7")
Depth: 440mm (16.7")4
Mounting 19" rack mountable, 1 RU form-factor
Weight
AT-9924T: 6.8kg (15.0 lbs) or 7.7kg
(17.0 lbs) packaged5
AT-9924SP: 6.8kg (15.0 lbs) or 7.7kg
(17.0 lbs) packaged5
AT-PWR01 (AC or DC): 1.0 kg (2.2 lbs) or 1.8
kg (4.0 lbs) packaged
Electrical Approvals and
Compliances
EMC
EN55022 class A, FCC class A,VCCI class A,
AS/NZS CISPR22 class A
Immunity: EN55024, EN61000-3-2/3, CNS
13438 Class A.
Safety
UL60950-1, CAN/CSA-C22.2 No. 60950-1-03,
EN60950-1, EN60825-1, AS/NZS 60950
Certification: UL, cUL,TUV
Restrictions on Hazardous
Substances (RoHS) Compliance
EU RoHS compliant
Country of Origin
Singapore
2 MTBF is measured and calculated according to the
Telcordia methodology, for data-path components only,
with AC PSU(s) installed.
3 With rubber feet height is 51mm (2.00").
4 This depth measurement excludes the PSU handles.
5 One PSU.
Standards and Protocols
Software Release 2.9.1
BGP-4
RFC 1771 Border Gateway Protocol 4
RFC 1966 BGP Router Reflection
RFC 1997 BGP Communities Attribute
RFC 1998 Multi-home Routing
RFC 2385 Protection of BGP Sessions via the TCP MD5
Signature Option
RFC 2439 BGP Route Flap Damping
RFC 2858 Multiprotocol Extensions for BGP-4
RFC 2918 Route Refresh Capability for BGP-4
RFC 3065 Autonomous System Confederations for BGP
RFC 3392 Capabilities Advertisement with BGP-4
Encryption
RFC 1321 MD5
RFC 2104 HMAC
FIPS 180 SHA-1
FIPS 186 RSA
FIPS 46-3 DES
FIPS 46-3 3DES
Ethernet
RFC 894 Ethernet II Encapsulation
IEEE 802.1D MAC Bridges
IEEE 802.1Q Virtual LANs
IEEE 802.1v VLAN Classification by Protocol and Port
IEEE 802.2 Logical Link Control
IEEE 802.3ab 1000BASE-T
IEEE 802.3ac VLAN TAG
IEEE 802.3ad (LACP) Link Aggregation
IEEE 802.3u 100BASE-T
IEEE 802.3x Full Duplex Operation
IEEE 802.3z Gigabit ethernet
GARP
GVRP
General Routing
RFC 768 UDP
RFC 791 IP
RFC 792 ICMP
RFC 793 TCP
RFC 826 ARP
RFC 903 Reverse ARP
RFC 925 Multi-LAN ARP
RFC 950 Subnetting, ICMP
RFC 1027 Proxy ARP
RFC 1035 DNS
RFC 1122 Internet Host Requirements
RFC 1256 ICMP Router Discovery Messages
RFC 1288 Finger
RFC 1332 The PPP Internet Protocol Control Protocol
(IPCP)
RFC 1518 CIDR
RFC 1519 CIDR
RFC 1542 BootP
RFC 1552 The PPP Internetworking Packet Exchange
Control Protocol (IPXCP)
RFC 1570 PPP LCP Extensions
RFC 1661 The Point-to-Point Protocol (PPP)
RFC 1762 The PPP DECnet Phase IV Control Protocol
(DNCP)
RFC 1812 Router Requirements
RFC 1877 PPP Internet Protocol Control Protocol
Extensions for Name Server Addresses
RFC 1918 IP Addressing
Allied Telesis www.alliedtelesis.com
AT-9900 SERIES | Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
RFC 1962 The PPP Compression Control Protocol (CCP)
RFC 1968 The PPP Encryption Control Protocol (ECP)
RFC 1974 PPP Stac LZS Compression Protocol
RFC 1978 PPP Predictor Compression Protocol
RFC 1990 The PPP Multilink Protocol (MP)
RFC 2125 The PPP Bandwidth Allocation Protocol (BAP)
/ The PPP Bandwidth Allocation Control Protocol (BACP)
RFC 2131 DHCP
RFC 2132 DHCP Options and BOOTP Vendor Extensions
RFC 2390 Inverse Address Resolution Protocol
RFC 2516 A Method for Transmitting PPP Over Ethernet
(PPPoE)
RFC 2661 L2TP
RFC 2822 Internet Message Format
RFC 3046 DHCP Relay Agent Information Option
RFC 3232 Assigned Numbers
RFC 3993 Subscriber-ID Sub-option for DHCP Relay
Agent Option
http://www.iana.org/assignments/bootp-dhcp-parameters
BootP and DHCP parameters
IP Multicasting
RFC 1075 DVMRP
RFC 1112 Host Extensions
RFC 2236 IGMPv2
RFC 2362 PIM-SM
RFC 2715 Interoperability Rules for Multicast Routing
Protocols
RFC 3973 PIM-DM
draft-ietf-idmr-dvmrp-v3-9 DVMRP
draft-ietf-magma-snoop-02 IGMP and MLD snooping
switches
IPv6
RFC 1981 Path MTU Discovery for IPv6
RFC 2080 RIPng for IPv6
RFC 2365 Administratively Scoped IP Multicast
RFC 2375 IPv6 Multicast Address Assignments
RFC 2460 IPv6
RFC 2461 Neighbour Discovery for IPv6
RFC 2462 IPv6 Stateless Address Autoconfiguration
RFC 2463 ICMPv6
RFC 2464 Transmission of IPv6 Packets over Ethernet
Networks
RFC 2465 Allocation Guidelines for Ipv6 Multicast
Addresses Management Information Base for IP Version
6: Textual Conventions and General Group
RFC 2466 Management Information Base for IP Version
6: ICMPv6 Group
RFC 2472 IPv6 over PPP
RFC 2526 Reserved IPv6 Subnet Anycast Addresses
RFC 2529 Transmission of IPv6 over IPv4 Domains
without Explicit Tunnels
RFC 2710 Multicast Listener Discovery (MLD) for IPv6
RFC 2711 IPv6 Router Alert Option
RFC 2851 Textual Conventions for Internet Network
Addresses
RFC 2893 Transition Mechanisms for IPv6 Hosts and
Routers
RFC 3056 Connection of IPv6 Domains via IPv4 Clouds
RFC 3307 Allocation Guidelines for IPv6 Multicast
Addresses
RFC 3315 DHCPv6
RFC 3484 Default Address Selection for IPv6
RFC 3513 IPv6 Addressing Architecture
RFC 3587 IPv6 Global Unicast Address Format
RFC 3596 DNS Extensions to support IPv6
RFC 3810 Multicast Listener Discovery Version 2 (MLDv2)
for IPv6
Management
RFC 1155 MIB
RFC 1157 SNMP
RFC 1212 Concise MIB definitions
RFC 1213 MIB-II
RFC 1493 Bridge MIB
RFC 1643 Ethernet MIB
RFC 1657 Definitions of Managed Objects for BGP-4
using SMIv2
RFC 2011 SNMPv2 MIB for IP using SMIv2
RFC 2012 SNMPv2 MIB for TCP using SMIv2
RFC 2096 IP Forwarding Table MIB
RFC 2576 Coexistence between V1, V2, and V3 of the
Internet-standard Network Management Framework
RFC 2578 Structure of Management Information Version
2 (SMIv2)
RFC 2579 Textual Conventions for SMIv2
RFC 2580 Conformance Statements for SMIv2
RFC 2665 Definitions of Managed Objects for the
Ethernet-like Interface Types
RFC 2674 Definitions of Managed Objects for Bridges
with Traffic Classes, Multicast Filtering and Virtual LAN
Extensions (VLAN)
RFC 2790 Host MIB
RFC 2819 RMON (groups 1,2,3 and 9)
RFC 2856 Textual Conventions for Additional High
Capacity Data Types
RFC 2863 The Interfaces Group MIB
RFC 3164 Syslog Protocol
RFC 3410 Introduction and Applicability Statements for
Internet-Standard Management Framework
RFC 3411 An Architecture for Describing SNMP
Management Frameworks
RFC 3412 Message Processing and Dispatching for the
SNMP
RFC 3413 SNMP Applications
RFC 3414 User-based Security Model (USM) for SNMPv3
RFC 3415 View-based Access Control Model (VACM) for
the SNMP
RFC 3416 Version 2 of the Protocol Operations for
SNMP
RFC 3417 Transport Mappings for the SNMP
RFC 3418 MIB for SNMP
RFC 3636 Definitions of Managed Objects for IEEE
802.3 MAUs
RFC 3768 VRRP
draft-ietf-bridge-8021x-00.txt Port Access Control MIB
EPSR
IEEE 802.1AB LLDP
OSPF
RFC 1245 OSPF protocol analysis
RFC 1246 Experience with the OSPF protocol
RFC 2328 OSPFv2
RFC 3101 The OSPF Not-So-Stubby Area (NSSA) Option
QoS
RFC 2205 Reservation Protocol
RFC 2211 Controlled-Load
RFC 2474 DSCP
RFC 2475 An Architecture for Differentiated Services
RFC 2597 Assured Forwarding PHB
RFC 2697 A Single Rate Three Color Marker
RFC 2698 A Two Rate Three Color Marker
RFC 3246 Expedited Forwarding PHB
IEEE 802.1p Priority Tagging
RIP
RFC 1058 RIPv1
RFC 2082 RIP-2MD5 Authentication
RFC 2453 RIPv2
Security
RFC 1492 TACACS
RFC 1779 X.500 String Representation of Distinguished
Names
RFC 1858 Fragmentation
RFC 2284 EAP
RFC 2510 PKI X.509 Certificate Management Protocols
RFC 2511 X.509 Certificate Request Message Format
RFC 2559 PKI X.509 LDAPv2
RFC 2585 PKI X.509 Operational Protocols
RFC 2587 PKI X.509 LDAPv2 Schema
RFC 2865 RADIUS
RFC 2866 RADIUS Accounting
RFC 2868 RADIUS Attributes for Tunnel Protocol Support
RFC 3280 X.509 Certificate and CRL profile
RFC 3580 IEEE 802.1X Remote Authentication Dial In
User Service (RADIUS) Usage Guidelines
draft-grant-tacacs-02.txt TACACS+
Draft-IETF-PKIX-CMP-Transport-Protocols-01 Transport
Protocols for CMP
draft-ylonen-ssh-protocol-00.txt SSH Remote Login
Protocol
IEEE 802.1x Port Based Network Access Control
PKCS #10 Certificate Request Syntax Standard
Diffie-Hellman
Services
RFC RFC 854 Telnet Protocol Specification
RFC 855 Telnet Option Specifications
RFC 856 Telnet Binary Transmission
RFC 857 Telnet Echo Option
RFC 858 Telnet Suppress Go Ahead Option
RFC 932 Subnetwork addressing scheme
RFC 951 BootP
RFC 1091 Telnet terminal-type option
RFC 1179 Line printer daemon protocol
RFC 1305 NTPv3
RFC 1350 TFTP
RFC 1510 Network Authentication
RFC 1542 Clarifications and Extensions for the Bootstrap
protocol
RFC 1945 HTTP/1.0
RFC 1985 SMTP Service Extension
RFC 2049 MIME
RFC 2068 HTTP/1.1
RFC 2156 MIXER
RFC 2821 SMTP
SSL
RFC 2246 The TLS Protocol Version 1.0
draft-freier-ssl-version3-02.txt SSLv3
STP / RSTP / MSTP
IEEE 802.1Q - 2003 MSTP (802.1s)
IEEE 802.1t - 2001 802.1D maintenance
IEEE 802.1w - 2001 RSTP
Allied Telesis www.alliedtelesis.com
AT-9900 SERIES | Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
Ordering Information
AT-9924T
24 x 10/100/1000BASE-T and 4 x 1000BASE-X SFP
combo ports and 256MB of SDRAM factory fitted.
1 PSU and blanking plate
AT-9924T-xx
Order number: 990-001077-xx
2 PSUs
AT-9924T-DP-zz
Order number: 990-002072-zz
AT-9924SP
24 x 100/1000BASE-X SFP ports and 256MB of SDRAM
factory fitted.
Note: V2 supports 100MB SFPs
1 PSU and blanking plate
AT-9924SP-v2-xx
Order number: 990-002215-xx
2 PSUs
AT-9924SP-DP-v2-zz
Order number: 990-002214-zz
Where xx = 00 for all power cords
20 for no power cord
60 for all power cords (AT-9924SP-v2)
80 for 48V DC power supply
Where zz = 10 for U.S. power cord
20 for no power cord
30 for U.K. power cord
40 for Asia/Pacific power cord
50 for European power cord
80 for 48V DC power supply
Compact Flash
AT-CF128A-00
128MB CF Card
Order number: 990-000819-00
100 MB SFP modules (AT-9924SP
only)
AT-SPFXBD-LC-13
100BASE-BX Bi-Di (1310nm Tx, 1550 Rx) fiber up to
15km
AT-SPFXBD-LC-15
100BASE-BX Bi-Di (1550nm Tx, 1310 Rx) fiber up to
15km
AT-SPFX/2
100BASE-FX 1310nm fiber up to 2km
AT-SPFX/15
100BASE-FX 1310nm fiber up to 15km
AT-SPFX/40
100BASE-FX 1310nm fiber up to 40km
GbE SFP modules6
AT-SPTX
1000T 100m Copper
AT-SPSX
GbE multi-mode 850nm fiber
AT-SPLX10
GbE single-mode 1310nm fiber up to 10km
AT-SPLX40
GbE single-mode 1310nm fiber up to 40km
AT-SPLX40/1550
GbE single-mode 1550nm fiber up to 40km
AT-SPZX80
GbE single-mode 1550nm fiber up to 80km
Power Supply Units
AT-PWR01-xx
Power supply module
Spare hot-swappable load-sharing power supply modules
for the AT-9924 series of switches
Order number: 990-001084-xx
Where xx = 10 for U.S. power cord
20 for no power cord
30 for U.K. power cord
40 for Asia/Pacific power cord
50 for European power cord
80 for 48V DC power supply
6 Please check with your sales representative, for RoHS
compliance on SFP modules.
Software Options
AT-9900FL3UPGRD
AT-9924 full Layer 3 upgrade:
· RSVP
· DVMRP
· VRRP
· PIM SM
· PIM DM
Order number: 980-000001-00
AT-9900ADVL3UPGRD
AT-9924 series advanced Layer 3 upgrade:
· IPv6
· BGP-4
Order number: 980-000009-00
AT-AR-VLANDTAG
AT-9924 VLAN double tagging (Q-in-Q / Nested VLANs) upgrade:
Order number: 980-10041-00
AT-AR-3DES (for SSL)
AT-9924 3DES upgrade:
Order number: 980-10000-yyy
Where yyy= 00 for 1 shot
01 for 1 licence
05 for 5 licences
10 for 10 licences
25 for 25 licences
50 for 50 licences
100 for 100 licences
250 for 250 licences
USA Headquarters | 19800 North Creek Parkway | Suite 100 | Bothell |WA 98011 | USA | T: +1 800 424 4284 | F: +1 425 481 3895
European Headquarters | Via Motta 24 | 6830 Chiasso | Switzerland | T: +41 91 69769.00 | F: +41 91 69769.11
Asia-Pacific Headquarters | 11 Tai Seng Link | Singapore | 534182 | T: +65 6383 3832 | F: +65 6383 3830
www.alliedtelesis.com
© 2010 Allied Telesis Inc. All rights reserved. Information in this document is subject to change without notice. All company names, logos, and product designs that are trademarks or registered trademarks are the property of their respective owners. 617-006150 RevO
AT-9900 SERIES | Multilayer IPv4 and IPv6 Gigabit Switches
About Allied Telesis
Allied Telesis is part of the Allied Telesis Group.
Founded in 1987, the company is a global
provider of secure Ethernet/IP access solutions
and an industry leader in the deployment of
IP Triple Play networks over copper and fiber
access infrastructure. Our POTS-to-10G iMAP
integrated Multiservice Access Platform and
iMG intelligent Multiservice Gateways, in
conjunction with advanced switching, routing
and WDM-based transport solutions, enable
public and private network operators and
service providers of all sizes to deploy scalable,
carrier-grade networks for the cost-effective
delivery of packet-based voice, video and data
services.
Visit us online at www.alliedtelesis.com.
Service & Support
Allied Telesis provides value-added support
services for its customers under its Net.Cover
programs. For more information on Net.Cover
support programs available in your area, contact
your Allied Telesis sales representative or visit
our website. www.alliedtelesis.com

Selasa, 31 Agustus 2010

layer 2 dan layer 3

LAYER

witch Layer 2 sering dipasang di perusahaan untuk konektivitas kecepatan tinggi antara stasiun akhir pada lapisan data link. Layer 3 switch adalah fenomena yang relatif baru, dipopulerkan oleh (antara lain) pers perdagangan. Artikel ini menjelaskan beberapa masalah dalam evolusi Layer 2 dan Layer 3 switch. Kami berhipotesis bahwa teknologi itu evolusi dan asal-usulnya dalam produk sebelumnya.


Layer 2 Switch 


Menjembatani teknologi telah ada sejak tahun 1980-an (dan bahkan mungkin sebelumnya). Bridging melibatkan segmentasi jaringan area lokal (LAN) pada Layer 2 tingkat. Sebuah jembatan multiport biasanya belajar tentang Media Access Control (MAC) alamat di setiap pelabuhan dan transparan melewati frame MAC ditakdirkan untuk orang-port. Jembatan ini juga memastikan bahwa frame ditakdirkan untuk alamat MAC yang terletak pada port yang sama sebagai stasiun yang berasal tidak diteruskan ke port lain. Untuk kepentingan diskusi ini, kami hanya mempertimbangkan Ethernet LAN. 
Layer 2 switch secara efektif memberikan fungsi yang sama. Mereka mirip dengan multiport jembatan di bahwa mereka belajar dan bingkai maju pada port masing-masing. Perbedaan utama adalah keterlibatan perangkat keras yang memastikan bahwa beberapa switching path di dalam saklar dapat diaktifkan pada waktu yang sama. Sebagai contoh, perhatikan Gambar 1, yang merinci suatu saklar empat-port dengan stasiun A pada port 1, B di port 2, C pada port 3 dan D pada 4 port. Asumsikan bahwa A keinginan untuk berkomunikasi dengan B, dan C keinginan untuk berkomunikasi dengan D. Di jembatan CPU tunggal, forwarding ini biasanya akan dilakukan dalam perangkat lunak, di mana CPU akan mengambil frame dari masing-masing pelabuhan secara berurutan dan ke depan mereka sesuai output port. Proses ini sangat efisien dalam skenario seperti yang ditunjukkan sebelumnya, di mana lalu lintas antara A dan B tidak ada hubungannya dengan lalu lintas antara C dan D. 
Gambar 1: Layer 2 saklar eksternal dengan Router untuk lalu lintas Inter-VLAN dan menghubungkan ke Internet 
(Klik pada gambar untuk memperbesar.) 
Masukkan hardware berbasis Layer 2 switching. Layer 2 switch dengan dukungan hardware mereka bisa maju bingkai secara paralel sehingga A dan B dan C dan D dapat melakukan percakapan simultan. Sejajar-isme memiliki banyak keuntungan. Asumsikan bahwa A dan B adalah NetBIOS stasiun, sedangkan C dan D adalah Internet Protocol (IP) stasiun. Mungkin tidak ada rea-anak untuk komunikasi antara A dan C dan A dan D. Layer 2 switching memungkinkan ini hidup berdampingan tanpa mengorbankan efisiensi. 
Virtual LAN 
Namun dalam kenyataannya, LAN jarang sangat bersih. Asumsikan situasi dimana A, B, C, dan D adalah semua stasiun IP. A dan B termasuk ke dalam subnet IP yang sama, sedangkan C dan D milik subnet yang berbeda. Layer 2 switching baik-baik saja, selama hanya A dan B atau C dan D berkomunikasi. Jika A dan C, yang pada dua subnet IP yang berbeda, perlu berkomunikasi, Layer 2 switching tidak memadai? Komunikasi yang membutuhkan router IP. Sebuah konsekuensi dari ini adalah bahwa A dan B dan C dan D milik domain siaran yang berbeda yaitu, A dan B tidak boleh?? Lihat? siaran lapisan MAC dari C dan D, dan sebaliknya. Namun, suatu Layer 2 saklar tidak dapat membedakan antara siaran menjembatani melibatkan teknologi broadcast forwarding ke semua port lain,? Dan tidak dapat mengetahui bahwa suatu siaran terbatas pada subnet IP yang sama. 
Virtual LAN (VLAN) berlaku dalam situasi ini. Singkatnya, VLAN adalah Layer 2 Layer 2 domain penyiaran. MAC siaran terbatas pada VLAN yang dikonfigurasi ke stasiun. Bagaimana Layer 2 saklar membuat perbedaan ini? Dengan konfigurasi. VLAN melibatkan konfigurasi port atau alamat MAC. Port-based VLAN menunjukkan bahwa semua frame yang berasal dari pelabuhan milik VLAN yang sama, sementara alamat MAC VLAN berbasis menggunakan alamat MAC untuk menentukan keanggotaan VLAN. Dalam Gambar 1, port 1 dan 2 milik VLAN yang sama, sedangkan 3 dan 4 milik port ke VLAN yang berbeda. Perlu diketahui bahwa ada hubungan implisit antara VLAN dan IP subnet Namun,? Konfigurasi dari Layer 2 VLAN tidak melibatkan menentukan parameter Layer 3. 
Kami menunjukkan sebelumnya bahwa stasiun pada dua VLAN yang berbeda dapat com-municate hanya melalui router. Router biasanya terhubung ke salah satu port switch (Gambar 1). router ini kadang-kadang disebut sebagai router satu-bersenjata karena ke depan menerima dan lalu lintas ke port yang sama. Pada kenyataannya, tentu saja, router tersebut terhubung ke switch lain atau untuk jaringan yang luas (WAN). Beberapa Layer 2 switch menyediakan fungsi Layer 3 routing dalam kotak yang sama untuk menghindari router exter-nal dan bebas lain port switch. Skenario ini mengingatkan pada router Multiprotocol besar awal 90-an,? yang menawarkan fungsi routing dan bridging. 
Sebuah klasifikasi yang populer Layer 2 switch adalah? Dipotong-melalui? versus toko-dan-maju.?? Potong-melalui switch membuat keputusan forwarding sebagai frame yang diterima dengan hanya melihat header dari frame. Store-dan-forward switch menerima seluruh Layer 2 frame sebelum membuat keputusan forwarding. switch Hybrid beradaptasi yang mengadaptasi dari cut-sampai toko-dan-maju berdasarkan tingkat kesalahan dalam frame MAC yang sangat populer. 
Karakteristik 
Layer 2 switch sendiri bertindak sebagai akhir node IP untuk Wikipedia Network Management Protocol (SNMP) manajemen, Telnet, dan manajemen berbasis web. fungsi manajemen tersebut melibatkan kehadiran IP stack pada router bersama dengan User Datagram Protocol (UDP), Transmission Control Protocol (TCP), Telnet, dan fungsi SNMP. Akan aktif sendiri memiliki alamat MAC sehingga mereka dapat diatasi sebagai node Layer 2 akhir sementara juga menyediakan fungsi switch transparan. Layer 2 switching tidak, pada umumnya, melibatkan mengubah bingkai MAC. Namun, ada beberapa situasi ketika switch mengubah bingkai MAC. IEEE 802.1Q Komite ini bekerja pada standar VLAN yang melibatkan? Penandaan? bingkai MAC dengan VLAN itu milik; proses penandaan ini melibatkan perubahan frame MAC. Menjembatani teknologi juga melibatkan Protokol Spanning-Tree. Hal ini diperlukan dalam jaringan multibridge untuk menghindari loop. 
Prinsip yang sama juga berlaku terhadap Layer 2 switch, dan yang paling komersial Layer 2 switch mendukung Protokol Spanning-Tree. Pembahasan sebelumnya memberikan garis besar Layer 2 switching func-tions. Layer 2 switching adalah berdasarkan MAC frame, tidak melibatkan mengubah bingkai MAC, secara umum, dan menyediakan switching transparan dalam nominal-alel dengan bingkai MAC. Karena switch beroperasi pada Layer 2, mereka adalah protokol independen. Namun, Layer 2 switching skala tidak baik karena siaran. Meskipun VLAN mengatasi masalah ini sampai batas tertentu, pasti ada kebutuhan untuk mesin pada VLAN yang berbeda untuk berkomunikasi. Salah satu contoh adalah situasi di mana sebuah orga-nization memiliki beberapa server intranet pada subnet yang terpisah (dan karenanya VLAN), menyebabkan banyak lalu lintas intersubnet. Dalam kasus tersebut, penggunaan router yang tidak dapat dihindari; Layer 3 switch masukkan pada saat ini. 
Layer 3 Switch 

Layer 3 switching adalah istilah yang relatif baru, yang telah? Diperpanjang? oleh berbagai vendor untuk menggambarkan produk mereka. Misalnya, satu sekolah menggunakan istilah ini untuk menggambarkan IP routing cepat melalui perangkat keras, sedangkan sekolah lain menggunakannya untuk menggambarkan Multi Protokol Lebih dari ATM (MPOA). Untuk tujuan diskusi ini, Layer 3 switch superfast kekalahan-ers yang Layer 3 forwarding di hardware. Pada artikel ini, kita terutama akan membahas Layer 3 switching dalam konteks IP routing cepat, dengan diskusi singkat dari daerah lain dari aplikasi. 
Evolusi 
Pertimbangkan konteks Layer 2 switching ditunjukkan pada Gambar 1. Layer 2 switch beroperasi dengan baik ketika ada lalu lintas yang sangat sedikit antara VLAN. Seperti lalu lintas VLAN akan memerlukan router baik?? Tergantung off? salah satu pelabuhan sebagai router satu-bersenjata atau hadir dalam internal switch. Untuk menambah fungsi Layer 2, kita membutuhkan sebuah router? Yang mengakibatkan hilangnya kinerja karena router biasanya lebih lambat daripada switch. Skenario ini mengarah ke pertanyaan: Mengapa tidak menerapkan sebuah router di dalam saklar itu sendiri, seperti dijelaskan pada bagian sebelumnya, dan melakukan forwarding di hardware? 
Meskipun konfigurasi ini adalah mungkin, memiliki satu batasan: Layer 2 switch perlu beroperasi hanya pada frame Ethernet MAC. Skenario ini pada gilirannya menyebabkan algoritma forwarding yang jelas yang dapat diimplementasikan dalam perangkat keras. Algoritma ini tidak dapat diperpanjang dengan mudah untuk layer 3 protokol karena ada beberapa Layer 3 routable protokol seperti IP, IPX, AppleTalk, dan seterusnya, dan kedua, keputusan forwarding di protokol seperti biasanya lebih rumit daripada Layer 2 keputusan forwarding. 
Apa kompromi rekayasa? Karena IP adalah yang paling umum di antara semua protokol Layer 3 hari ini, sebagian besar switch Layer 3 hari ini melakukan IP switching di tingkat hardware dan meneruskan protokol lain di layer 2 (yaitu, jembatan mereka). Isu kedua yang rumit 3 keputusan Layer forwarding terbaik diilustrasikan dengan pengolahan opsi IP, yang biasanya menyebabkan panjang header IP bervariasi, rumit membangun mesin forwarding hardware. Namun, sejumlah besar paket IP tidak termasuk opsi IP? Begitu, mungkin memerlukan banyak usaha keras untuk merancang pengolahan ini ke silikon. kompromi adalah bahwa keputusan forwarding paling umum (jalan cepat) dirancang menjadi silikon, sedangkan yang lainnya biasanya ditangani oleh CPU pada Layer 3 switch. 
Sebagai rangkuman, Layer 3 switch router dengan cepat forwarding dilakukan melalui perangkat keras. IP forwarding biasanya melibatkan pencarian rute, decrementing Waktu Untuk Live (TTL) menghitung dan menghitung ulang checksum, dan meneruskan frame dengan header MAC sesuai dengan port output yang benar. Lookup dapat dilakukan di perangkat keras, demikian juga decrementing dari TTL dan perhitungan kembali dari checksum. Router menjalankan routing protokol seperti Open Shortest Path First (OSPF) atau Routing Informasi Protocol (RIP) untuk berkomunikasi dengan lainnya Layer 3 switch atau router dan membangun tabel routing mereka. Routing tabel ini dicari untuk menentukan rute untuk paket masuk. 
2/Layer Gabungan Layer 3 Switches 
Kami telah secara implisit mengasumsikan bahwa Layer 3 switch Layer 2 juga menyediakan fungsionalitas switching, tetapi asumsi ini tidak selalu benar terus. Layer 3 switch dapat bertindak seperti router tradisional menggantung di beberapa Layer 2 switch dan menyediakan konektivitas antar-VLAN. Dalam kasus tersebut, tidak ada Layer 2 fungsi yang diperlukan dalam switch. Konsep ini dapat diilustrasikan dengan memperluas topologi dalam Gambar 1? mempertimbangkan menempatkan Layer murni 3 beralih antara Layer 2 Switch dan router. Layer 3 Switch akan off-load router dari pengolahan antar-VLAN. 
Gambar 2: 
Beralih Layer2/Layer3 Gabungan menghubungkan langsung ke Internet 
(Klik pada gambar untuk memperbesar.) 
Gambar 2 mengilustrasikan Layer 3 switching 2/Layer gabungan fungsi-ality. Layer 3 switch gabungan 2/Layer menggantikan router tradisional juga. A dan B milik subnet IP 1, sedangkan C dan D milik subnet IP 2. Karena pertimbangan switch adalah switch Layer 2 juga, itu switch lalu lintas antara A dan B pada Layer 2. Sekarang perhatikan situ-asi jika A ingin berkomunikasi dengan C. mengirimkan paket IP dialamatkan ke alamat MAC dari switch Layer 3, tetapi dengan tujuan alamat IP sama dengan C? Alamat IP. Strip Layer 3 beralih dari MAC header frame dan switch ke C setelah melakukan pencarian itu, decrementing yang TTL, menghitung ulang checksum dan memasukkan C? Alamat MAC di bidang alamat tujuan MAC. Semua langkah-langkah yang dilakukan pada perangkat keras dengan kecepatan yang sangat tinggi. 
Sekarang bagaimana mengaktifkan tahu bahwa C? S alamat tujuan IP Port 3? Ketika melakukan pembelajaran pada Layer 2, itu hanya tahu C? Alamat MAC. Ada beberapa cara untuk memecahkan masalah ini. switch ini bisa melakukan Address Resolution Protocol (ARP) lookup pada semua subnet IP 2 port C? s alamat MAC dan menentukan C IP-to-MAC pemetaan dan pelabuhan yang terletak C?. Metode lainnya adalah untuk saklar untuk menentukan C IP-to-MAC pemetaan? Oleh mengintip ke dalam header IP pada penerimaan sebuah frame MAC. 
Karakteristik

Konfigurasi dari 3 switch Layer merupakan masalah penting. Ketika switch Layer 3 juga melakukan Layer 2 switching, mereka mempelajari alamat MAC pada port hanya konfigurasi yang diperlukan adalah konfigurasi VLAN?. Untuk Layer 3 switching, itu switch dapat dikonfigurasi dengan port sesuai dengan masing-masing subnet atau alamat IP dapat melakukan belajar. Proses ini melibatkan mengintip ke dalam header IP dari frame MAC dan menentukan subnet pada port dari sumber alamat IP. Ketika tindakan Layer 3 switch seperti router satu-bersenjata untuk switch Layer 2, port yang sama dapat terdiri dari beberapa IP subnet. 
Manajemen Layer 3 switch biasanya dilakukan melalui SNMP. Layer 3 switch juga memiliki alamat MAC untuk pelabuhan mereka? Konfigurasi ini dapat menjadi salah satu per port, atau semua port dapat menggunakan alamat MAC yang sama. Layer 3 switch biasanya menggunakan alamat MAC untuk SNMP, Telnet, dan komunikasi Web manajemen. 
Secara konseptual, Forum ATM? S LAN Emulation (LANE) specificat-ion lebih dekat dengan Layer 2 switching model, sedangkan MPOA lebih dekat dengan Layer 3 switching model. Sejumlah Layer 2 switch dilengkapi dengan antarmuka ATM dan menyediakan fungsi klien LANE pada antarmuka ATM. Skenario ini memungkinkan bridging dari frame MAC di seluruh jaringan ATM dari beralih ke switch. MPOA ini lebih dekat dengan gabungan 3 switching Layer2/Layer, meskipun MPOA klien tidak memiliki protokol routing berjalan di atasnya. (Routing adalah kiri ke server MPOA bawah model Router Virtual.) 
Apakah Layer 3 switch sepenuhnya menghilangkan kebutuhan untuk router tradisional? Tidak, router masih diperlukan, terutama di mana koneksi ke area yang luas dibutuhkan. Layer 3 switch masih dapat terhubung ke router tersebut untuk belajar meja mereka dan paket rute untuk mereka ketika paket tersebut harus dikirim melalui WAN. Akan aktif akan sangat efektif pada workgroup dan tulang punggung di dalam perusahaan, tetapi kemungkinan besar tidak akan mengganti router di tepi WAN (baca internet dalam banyak kasus). Router melakukan berbagai fungsi lainnya seperti penyaringan dengan daftar akses, antar Autonomous System (AS) dengan protokol routing seperti Border Gateway Protocol (BGP), dan seterusnya. Beberapa Layer 3 switch sepenuhnya dapat menggantikan kebutuhan penerus jika mereka dapat memberikan semua fungsi ini (lihat Gambar 2). 
Referensi 
[1 Jaringan Komputer], 3rd Edition, Andrew S. Tanenbaum, ISBN 0-13 - 349945-6, Prentice-Hall, 1996. 
[2] Interkoneksi: Jembatan dan Routers, Radia Perlman, ISBN 0-201 - 56332-0, Addison-Wesley, 1992. 
[3] "Jembatan MAC," ISO / IEC 10038, ANSI / IEEE Standar 802,1 D-1993. 
[4] "Draf Standar untuk Virtual Bridged Jaringan Area Lokal," IEEE P802.1Q/D6, Mei 1997. 
[5] "Protokol Internet," Jon Postel, RFC 791, 1981. 
[6] "Persyaratan untuk Versi 4 IP Router," Fred Baker, RFC 1812, Juni 1995. 
[7] "LAN Emulation di atas ATM Versi 1.0," af-jalur-0.021,000, ATM Forum, Januari 1995. 
[8] "Multiprotocol atas ATM (MPOA) Specication Versi 1.0" af-mpoa-0.087,000, ATM Forum, Juli 1997. 
SRIDHAR THAYUMANAVAN adalah Direktur Teknik di Perangkat Lunak Komunikasi Masa Depan di Santa Clara, CA. Dia menerima gelar BE dalam Elektronika dan Komunikasi Teknik dari Fakultas Teknik, Guindy, Anna University, Madras, India, gelar Master of Science di bidang Teknik Elektro dan Komputer dari University of Texas di Austin. Dia dapat dihubungi di sridhar@futsoft.com

Pages